Senin, 17 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Sistem Ijon Jerat Petani Wonosalam, Kopi Asisah Hanya 30 Ribu Per Kilo

02 Januari 2019, 17: 17: 04 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kopi yang berada di kebun milik warga ini kebanyakan sudah dibeli oleh tengkulak.

Kopi yang berada di kebun milik warga ini kebanyakan sudah dibeli oleh tengkulak. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Pemasaran kopi Wonosalam harus mendapat perhatian dari Pemkab Jombang. Pasalnya, selama ini banyak petani kopi di Wonosalam yang menjual kopi mereka ke tengkulak dengan sistem ijon. Hasilnya, harga kopi dibeli dengan harga yang sangat murah. Per kilogramnya untuk kopi asisah hanya dihargai Rp 29 ribu sampai Rp 31 ribu.

”Jadi hampir sebagian besar petani kopi lokal di Wonosalam menjual kopi mereka dengan sistem ijon ke tengkulak,’’ ujar Endrias Bambang ketua Asosiasi Kopi Wonosalam, kemarin (1/1).

Dijelaskan, sistem ijon merupakan  penjualan hasil tanaman dalam keadaan hijau atau masih belum dipetik dari pohonnya. Itu dilakukan petani kopi Wonosalam sejak bertahun-tahun karena sulitnya pemasaran. ”Jadi mereka memberikan uang ke petani sebelum musim panen,’’ jelas dia.

Harga jual sistem ijon juga sangat murah jika dibandingkan dengan penjualan ke pasaran. Para tengkulak atau pengijon biasanya hanya membeli dengan harga Rp 29 ribu dan paling mahal Rp 31 ribu (jenis kopi asisah). ”Untuk jenis ekselsa (asisah) segitu, bahkan kalau jenis kopi robusta (bestak) lebih murah biasanya Rp 24 hingga Rp 25 ribu,’’ tandasnya.

Berbeda dengan penjualan di tingkat pasaran. Para petani bisa menjual dengan harga Rp 50 - 60 ribu untuk jenis asisah. Untuk jenis robusta dijual dengan harga Rp 40 ribu. ”Kalau di pasaran lebih mahal,’’ tandasnya.

Padahal kualitas kopi Wonosalam sudah diakui  nasional. Khususnya asisah Wonosalam yang sudah sering diikutkan pameran  atau festival kopi di beberapa daerah. ”Kita kesulitan menata petaninya, karena mereka juga lebih butuh uang duluan. Jadi tidak bisa disalahkan tengkulaknya. Namun harus ada kesadaran dari petani sendiri,’’ jelas nya.

Menurutnya,  peran asosiasi kopi Wonosalam dibutuhkan, dirinya menerangkan di Wonosalam ada ratusan petani  dan penjual kopi. Namun baru puluhan orang yang bergabung di asosiasi petani kopi. ”Kita ingin merangkul mereka, kita berikan edukasi, dan harapan kami mereka bisa mengolah dan menjual produk kopi mereka sendiri. Sehingga harga jual kopi bisa terangkat maksimal,’’ jelas dia.

Kini pihaknya mulai mencari data berapa akumulasi jumlah petani, berapa luas lahan dan berapa hasil panen komoditi kopi dalam setahun. Sebab, ada ribuan ton kopi hasil panen yang dibeli tengkulak dengan harga murah. ”Ini yang masih menjadi PR kita, kita pelan-pelan edukasi mereka dan kita ajak bergabung ke asosi petani kopi Wonosalam,’’ pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia