Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Serangan Ulat Daun di Musim Hujan, Harga Jual Kembang Kol Turun

05 Januari 2019, 11: 35: 40 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petani kembang kol saat memeriksa bunga kol yang hendak dipanen kemarin.

Petani kembang kol saat memeriksa bunga kol yang hendak dipanen kemarin. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Sebagian besar petani memang mengganggap musim hujan sebagai berkah. Namun tidak dengan petani kembang kol. Memasuki musim penghujan mereka harus bersiap ekstra mengantisipasi serangan hama ulat daun. Bila tidak, hasil panen bakal turun drastis.

Cuaca pagi kemarin (4/1) tampak sedikit mendung. Mahmudi dan dua pekerjanya tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa di sawahnya Desa Kedawong, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Satu pekerja sedang menyemprot obat cair ke bagian tanaman kol yang belum berbunga. Satu pekerja lagi, mengairi sawah yang menggunakan mesin desel.

Ya, Mahmudi adalah salah satu petani kembang kol yang sedang bersiap panen. Sayangnya, hasil panen kali ini diperkirakan tak sebagus tahun kemarin. Sebab, beberapa kali ia melihat tanaman kol miliknya digerogoti ulat daun. ”Ulat daun memang jadi kendala. Apalagi musim musim hujan seperti ini,’’ terang dia.

Biasanya, ulat daun menyerang pucuk daun yang masih muda. Dalam waktu cepat ulat akan menyebar dan berkembang biak hingga memakan kembang kol siap panen. ”Untuk itu, kami selalu waspada, tepatnya usai hujan,’’ tambahnya. Biasanya, setelah kebun diguyur hujan, penyebaran ulat akan semakin cepat.

Setelah itu dia langsung menyemprot tanaman dengan obat cair pembasmi hama. ”Jika tidak disemprot ulatnya cepat menyebar,’’ jelasnya. Menurut dia, obat pembasmi hama diakui cukup efektif membasmi hama yang ukurannya sebesar bulir padi itu. Meski begitu, daun kembang kol yang dimakan hama akan berlubang dan mengering.

”Daun kering tidak masalah, asalkan kembang kol tidak dimakan ulat,’’ papar dia. Selain resah dengan serangan hama ulat, Mahmudi juga mengaku harga jual kembang kol menurun drastis. Beberapa minggu lalu, harga kembang kol perkilogram Rp 6 ribu. Kini hanya Rp 3 ribu saja.

”Memang akhir-akhir ini anjlok, menurun banyak, sekitar 50 persen dari harga kemarin,’’ jelasnya. Kendati harga turun, dia mengaku tidak rugi karena perawatan tanaman kol tidak memerlukan biaya banyak. ”Asalkan masih di atas Rp 2.000 kami tidak merugi. Tapi kalau dikatakan naik juga ya tidak,’’ beber dia.

Penurunan harga jual kembang kol di pasar, lanjutnya, karena pengaruh permintaan dan stok barang yang terbatas. Pada musim tertentu, harga kembang kol memang cukup tinggi, perkilogram bisa mencapai Rp 8 ribu. ”Memang fluktuatif, kadang naik kadang turun,’’ pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia