Rabu, 13 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Cor Kuningan Mojotrisno; Usaha Turun Temurun Sejak 1980

08 Januari 2019, 19: 14: 47 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Proses produksi kerajinan sor kuningan

Proses produksi kerajinan sor kuningan (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Siapa yang tak kenal dengan kerajinan cor kuningan di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Ya, kerajinan yang berbahan dasar dari kuningan itu selain sangat dikenal  di dalam negeri juga ke luar negeri.

Tepatnya di Dusun Sanan Selatan, tempat dimana para perajin membuat karya seni patung dari kuningan. Hampir seluruh warga dusun setempat membuat kerajinan itu. Maka jangan heran, jika bertandang ke Dusun Sanan Selatan akan dijamu dengan banyaknya patung yang dipajang di depan rumah.

Salah satunya milik  Nirwan Yusuf (almarhum) yang kini usahanya diteruskan Agus Purnomo. Belum masuk ke rumahnya, patung hewan hingga patung Buddha sudah lebih dahulu menyambut.

Agus menuturkan, kerajinan cor kuningan memang sudah ada sejak embah-embah-nya dulu. “Dari 1980-an sudah ada,” kata Agus. Beragam hasil karya putera daerah ini dihasilkan. Sembari memperlihatkan patung-patung itu, dia menyebutkan diantaranya patung realis hingga abstrak.

“Kalau dulu 1980-an itu masih biasa-biasa saja. paling banyak patung realis. Sekitar 1990-an itu mulai patung-patung abstrak,” kata lelaki usia 47 tahun ini.

Dia kemudian menceritakan, sebelum pangsaa pasar hingga mancanegara, para perajin dibuat jatuh bangun menjajakan cor kuningan yang dihasilkan. Mulai dari Bali, Jogjakarta hingga Jakarta. Deretan kota yang pernah disinggahi para perajin. Paling banter dan sampai sekarang yang masih bertahan yakni di Bali.

“1980-an memang begitu, di situ perajin masih terbatas. Artinya masih orang-orang lama. Baru kemudian 1990-an pemasaran sampai ke luar negeri,” papar dia. Karena pemasaran sudah merambah ke luar negeri, maka para perajin pun harus berinovasi membuat patung dengan bentuk terbaru.

“Harus punya desain baru supaya pelanggan tidak jenuh. Peralihan 1990 ke 2000-an muncul patung abstrak, seperti bentuk balerina, patung klasik yang dikombinasikan dengan asbtrak atau patung tempo dulu yang diperbaiki, patung gaya Eropa. Pokoknya apa yang sekiranya pasar menerima produk-produk kita,” beber Agus.

Dari banyaknya perajin yang ada di dusun setempat, kata Agus patung yang dihasilkan juga tidak sama. Masing-masing perajin biasanya punya desain yang diunggulkan. Misalnya bentuk hewan atau patung Hindu dan Buddha.

“Menjaga kerja sama antar perajin yang menjadikan perbedaan itu. Jadi kita saling koordinasi dengan perajin lain, kalau ada pemesan bentuk patung ini misalkan kita tidak bisa, maka kita hubungi pegrajin lain, dan begitu sebaliknya,” ungkap Agus.

Selain  patung,  para perajin juga  membuat beragam hasil karya lainnya. “Seperti suvenir, gantungan kunci dan sebagainya. Tapi yang diunggulkan sampai sekarang ya patung seperti ini,” pungkas Agus. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia