Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Tanaman Padi Diserang Burung Emprit, Petani Berjaga Sampai Petang

08 Januari 2019, 10: 23: 35 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petani menunjukkan burung emprit yang tersangkut di jaring

Petani menunjukkan burung emprit yang tersangkut di jaring (Azmy Endiyana/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Serangan burung emprit mulai menyerang mulai dikeluhkan petani di Dusun Sembung, Desa Bangsri, Kecamatan Plandaan. Khawatir mengurangi hasil panen padi, para petani ada yang memasang jaring dan berjaga hingga sore.

Pagi kemarin, sejumlah petani di Dusun Sembung, Desa Bangsri, Kecamatan Plandaan tengah sibuk mengambil burung emprit yang terjebak dijaring. Ya, hamparan jaring itu  memang sengaja dipasang petani untuk melindungi padi yang mulai menguning dari serangan burung emprit.

Sukamad, satu seorang petani mengaku, sangat resah dengan keberadaan burung emprit yang jumlahnya sudah ribuan itu. Menurutnya, burung emprit yang ‘apes’ kakinya bisa kecantol dan ‘kebulet’ senar jaring. Burung yang terjebak, diambil dan  dimasukkan ke dalam sangkar.

”Sejak bulan Desember kemarin sawah di daerah sini sudah diserang burung emprit,” ujarnya sembari mengambil burung.

Bahkan, akibat serangan burung emprit tersebut, para petani terancam panennya berkurang. Berbagai upaya petani telah dilakukan, hanya saja serangan burung tersebut tetap tak bisa dibendung.

”Meski sudah ada jaring, burung emprit ini selalu menyerang,” ungkapnya. Saking banyaknya burung emprit di daerahnya tersebut. Setiap hari bisa memperoleh 80-100 ekor burung. Kemudian burung-burung tersebut dikasihkan tetangga atau yang mau untuk memasaknya.

”Sangat banyak sekali sampai-sampai saya bagikan ke tetangga untuk dimasak,” katanya. Akibat serangan burung tersebut, dirinya harus ekstra menunggu padinya hingga petang. Pasalnya, apabila dibiarkan begitu saja, dapat dipastikan pada saat panen nantinya dirinya tidak akan mendapatkan hasil maksimal.

”Petani juga menangis kalau diserang burung emprit karena padi nanti tinggal gabuknya saja,” tuturnya.

Terlebih lagi, kalau tidak ada penanganan serius, maka akan semakin sulit untuk dikendalikan. Ini dikarenakan burung emprit sangat mudah untuk berkembang biak, sehingga populasinya semakin banyak.

Selain memasang jaring dan menunggu sampai petang, dirinya juga sudah melaporkan serangan burung emprit tersebut ke Dinas Pertanian. Hanya saja, hingga saat ini masih belum ada penanganan dari pemerintah.

”Saya sudah laporan ke Dinas Pertanian, akan tetapi katanya memang bukan hama. Tapi kami berharap pemerintah juga turun tangan untuk mengatasi permasalahan ini,” pungkasnya.

Sementara dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Hadi Purwantoro mengatakan, burung emprit itu memang memakan padi, akan tetapi dalam aturan Kementerian Pertanian, burung emprit bukan termasuk hama. ”Ini yang agak repot sebenarnya karena burung tersebut bukan hama,” ujarnya saat dikonfirmasi kemarin.

Bahkan lanjut Hadi, dalam asuransi pertanian pun, apabila sawah petani yang terserang burung emprit tidak bisa diklaimkan ke dalam asuransi. ”Jadi itu juga tidak bisa diklaimkan, karena memang bukan hama,” bebernya.

Dirinya menambahkan, biasanya sawah yang paling sering terkena burung emprit tersebut, lantaran masa tanamnya mendahuli yang lain. Sehingga, sawah tersebut sangat rawan terserang burung emprit. Selain itu, seringkali sawah terserang burung emprit lantaran berdekatan dengan kebun bambu (barongan).

Untuk itu, masih Hadi, dirinya juga sudah seringkali melakukan sosialisasi kepada petani, minimal dalam satu blok area persawahan harus serentak. Sehingga, itu bisa meminimalisir serangan burung emprit. ”Biasanya untuk mengatasi serangan burung para petani memasang jaring atau diobyak,” pungkas Hadi. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia