Jumat, 18 Oct 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Bibit Mati dan Harga Pakan Naik, Peternak Lele di Jombang Bangkrut

30 Desember 2018, 04: 00: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Salah satu peternak lele di Desa Jatipelem Kecamatan Diwek

Salah satu peternak lele di Desa Jatipelem Kecamatan Diwek (Ricky Van Zuma/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Banyak wilayah di Jombang yang menjadi sentra budidaya ikan lele. Salah satunya di Desa Jatipelem Kecamatan Diwek yang terdapat lebih dari 50 peternak. Kini, mereka gulung tikar dan tersisa kurang dari 10 peternak lele yang masih bertahan.

”Saya tidak budidaya lele lagi karena hasilnya jelek, banyak rugi. Ditambah harga pakan yang mahal, ikut dolar naik jadi harga pakan naik,” ujar Dedi Setiawan, salah satu pembudidaya lele yang gulung tikar. Sambil menghela nafas panjang, ia menyebut banyak peternak memilih gulung tikar lantaran berbagai kendala yang dihadapi.

Diantaranya lele yang diserang penyakit, hasil panen anjlok, harga pakan semakin mahal dan maish banyak kendala lain. Tak hanya pakan, harga bibit lele juga naik sehingga ia semakin galau. Meski harga jual lele juga naik namun menurutnya hal itu tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.

”Dulu awal ternak hasilnya bagus, tapi lama kelamaan jadi jelek. Tidak untung malah tekor, mending usaha lainnya. Apalagi pada musim hujan begini banyak lele terkena penyakit,” ucapnya. Kini kolam terpal yang biasa digunakan budidaya lele pun dibiarkan menganggur.

Meski demikian masih ada beberapa pembudidaya lele yang masih bertahan. Diantaranya Masuhat yang tetap konsisten membudidayakan lele hingga sekarang. ”Kendalanya itu bibit mahal dan sulit, musim hujan dan panas bukan kendala untuk saya. Kuncinya itu pada air kolam, kita mengikuti keinginan ikan,” jelasnya.

Menurut dia, air kolam menjadi salah satu penentu keberhasilan panen. ”Asal tidak ada yang bibit yang mati, sebenarnya masih bisa untung. Banyak kendala tapi tiap pembudidaya itu teorinya sendiri-sendiri, kalau membaca dari buku itu kadang tidak cocok untuk diterapkan,” imbuh bapak dua anak ini.

Terkadang ikan lele tidak suka air yang terlalu bening atau keruh, kadang ikan ada yang minta pertengahan tidak bening tidak keruh. ”Karena saya sudah lama ternak lele jadi tahu, ada satu yang mati langsung saya ambil dan ganti air,” lontar pria 51 tahun ini.

Menurutnya saat paling rawan itu saat perpindahan bibit ke kolam lele. Namun jika sudah melewati satu minggu maka hanya perlu mengawasi air saja. Kini, ia memiliki 18 kolam terdiri dari 16 kolam ikan lele dan 2 kolam ikan gurami.

Kolam ikan lele memang lebih banyak sebab bisa dipanen lebih cepat dalam usia tiga bulan. Berbeda dengan gurami panen satu tahun sekali. Usia ikan lele di setiap kolam juga berbeda, bisa panen rutin dua minggu sekali.

Hal itu yang membuatnya bisa bertahan hingga kini dan bisa memutar modal. Kalau pun ada kerugian di satu kolam, saat panen akan tertolong dengan kolam lain saat panen berikutnya.

Untuk satu kali panen ia bisa memperoleh sekitar 1 ton ikan lele dalam satu kolam terpal berukuran panjang 12,5 meter lebar 7,5 meter, dengan kedalaman 1 meter.  Jika sebelumnya ikan lele dikirim hingga Surabaya, kini ikan lele hanya untuk memenuhi pasar lokal Jombang.

Apalagi permintaan ikan lele cukup stabil dan harga jual lele mencapai Rp 16.500 per kilogramnya. Sedangkan harga pakan Rp 10 ribu per kilogramnya. ”Alhamdulillah dua bulan ini tidak ada kenaikan sebab dolar stabil, sebelumnya berkali-kali pakan naik,” pungkas dia. (*)

(jo/ric/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia