Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Antisipasi Teror ‘Babi Ngepet’, Warga Perketat Pintu Masuk dan Keluar

04 Januari 2019, 10: 19: 57 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Suasana perumahan warga yang akhir-akhir berubah menjadi sepi akibat terror ‘babi ngepet’.

Suasana perumahan warga yang akhir-akhir berubah menjadi sepi akibat terror ‘babi ngepet’. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG -  Kasus pencurian sejumlah uang dan barang di  empat perumahan di Desa Tambakrejo dan Plosogeneng terus bergulir. Umar Said, Ketua RW 9 Perumahan Tambakrejo Asri, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, menyebut, sampai sekarang pihaknya masih terus berusaha menutup celah masuknya orang asing di perumahannya dengan cara menutup akses ketika malam.

Ditemui di rumahnya, Umar menyebut pencurian yang menghebohkan lingkungannya itu memang cukup meresahkan, bahkan hingga seminggu terakhir. Terlebih kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi di wilayahnya

“Baru pertama kali ini, kalau mungkin biasanya pencurian burung dan kejadiannya siang sudah wajar ya. Ini kan pencurian barang berharga dan uang, kejadiannya malam ,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang (3/1).

Terlebih, pencuri yang nampak dengan tampilan yang cukup aneh dan beroperasi pada rumah-rumah berlantai dua. “Yang disasar rumah yang memiliki dua lantai, jadi kayaknya dia memanjat pada pohon di depan rumah itu dan masuk ke lantai dua. Orangnya ya seperti yang disebut sebelumnya, tidak pakai baju, posturnya kecil seperti usia 20 tahun cuma pakai celana sama bawa tas,” lanjutnya.

Namun, dirinya menyebut meyakini pelaku pencurian ini memang orang yang telah ahli dan spesialis. Terlebih beberapa kesaksian warga yang menyebut adanya suara orang melangkah di atas genteng rumahnya dengan cepat. Bahkan beberapa saksi disebutnya sempat melihat pelaku dapat melompati pagar dengan sangat mudah saat lari.

“Ya memang orang saya kira, cuma mungkin karena tidak terungkap dan aneh makanya disebut “babi ngepet” itu. Di salah satu rumah bahkan ada upaya pencongkelan kok, obeng kecilnya malah sempat ketinggalan karena ketahuan pemilik rumah saat belum sempat mencuri,” tambah pria 46 tahun ini.

Hingga kini, selain upaya siskamling swakarsa, pihaknya juga menyebut mulai akan menutup jalur-jalur pintu masuk keluar yang selama ini terbuka lebar. Khususnya ketika malam. “Kita sadar memang mas, perumahan kita ini belum one gate system, banyak jalan untuk masuk selain lewat jalan depan itu. Makanya setelah ini kita sudah dapat izin dari desa untuk bisa menutup akses jalan desa sisi utara saat malam serta beberapa jalan masuk lainnya,” terangnya sembari menyebut akan menambah tenaga pengamanan.

Selain itu, dirinya juga mengharap pihak kepolisian mampu dengan segera mengungkap kasus ini. Terlebih sebelumnya polisi disebutnya juga sudah sempat bertemu langsung dengan beberapa korban.

“Ya tentu, meskipun sampai sekarang mungkin masih belum ada yang melapor, kami berharap polisi bisa minimal mengungkap kasusnya. Terlebih kerugiannya di RW saya saja sudah mencapai lebih dari Rp 100 juta, belum yang di perumahan lain,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia