Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Produk Kerajinan Kipas Lipat Desa Sentul Tembus Pasar Asia dan Afrika

18 Desember 2018, 10: 15: 14 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Suwandi, 61, warga Desa Sentul, Kecamatan Tembelang, produsen kipas lipat yang mampu ekspor ke luar negeri.

Suwandi, 61, warga Desa Sentul, Kecamatan Tembelang, produsen kipas lipat yang mampu ekspor ke luar negeri. (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Satu lagi,  karya unik dihasilkan dari tangan warga Jombang. Kipas dari kain yang dijuluki sebagai kipas sakti ini dibuat Suwandi, 61, warga Desa Sentul, Kecamatan Tembelang. Penggemar kipasnya hingga luar negeri.

Meski terlihat sepele, ternyata di pasaran kipas ini memiliki daya jual yang cukup tinggi. Bahkan kipas ini tidak lagi dibeli untuk memenuhi kebutuhan, tapi banyak juga yang membeli untuk koleksi karena bentuknya yang unik. 

’’Banyak yang beli bukan hanya untuk kipasan karena udara panas. Tapi karena memang unik,  dijual di wilayah yang cukup dingin, kipas ini tetap laku,” kata Suwandi. Menurut Suwandi, saat ini ia adalah satu-satunya dan yang pertama membuat kipas lipat di Jombang. 

Sejarah pembuatan kipas produksi rumahan ini cukup berliku. Awalnya Suwandi yang  tak memiliki pekerjaan tetap itu prihatin melihat banyaknya kain perca yang dibuang  teman  penjahit. 

Banyaknya kain perca rupanya membuatnya berpikir untuk mengambil peluang usaha dari kain tersebut. Tapi membuat kipas lipat awalnya sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Awalnya ia hanya membuat sarung bantal. Tapi sarung bantal saat itu tidak ramai di pasaran, sehingga ia mencoba inovasi baru dengan membuat tas, dompet dan juga gantungan kunci yang bahan dasarnya juga kain perca. 

Tapi lagi-lagi usaha tersebut hanya laku apa adanya saja, tidak laku keras hingga membuahkan omzet yang cukup tinggi. Akhirnya, ia mendapat ide membuat kipas lipat di awal tahun 2006. 

Awalnya, kipas lipat buatannya tidak begitu ramai di pasaran. Tapi lebih baik dibandingkan tas dan dompet sehingga ia tetap mempertahankannya. Kemudian ia mulai merasakan manisnya buah  usahanya pada 2008. ’’Saya mengikuti banyak pameran yang diadakan pemerintah, akhirnya produk saya semakin dikenal dan mulai banyak pemesan,” tambahnya. 

Masa jayanya saat itu hanya sebatas lapak offline, dikenal melalui pameran dan dari mulut ke mulut. Ia mulai berada di puncak kejayaan saat Gubernur Jatim Soekarwo memesan 5.000 kipas untuk sebuah acara besar. Mulai saat itulah ia kebanjiran order dari banyak tempat. 

Kipas yang sekarang sudah mulai dikenal hingga mancanegara ini awalnya hanya olahan yang serba limbah. Kain perca yang didapatkan dari konveksi, gagang kipas yang terbuat dari botol oli dan diburu dari pengepul rongsokan, serta kawat baja yang dibeli dari limbah kawat  di Surabaya.

Kawat baja dipilih karena lebih lentur dan mudah dibentuk tapi tetap kembali pada bentuk semula. ’’Semua serba limbah pokoknya, dulu botol oli bekas itu diplong sendiri, lalu digunting sendiri pokoknya masih manual semua, tapi sekarang sudah tidak,” ungkap bapak tiga anak ini.

Menurutnya, kualitas dari gagang plastik yang dipesan dari pabrik dengan gagang limbah botol sama saja. Hanya saja limbah botol tidak memiliki banyak warna, paling banyak warna   merah. Sedangkan jika pesan bisa warna apa saja. 

Sementara itu kawat baja jika harus beli di pabrik harus dalam jumlah besar, minimal satu ton. Dan harganya juga tidak murah. Sehingga ia memilih mencari limbah pabrik saja yang ia beli dari pengepul limbah. “Kalau beli limbahnya, harganya murah, dan bisa beli kiloan,” imbuhnya. 

Banyaknya permintaan membuatnya tidak lagi membuat dari barang limbah seadanya. Kain perca yang dari konveksi juga sudah tidak bisa memenuhi jumlah permintaan, sehingga ia membeli perca di toko dan di konveksi besar. Sedangkan gagang dari botol oli juga tidak bisa menutupi jumlah permintaan, sehingga harus beli.

Satu kipas membutuhkan kain satin 25 x 30 centimeter. Kawat baja yang digunakan sepanjang 90 centimeter harus dipipihkan dulu. Meski terlihat sederhana, menurut Suwandi, proses pembuatan kipas ini lumayan rumit. Pemotongan kain harus pas, kadar baja pada kawat harus pas, dan pemasangan juga harus betul, agar saat dilipat  memiliki bentuk yang bagus. 

Dibantu dengan sejumlah karyawan, satu hari, Suwarno bisa membuat minimal 100 kipas. Namun banyaknya kipas yang dibuat disesuaikan dengan jumlah pemesanan. Satu bulan ia bisanya bisa menjual kipas sebanyak 3.000 kipas.

Pembeli kipas paling banyak dari Kalimantan, Jakarta dan Bali. Juga dipesan dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan NTT. Untuk Jombang sendiri pemasarannya  di kawasan wisata religi makam Gus Dur. 

Permintaan juga datang dari luar negeri. Seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Afrika, hingga India. Kipasnya banyak di kenal warga mancanegara dari pameran internasional yang pernah ia ikuti di Jakarta. ’’Sudah banyak yang kenal, kita juga kirim ke beberapa negara. tapi tidak banyak,” tambahnya. 

Pemasarannya kini tidak hanya melalui pameran saja, tapi juga melalui media online, tapi kebanyakan pembeli yang datang adalah pelanggan tetap. 

Harga kipasnya beragam, mulai dari yang paling murah Rp 6 ribu hingga Rp 9 ribu. Rp 6 ribu yang memiliki bentuk standar, tapi jika permintaan ada sablon tulisan, dan sablon wajah atau khusus kampanye, harganya bisa sampai Rp 9 ribu. Tidak hanya dijual dalam bentuk kipas, tak jarang ia mendapatkan banyak pesanan untuk suvenir pernikahan. ’’Kalau suvenir ditambah boks mika harganya bisa sampai Rp 12 ribu, tergantung modelnya juga,’’ ujarnya.  

Satu bulan, ia bisa meraup omzet hingga Rp 18 juta dari penjualan kipas yang dihitung rata-rata Rp 6 ribu per biji. Desember, permintaan sedang tinggi. ’’Desember gedhe-gedhene sumber,” pungkasnya. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia