Minggu, 20 Oct 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Proyek PISEW di Desa Karangwinongan Dinilai Kurang Transparan

14 Januari 2019, 11: 24: 01 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Jembatan milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dari program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW)

Jembatan milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dari program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) (M.Nasikhuddin/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Pembangunan jembatan milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dari program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) 2018 senilai Rp 325 juta terus menuai sorotan warga Desa Karangwinongan, Kecamatan Mojoagung. Salah satunya terkait transparansi dan minimnya sosialisasi program.

”Selama ini sosialisasinya minim sekali ke warga, itu proyek dari mana, anggarannya berapa warga tidak diberikan sosialisasi utuh, hanya dengar-dengar itu bantuan dari pusat, itu saja,” ungkap B (inisial), salah satu warga.

Selain minim sosialisasi, juga banyak kejanggalan dalam pelaksanaan proyek yang dikerjakan badan kerjasama antar desa (BKAD) Desa Karangwinongan tersebut. Salah satunya dari dokumen perencanaan proyek. ”Waktu itu saya komplain terkait pembatas dan bantalan pengait jembatan kok tidak ada, hanya dijawab gambarnya seperti itu,” ujar sumber.

Merasa janggal, warga pun pernah meminta pihak pelaksana menunjukkan dokumen RAB (rencana anggaran biaya). ”Saya minta dilihatkan dokumen RAB, tidak diperbolehkan,” imbuhnya.

Belum mau menyerah, warga pun terus melancarkan protes, lantaran tidak setuju dengan konsep bangunan jembatan yang baru saja selesai dibangun. ”Baru, setelah itu ditambahkan besi pembatas di masing-masing sisinya. Sebab kalau tidak ditambahi pembatasnya, berbahaya, sebab banyak anak kecil juga lewat,” katanya.

Selain itu pengerjaan bantalan/pengait jembatan dengan pondasi, juga baru dikerjakan setelah ada komplain warga dan juga hasil survei petugas. ”Jadi sebelumnya hanya kontruksi jembatan hanya ditaruh di atas, tidak dikunci dengan bantalan. Barulah setelahnya sebagian kontruksi jembatan dibongkar untuk memasang titik-titik bantalan. Ada delapan titik kalau tidak salah,” terangnya.

Salah satu kejanggalan lainnya, pemasangan konsep tali seling jembatan. ”Harusnya menggunakan tali seling mas, sementara ini menggunakan batang besi, yang aneh juga sisi baratnya hanya ditempelkan di parapet, padahal kan dua proyek yang berbeda. Sementara sisi timur dibuatkan tiang pancang, itupun menurut saya terlalu pendek,” tambah sumber.

Tak luput dari sorotan warga, kaitannya pembangunan jalan akses masuk ke jembatan, yang sampai sekarang belum ada kejelasan, meski kabarnya pemerintah desa menyanggupi akan segera dikerjakan.

”Saya malah belum tahu kalau mau ada pengerjaan akses jalan ke jembatan. Sebab, sebelumnya pernah disampaikan untuk jalan ke jembatan itu nanti dari warga sendiri yang membangun,” pungkasnya.

Pantauan di lokasi, hingga Minggu (13/1) kemarin belum ada tanda-tanda dimulai pengerjaan jalan akses masuk ke jembatan. Nampak di dua sisi turunan jembatan permukaannya belum merata. Sehingga belum bisa dilintasi kendaraan, lebih-lebih turunan di sisi Dusun Winong Barat terdapat kubangan cukup dalam. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia