Rabu, 13 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Melihat Pembudidayaan Kopi Liberika di Desa Panglungan Wonosalam

08 Desember 2018, 10: 02: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Tanaman kopi jenis liberika yang masih tersisa di kebun milik warga Dusun/Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam.

Tanaman kopi jenis liberika yang masih tersisa di kebun milik warga Dusun/Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam. (AnggiFridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

Jombang - Petani kopi di  Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang mulai tertarik untuk mengembangkan lagi kopi varietas liberika. Kopi jenis ini sebenarnya sudah lama dikembangkan, namun tidak begitu diminati karena jarang disukai para penikmat kopi.

Jawa Pos Radar Jombang kemarin mendatangi salah satu kebun kopi di Dusun/DesaPanglungan, Kecamatan Wonosalam. Cuacanya kebetulan cukup teduh, beberapa tanaman kopi mulai dari varietas arabica (asisah), robusta, hingga jenis yang cukup langka, yakni liberika masih terlihat. Kebun ini milik Choirulanwar, 38, salah satu petani ini masih ada beberapa pohon kopi jenis liberika.

Sekilas, pohon ini tak jauh berbeda dengan jenis lain. Namun, jika dilihat dengan seksama, baik ukuran daun maupun buah kopi jauh berbeda. Pertama, ukuran daun kopi jenis liberika ini lebih besar dan tebal dari pada daun jenis asisah dan robusta alias bestak. Lalu, biji kopinya lebih besar dan berat.

”Jadi kopi jenis liberika ini memang sudah langka. Di Wonosalam sendiri hanya ada beberapa wilayah saja, misalnya Panglungan ini,”ujarnya di sela-sela merawat pohon.

Kopi jenis ini, adalah kopi induk andaria sisah atau belum pernah dilakukan kawin silang dengan varietas kopi lainnya. Sehingga baik bentuk tanaman atau pun buah kopi besar-besar.

Pada  beberapa tahun sebelumnya, kopi jenis ini masih begitu mudah dijumpai di beberapa kebun kopi. Namun, seiring berjalannya waktu, kopi ini sangat sulit ditemukan khususnya di Kecamatan Wonosalam. Misalnya di wilayah Desa Wonomerto dan Galengdowo, kopi ini sudah hampir langka. Namun di beberapa wilayah yang lebih tinggi seperti Desa Panglungan dan Carangwulung masih ada beberapa pohon.

”Kopi liberika di kebun ini tinggal beberapa pohon saja, dulu banyak. namun banyak yang ditebang karena tidak laku,”sambung bapak satu anak ini. Dijelaskan, kopi ini sempat hilang dari pasaran karena minim peminat. Alasannya berbeda-beda, misalnya karena harganya yang cukup mahal. Bijinya yang dinilai terlalu besar sehingga berpengaruh pada nilai ekonomis.

”Saat itu harganya anjlok hingga per kilonya hanya Rp 24-26 ribu saja,”beber dia.Namun setelah ada kelompok alias asosiasi petani kopi Wonosalam, kopi jenis ini mulai diminati dan dikenalkan ke beberapa penikmat kopi. Banyak penikmati kopi menilai aroma kopi liberika sangat kuat. Aromanya wangi seperti buah nangka, dan rasanya asam seperti jeruknipis.

”Mulai dikenalnya kopi ini karena beberapa perubahan dalam metode penanaman dan pengolahan. Karena berbeda pengolahan akan menghasilkan rasa yang berbeda,”jelasnnya.

Kopi ini sendiri memiliki berat sekitar9,1 gram berbeda dengan kopi asisah yang hanya memiliki berat 1,6 gram. di tingkat petani kopi, untuk satu kilogram kopi liberika dijual sehargaRp 80 ribu.”Memanglebih mahal dibandingkan dengan kopi asisah yang hanyaRp 50 ribu, dan lebih murah lagi dengan kopi bestak (robusta) yang hanya dihargai RP 40 ribu per kilogram,”tandasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia