Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Investigasi DLH Jombang, Busa di Sungai dari Pabrik Pengolahan Plastik

09 Januari 2019, 10: 49: 34 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Investigasi yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang terkait heboh busa di sungai Desa Jatipelem dan Desa Brambang

Investigasi yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang terkait heboh busa di sungai Desa Jatipelem dan Desa Brambang (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Tak butuh waktu lama, investigasi yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang terkait heboh busa di sungai Desa Jatipelem dan Desa Brambang, Kecamatan Diwek, memperoleh hasil.

Dipastikan jika sungai yang berbusa itu muncul akibat kelalaian pengolahan plastik di Desa Godong, Kecamatan Gudo. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH ) Jombang Yudhi Adrianto kepada Jawa Pos Radar Jombang (8/1).

Dari investigasi, pihaknya menemukan jika busa yang menumpuk tersebut adalah buah dari kelalaian industri plastik.

“Kita tadi sudah menerjunkan tim dari lab juga dan ditemukan ternyata busa ini dihasilkan salah satu pabrik pengolahan plastik berinisial CV PK, lokasinya di Desa Godong, Kecamatan Gudo,” terangnya.

Menurut Yudhi, perusahaan ini telah beroperasi sejak 2011 lalu. Bergerak di bidang pengolahan plastik yang bekerjasama dengan salah satu perusahaan sabun ternama. “Jadi dia itu biasa mengambil produk gagal dari Wings untuk kemudian diambil plastiknya dan diolah kembali,” lanjutnya.

Busa ini sendiri, muncul berawal dari penumpukan di gudang pabrik itu yang dilakukan sembarangan. Namun, hujan yang datang tiba-tiba membuat larutan sabun yang masih tertumpuk meluap ke saluran air yang berada tak jauh dari pabrik ini.

“Jadi memang di sana sabunnya menumpuk, dan dia tidak siap waktu hujan datang. Jadi meluber dan menumpuk di Jatipelem itu yang masih satu aliran,” sambungnya.

Terlebih diketahui meski telah beroperasi selama 7 tahun pabrik ini belum juga memiliki IPAL. “Ya, memang belum ada IPALnya, ini yang kemudian jadi lalainya dia sampai mengakibatkan pencemaran,” imbuhnya.

Atas kejadian ini, pihaknya menyebut telah melakukan serangkaian pemeriksaan dan peninjaun terhadap dokumen yang dimiliki perusahaan. Hasilnya, Yudhi menyebut Pemkab Jombang bakal memberikan sanksi berat  kepada CV PK. “Sanksinya kita langsung meloncat dua,  kita langsung berikan dia sanksi paksaan untuk berhenti sampai dia punya IPAL,” sambung Yudhi.

Selain itu pihak perusahaan juga dibebankan pembersihan jalur air dari material sabun yang telah mencemari avur tersebut. “Ya, selain kita berharap gelontoran air tidak berhenti dulu, pihak perusahaan juga harus membersihkan meterial sabun itu, dia harus bertanggung jawab pokoknya,” lanjutnya.

Sedangkan saat ditanya perihal upaya hukum yang bakal dilakukan pihaknya, dirinya menyebut masih akan mempelajari kembali. “Ya kita lihat perkembangannya nanti, yang jelas setelah ini akan ada pengawasan khusus di sana,”  pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia