Kamis, 21 Feb 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Tak Ada Reklamasi, Pemdes Karangpakis Minta Pengusaha Tanggung Jawab

11 Desember 2018, 15: 44: 18 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kolam bekas aktivitas tambang di Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh, yang sudah ditinggalkan pengusaha

Kolam bekas aktivitas tambang di Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh, yang sudah ditinggalkan pengusaha (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Usai ditemukannya dua jenazah anak laki-laki yag tewas tenggelam di kuari bekas galian C di Desa Karangpakis Kecamatan Kabuh, fakta baru ditemukan. Kuari yang jadi lokasi tewasnya dua siswa SMP tersebut ternyata merupakan bekas galian resmi yang ditinggalkan pemiliknya.

Kemarin (11/12), lokasi tewasnya dua bocah itu terlihat sepi. Garis polisi nampak membentang di pnggir kolam. Menurut warga, garis polisi dipasang usai kejadian tenggelamnya dua bocah hari sebelumnya.

“Ada polisi kemarin, tadi pagi juga sempat ada tapi cuma lewat dan melihat saja. Setelah itu kembali lagi,” ucap Parmo, 35 salah watu warga yang kebetulan lewat.

Menurut ceritanya, kuari memang sering digunakan anak-anak hingga warga setempat untuk memancing. “Bekas galian ini jadi blumbang (kolam). Jumlahnya masih banyak, sering dipakai mandi dan mancing,” terangnya.

Khusus kuari yang merenggut dua nyawa, Parmo menyebut kuari tersebut memang terbentuk dari pengerukan yang sudah ditinggalkan pemiliknya. “Kalau tambangnya mungkin lebih dari satu tahun terakhir, tapi sudah mandek beberapa bulan ini,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Desa Karangpakis Waridi membenarkan jika kuari yang jadi lokasi tenggelam dua anak adalah tambang yang sudah tak lagi beroperasi.

“Sebenarnya ada tiga tambang, tapi hanya CV Jalak yang masih beroperasi. Dua tambang lainnya sudah tidak beroperasi, yaitu CV Amartha dan CV AAK. Yang jadi tempat anak meninggal itu bekas tambangya CV AAK,” terangnya.

Waridi menyebut CV AAK sudah memiliki izin operasional. “Mereka laporan ke kami sebelum mengeruk itu,” imbuhnya. Meski saat ini sudah berhenti operasi, pihaknya mengaku tak menerima pemberitahuan dari pemilik usaha.

“Kami tahunya mereka berhenti April lalu, itu juga tidak pamit atau memberi pemberitahuan. Kami sendiri tidak tahu alasannya apa,” lanjutnya. Padahal CV AAK masih meninggalkan beberapa kuari bekas aktivitas tambang yang cukup dalam.

“Sebenarnya kami kecewa, sudah mengambil tanahnya kok tidak mau menutup (reklamasi) kembali. Sekarang sudah ada korban, kami berharap lubangnya segera ditutup,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia