Minggu, 24 Mar 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Wayang Topeng Jatiduwur; Terawat Hingga Generasi Ketujuh

08 Januari 2019, 20: 01: 56 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pertunjukan wayang Topeng Jatiduwur berupa pementasan wayang orang dengan menggunakan topeng sebagai media pengenalan karakternya

Pertunjukan wayang Topeng Jatiduwur berupa pementasan wayang orang dengan menggunakan topeng sebagai media pengenalan karakternya (Achmad Riza Wad’ullah/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Kabupaten Jombang tak hanya identik dengan Ludruk dan Tari Remo. Sebuah kesenian wayang topeng bercerita panji juga dimilik Jombang. Dikenal Wayang Topeng Jatiduwur, hingga kini masih terawatt sampai generasi ke tujuh.

Pertunjukan wayang Topeng Jatiduwur berupa pementasan wayang orang dengan menggunakan topeng sebagai media pengenalan karakternya. Nama Jatiduwur dipakai karena wayang ini pertama kali dipentaskan dan bertahan di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.

Konsep pertujukan wayang ini juga berlangsung layaknya pementasan wayang. Dimana semua pertunjukan yang berjalan dilakukan seorang dalang. Meski semua lakon wayang diperagakan manusia dengan menggunakan topeng berkarakter masing-masing, semua gerakan dan dialog wayang sspenuhnya dilantunkan sang dalang seperti wayang orang.

Wayang ini, merupakan wayang yang diyakini diciptakan langsung Ki Purwo, salah satu tokoh warga Jatiduwur yang memang juga  dalang pertama Wayang Topeng Jatiduwur. Berkembang sejak era Kerajaan Majapahit, wayang ini kemudian terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Hingga kini, wayang ini disimpan rapat dalam sebuah kotak yang disakralkan di rumah Sumarmi, keturunan ke empat dari Ki Purwo, namun pengelolaan dilakukan Sulastri Widianti, anak dari Sumarmi.

“Kalau tempatnya masih di rumah ibu, ya tetap dirawat seperti dulu, masih ada ubo rampe-nya juga, karena kan memang sakral. Sebelumnya sempat berpindah juga ke rumah keluarga lain, dari keluarga dalang, keponakan hingga akhirnya ke ibu itu,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Ya, topeng-topeng yang berjumlah 33 karakter itu memang terhitung topeng yang disakralkan dan dianggap memiliki kekuatan magis. Mulai dikisahkan seringkali kembali ke rumah asal, saat tak kerasan di rumah perawat baru hingga dianggap bisa menyembuhkan penyakit.

“Terlebih untuk topeng Klono itu, memang seringkali diminta orang untuk mengobati, ya percaya tidak percaya memang,” sambungnya. Karena itu, perawatan topeng memang tak bisa dilakukan sembarangan. Tiap kali usai pementasan, topeng-topeng ini biasanya dimasukkan ke dalam pembungkus sebelum ditempatkan dalam sebuah kotak yang disimpan khusus di salah satu kamar rumah Sumarmi.

Tentunya juga lengkap dengan sesajen yang ada di bawahnya. Untuk membukanya juga diperlukan ritual khusus. “Sehingga kalaupun latihan biasanya ya tidak dipakai topengnya, jadi latihannya tanpa topeng, nanti kalau pertunjukan baru dipakai, karena tidak bisa sembarangan mengeluarkan topengnya,” lanjutnya.

Tak saja topeng, untuk penampilan setiap kali pementasan, wayang ini juga punya ritual khusus. Yakni pementasan Tari Klono di awal pertunjukannya. Tarian ini berupa tarian tanpa dialog yang dilakukan tokoh sentral dengan memakai topeng Klono yang berwarna hitam dengan lukisan garang.

“Kalau dulu pemain Klono ya Ki Purwo sendiri, setelah itu biasanya dilakukan dalang atau pemain panjinya,” imbuh Lastri, sapaan akrabnya. Baru setelah prosesi tari klono rampung, pertunjukan selanjutnya diisi dengan sejumlah tari pendukung lain seperti Tari Bapang hingga lakon utama.

Kemudian ditutup dengan prosesi kenduren dan penarikan ketupat atau disebut mbatek kupat sebagai simbol pelepasan nadzar sang empunya hajat. “Maklum, pertunjukan wayang topeng ini kan dulunya memang dilakukan untuk penebusan nadzarnya orang-orang itu,” sebutnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia