Senin, 26 Aug 2019
radarjombang
icon featured
Hukum

Dominasi Asusila, Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Masih Tinggi

17 Januari 2019, 17: 06: 22 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Salah satu tersangka kasus pencabulan yang ditangkap Polres Jombang

Salah satu tersangka kasus pencabulan yang ditangkap Polres Jombang (M.Nasikhuddin/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masuk unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jombang, ternyata masih tinggi. Meski terjadi penurunan, namun ada kenaikan terhadap kasus jenis pencabulan, persetubuhan, dan KDRT.

“Kalau jumlah kasus yang kita tangani menurun, tapi beberapa kasus grafiknya naik,” Terang Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Azi Pratas Guspitu melalui Kanit PPA Polres Jombang Iptu Dwi Retno Suharti. Sepanjang 2017, angka kasus keseluruhan mencapai 137.

Rinciannya, persetubuhan 22 kasus, pencabulan 19 kasus, penganiayaan 21 kasus, membawa lari 5 kasus, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) 26 kasus, curat (pencurian dengan pemberatan) 10 kasus, curas (pencurian dengan kekerasan) 3 kasus, curanmor 4 kasus, anak hilang 12 kasus, perzinaan 1 kasus, mucikari 3 kasus, perkosaan 2 kasus, pencemaran nama baik 1 kasus, merusak kesopanan 1 kasus, penadah 1 kasus, percobaan pembunuhan 1 kasus, perzinaan 1 kasus, merusak kesopanan 1 kasus dan perjudian 1 kasus.

“Total 2017 kita menangani 137 kasus melibatkan anak dan perempuan,” bebernya. Sementara di tahun 2018, lanjut Retno, angka kasus yang ditangani PPA sejumlah 129 kasus.

Rinciannya, persetubuhan 25 kasus, pencabulan 33 kasus, penganiayaan 15 kasus, membawa lari 3 kasus, KDRT 32 kasus, curat 2 kasus, curas 3 kasus, anak hilang 4 kasus, perzinaan 2 kasus, mucikari 3 kasus, perkosaan 1 kasus, intimidasi terhadap anak 1 kasus, mengintip orang mandi 1 kasus, pengancaman 2 kasus, membuang bayi 1 kasus, dan memberi keterangan palsu 1 kasus.

“Sebagian masih dalam proses penyidikan, sebagian besar sudah disidangkan,” bebernya. Disinggung masih tingginya angka kasus pencabulan, persetubuhan dan KDRT ini ia menyebut ada beberapa faktor.

“Dari keterangan pelaku pencabulan kebanyakan faktor yang melatarbelakangi dari medsos. Adapun kasus KDRT rata-rata pemicunya dugaan perselingkuhan, beberapa juga dilatar belakangi faktor ekonomi,” jelasnya.

Melihat tren kasus kekerasan terhadap anak yang masih tinggi itulah dia mendorong peran aktif orang tua dan sekolah agar meningkatkan pengawasan. “Sebab beberapa kejadian kekerasan dialami siswa justru di lingkungan sekolah,” terangnya.

Adapun terkait pencegahan angka kekerasan dalam rumah tangga, salah satunya peran lembaga penggiat perempuan serta peran dinas terkait sangat diperlukan. “Peran dinas dan lembaga-lembaga perempuan penting untuk digalakkan,” pungkas Retno. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia