Rabu, 20 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Events

Menyusuri Tempat Wisata Negeri Jiran (4-Habis); Uniknya Pasar Karat

22 Desember 2018, 08: 24: 25 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sejumlah pedagang di Pasar Karat yang menggelar barang dagangan di pinggir jalan.

Sejumlah pedagang di Pasar Karat yang menggelar barang dagangan di pinggir jalan. (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Di Jalan Sultan dan Petaling tidak hanya menawarkan barang baru dan brand terkenal, namun barang bekas. Para pedagang buka hanya di kala pagi hari. Namanya Pasar Karat, lokasinya ada di gang-gang di Jalan Sultan.

Meski namanya Pasar Karat, jangan dibayangkan barang yang dijual pedagang semuanya berkarat. Sebab hampir semua barang yang dijual merupakan barang bekas dan masih bisa dipakai.

Barang yang dijajakan pun tak hanya pakaian, ada aneka macam alat elektronik, uang kertas dan koin lama dari beragam negara, ada juga alat keperluan dapur, batu akik, dan lainnya. ’’Yang penting barang bisa laku kita jual,’’ kata Safiyah salah seorang pedagang.

Terkadang ada pula pedagang yang menjual barang baru. Menurut perempuan berhijab ini, barang yang dijual  memang kebanyakan adalah barang bekas. Mereka mendapatkan barang itu pun dari beberapa kota. ’’Ada pula kita dapat dari luar (Malaysia),’’ imbuh dia.

Beragam barang yang dia jual, pakaian bekas yang didapat kebanyakan sudah ada pemasoknya. Sama halnya di kota-kota lain pada umumnya, pedagang biasanya hanya tinggal mengambil dan menjual kembali. 

Uniknya, pembeli hanya bisa menemui para pedagang kala pagi hari. Pedagang menggelar dagangannya sejak pagi buta hingga menjelang warga setempat mulai beraktivitas atau sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Setelah itu, seluruh pedagang kembali mengemasi dagangannya. ’’Aturannya seperti itu,’’ sambung dia.

Jumlahnya pun sangat banyak, tidak hanya berada di gang Pasar Karat. Sebab pedagang lainnya juga ada yang  menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Tidak seperti pedagang di Jalan Petaling atau China Town yang sudah tersedia lapak.

Rata-rata pedagang barang bekas tidak mempunyai tempat  permanen. Mereka menjual dagangannya dengan tempat seadanya. Ada yang sambil duduk-duduk atau berdiri di pinggir jalan. ’’Yang mau jualan silakan, bisa langsung jualan," tutur dia.

Harga yang ditawar juga bervariatif. Tentunya tergantung kondisi masing-masing barang. Sama halnya dengan pasar pada umunnya, barang yang dijajakan juga bisa ditawar hingga serendah-rendahnya.  

Rata-rata pembeli di pasar karat adalah warga setempat atau sekitaran Kuala Lumpur. Namun,  tak jarang turis Eropa terlihat  melakukan tawar-menawar. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia