Rabu, 20 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Desa Gedangan Mojowarno; Kampung Genting, Eksis Sejak 50 Tahun Lalu

09 Januari 2019, 19: 46: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Proses penjemuran genting yang dilakukan pengrajin di Desa Gedangan

Proses penjemuran genting yang dilakukan pengrajin di Desa Gedangan (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno hingga kini masih jadi salah satu desa penghasil genting terbesar di Jombang sejak lebih dari 50 tahun lalu. Awalnya, genting-genting ini diproduksi dalam skala rumahan saja.

Seperti yang terlihat di salah satu pabrik milik Lilik Chumaidah, 43 ini. Proses pembuatan genting di bengkel miliknya memang terhitung masih berskala rumahan, layaknya banyak produksi genting di sekitar rumahnya. Karyawannya pun hanya satu orang saja.

Meski hanya mengandalkan seorang pekerja saja, pabrik kecilnya ini tehitung cukup produktif, 400 buah genting bisa dihasilkannya dari sehari berproduksi.

“Jadi memang tidak ada yang pabrik besar begitu, sistemnya di rumah-rumah tapi merknya berbeda-beda dan masing-masing rumah ini punya bos dan pengepul sendiri biasanya,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang (3/11).

Proses pembuatan genting jenis mantili miliknya ini, dimulai dari pengadukan tanah. Lilik memang biasanya mendatangkan tanah dari luar desanya. “Butuhnya tanah sawah sama tanah uruk, ya memang harus mendatangkan,” ucapnya.

Tanah yang sudah siap, kemudian digiling, prosesnya pun tak bisa dilakukan sembarangan. Perlu mesin yang sangat pas dengan campuran adonan yang juga tak asal untuk menghasilkan genting yang bagus dan tak mudah retak saat dijemur.

“Untuk mesinnya kita biasa sewa. Satu gilingan begitu biasanya buat produksi sebulan penuh,” lanjutnya. Usai digiling, tanah yang telah berbentuk adonan ini kemudian dikumpulkan dalam bengkal untuk dilakukan pengepresan. Sebelum itu, tanah terlebih dulu harus diolesi solar atau minyak lainnya.

Solar dalam proses pengepresan sangat penting, karena selain menjaga adonan tanah tidak lengket dengan alat press, tampilan genting juga akan terlihat lebih segar nantinya.

Setelah dipress, adonan biasanya akan langsung berbentuk genting jadi namun teksturnya masih lembek dan basah. Karena ini tahapan pengeringan akan dimulai, butuh waktu hingga 20 hari, sebelum genting-genting ini bisa kering sempurna.

“Bahkan kalau musim hujan bisa sampai sebulan penuh, baru bisa dibakar nanti,” imbuhnya. Untuk satu kali pembakaran, ia menyebut biasannya  minimal telah mencapai 6.000 buah genting, agar ongkos produksi bisa ditekan.

Setelah matang, genting-genting ini akan disetor ke pengepul sesuai dengan permintaan dengan harga Rp 800 ribu per seribu genting. “Nanti untuk penjualannya ya kemana-mana, biasanya ada yang mengambil langsung ke sini, ada juga yang bos itu kirim ke luar kota juga,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia