Senin, 23 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Budidaya Sayuran Hidroponik, Tak Kenal Musim dan Panen Sewaktu-Waktu

17 Desember 2018, 09: 41: 33 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sayuran yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik

Sayuran yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik (AZMY ENDIYANA /JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Budidaya sayuran hidroponik masih sangat jarang ditemukan di Jombang. Butuh ketelatenan dan penguasan metode agar berhasil bertanam sistem hidroponik. Terlebih  saat hujan, harus waspada ulat dan belalang.

Seperti yang terlihat di salah satu rumah minimalis di Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, halamannya dipenuhi beragam tanaman sayuran yang dibudidayakan secara hidrponik. Tanaman tersebut memenuhi lahan belakang rumah yang berukuran kurang lebih 5x5 meter. Ada beragam sayur. Mulai  sawi, kailan, samhing, packcoy, dakota dan bayam merah.

Dilihat kondisinya, bisa dipastikan kondisinya terawat dengan baik. Adi Subiantoro, pemilik rumah, menekuni budi daya sayuran sistem hidroponik ini sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya awal 2015. Dia termotivasi untuk berkebun dengan sistem hidroponik karena lahan perkarangan rumahnya terbatas. ’’Saya sebenarnya sibuk dengan kegiatan proyek, apabila sudah berhenti saya bisa melanjutkan berkebun,’’ tuturnya.

Awalnya, dirinya mencari kesibukan untuk mengisi waktu senggang. Dari sejumlah kegiatan, akhirnya dirinya menjatuhkan pilihan pada kegiatan berkebun secara hidroponik dibantu dan mendapat dukungan dari istrinya Istiqomah.

Selain itu, dirinya tertarik untuk berkebun tanpa media tanah tersebut lantaran tertarik pada temannya yang lebih dulu merintis budi daya hidroponik. Kepada temannya juga dirinya belajar mulai pembibitan sampai perawatan.

Hasilnya sangat mulus, selama ini budi daya secara hidroponik, hasil kebunnya berlimpah. Dia tidak mengalami kesulitan untuk memasarkan beragam sayurannya karena para tetangga berdatangan dan penjualan dengan media sosial.

’’Untuk penjualan kami melalui media sosial untuk harga semua sayur saya hargai 5 ribu per 250 gramnya," katanya.

Selain itu, dari hasil sayurannya, dia mencoba mengembangkan membuka bisnis kuliner mie sayur hidroponik. Sehingga sayurannya semua dari kebun miliknya. ’’Jadi saya juga mencoba membuka warung mie ayam dengan sayuran-sayuran dari kebun saya,’’ ungkapnya.

Adi mengatakan, bertani secara hidroponik sangat mudah. Siapapun bisa melakukannya. Sebab, metode menanam tanpa tanah itu hanya memanfaatkan aliran air dan nutrisi. Perawatannya  berbeda dengan tanaman bermedia tanah yang harus serba ekstra. Perawatan tanaman hidroponik bisa kapan saja. 

Untuk musim penghujan seperti ini musuh utama ulat dan belalang. Karena tanaman ini tidak menggunakan semprot sehingga apabila ada ulat langsung dibuang agar tidak meluas. ’’Jadi harus benar-benar jeli apabila ada ulat ya langsung dibuang. Karena saya tidak melakukan penyemprotan dengan obat hama,’’ tegasnya.

Akan tetapi, keuntungan menaman sayuran dengan hidroponik kapan pun tanpa mengenal musim. Sehingga meski musim penghujan maupun panas tetap bisa panen seperti biasanya. ’’Kalau panen biasanya 28 hari sampai lima minggu sekali, tergantung jenis sayurannya,’’ pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia