Rabu, 26 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Hukum

53 Kasus Asusila di Jombang Selama 2018, 14 Kasus Pelakunya Guru

28 Desember 2018, 10: 27: 26 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Direktur Woman Crisis Center (WCC) Jombang Palupi Pusporini membeberkan data kasus kekerasan perempuan dan anak selama 2018, kemarin.

Direktur Woman Crisis Center (WCC) Jombang Palupi Pusporini membeberkan data kasus kekerasan perempuan dan anak selama 2018, kemarin. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten Jombang selama 2018, terjadi di berbagai latar belakang tempat. Mulai dari lingkungan keluarga, tempat tinggal, bahkan hingga sekolah. Data WCC Jombang dari 53 kasus kekerasan seksual selama 2018, 14 kasus diantaranya melibatkan pendidik sebagai pelakunya.

Kasus lain pelakunya adalah pacar, ayah kandung, sepupu, teman atau kenalan dari media sosial. “Dari kasus kekerasan seksual yang dialami remaja khususnya siswi, banyak kasus dimana modus yang terjadi adalah ancaman pelaku kepada korban. Apalagi posisi pelaku adalah seorang guru,” terang Direktur WCC Jombang Palupi Pusporini.

WCC menganalisis faktor penyebab terbesarnya adalah relasi kuasa yang tak seimbang. Mudahnya sejumlah pendidik memanipulasi emosi hingga memberi intimidasi dan ancaman kepada siswi, seringkali menjadi cara untuk menyalurkan hasrat. Kondisi ini menurutnya diperparah dengan pelayanan yang masih sangat minim kepada korban kekerasan.

“Kita bisa lihat bagaimana ABH (anak berhadapan dengan hukum) misalnya sebagai pelaku mendapat hak yang cenderung lebih baik daripada korban dalam hal pendidikan,” lanjutnya. Menurutnya, ABH bisa dapat fasilitas sekolah dan kejar paket saat lepas dari Lapas. Sedangkan korban, masih seringkali tak digarap dengan baik hanya untuk bisa kembali sekolah.

“Para korban seringkali harus putus sekolah karena menanggung malu, bahkan harus pindah kota tanpa kejelasan pendidikannya. Ini yang kami kira perlu dipikirkan,” imbuhnya. Karena itu, pihaknya berharap ada upaya memberikan akses pendidikan lebih baik dan fokus kepada korban kekerasan, baik formal maupun non formal.

“Kalau perlu mungkin bisa pendidikan gratis luar sekolah misalnya untuk yang korban putus sekolah,” lanjutnya. Selain itu pihaknya juga berharap Pemkab Jombang memberikan fokus lebih banyak lagi terkait pemulihan korban kekerasan secara berkelanjutan. “Baik melalui trauma healing maupun pemberdayaan lainnya,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia