Minggu, 19 May 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Cacing Tanah Hasil Budidaya Sukartono Diekspor untuk Bahan Kosmetik

16 Januari 2019, 08: 25: 01 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sukartono saat membersihkan sisa-sisa makanan yang berada di kandang cacing miliknya.

Sukartono saat membersihkan sisa-sisa makanan yang berada di kandang cacing miliknya. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Setahun menggeluti budidaya cacing tanah jenis lumbricus rubellus atau cacing ekor kuning, Sukartono mulai perlahan paham bagaimana meraup untung dari budidaya hewan menggeliat tersebut. Dalam setiap panen, Sukartono bisa mendapat hampir dua kuintal cacing siap jual.

Setiap pagi, Sukartono harus bangun lebih awal untuk memeriksa tempat pembudidayaan cacingnya. Sebab, musim hujan seperti ini serangan katak cukup meresahkan. Apalagi, jika kondisi tanah sekitar agak becek, biasanya katak mencari tempat yang agak lembab salah satunya beberapa petak rumah cacing.

”Jadi hamanya budidaya cacing memang katak, tikus dan ayam,” ujar dia Senin (15/1). Meski demikian, hal tersebut dapat diatasi Sukartono dengan cepat. Misalnya, untuk mengantisipasi serangan katak, maka dia harus sering sering memantau tempat penangkaran cacing. Jika ada katak mendekat, dia tinggal mengambil dan membuang jauh-jauh.

”Kalau tikus memang ada, tapi tidak banyak,” tambah bapak tiga anak tersebut. Sedangkan, untuk mengatasi hama ayam cukup dijaga agar ayam tidak sampai mendekat. ”Kalau ayam kan gampang, cukup dijaga saja,” papar dia. Sukartono menjelaskan, membudidayakan cacing tanah susah-susah gampang. Asal jeli dan sering memperhatikan kelembaban tanah maka cacing akan cepat tumbuh membesar dan bisa dipanen.

”Harus lembab dan dijauhkan dari sinar matahari. Sebab kalau cacing kepanasan ukuran tubuhnya akan menyusut dan akhirnya dimakan cacing lain,” papar dia. Untuk itu, dalam setiap tempat penangkaran cacing, Sukartono mendirikan tenda seadanya. Beberapa tempat juga dibuat di bawah pohon yang rindang. ”Intinya jangan sampai tanah itu kering atau panas,” papar dia.

Dalam sekali panen, biasanya Sukartno bisa memperoleh hampir dua kuintal. Itu tergolong dari cacing yang berukuran agak besar sekitar 10-14 cm. Biasanya, pembeli/pengepul langsung mengambil sebulan sekali untuk dibawa ke Malang. ”Pengepul pusatnya di Malang, di sana bagian menyortir sebelum di kirim keluar negeri,” papar dia.

Sekilo cacing tanah siap jual, biasanya dihargai Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu dari pengepul. Jika jumlah cacing yang dipanen banyak maka omzet yang didapat juga banyak. ”Kalau saya jualnya 25 ribuan, kadang turun 20 ribu,” jelas dia.

Cacing tanah asal Eropa ini, biasanya digunakan untuk bahan pembuatan kosmetik. Juga dipakai untuk obat tradisional. ”Kalau cacing ini kan diekspor, katanya untuk bahan pembuatan kosmetik pemutih wajah,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia