Selasa, 11 Dec 2018
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Antisipasi Banjir, Warga Kademangan Buat Panggung di Dalam Rumah

05 Desember 2018, 09: 31: 09 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Panggung yang dibuat warga difungsikan sebagai rak penyimpanan barang ketika banjir

Panggung yang dibuat warga difungsikan sebagai rak penyimpanan barang ketika banjir (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Datangnya musim hujan membuat warga di Dusun Kepunden, Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung harus mempersiapkan diri. Warga membuat panggung tinggi di dalam rumah sebagai tempat mengamankan barang, jika banjir benar-benar datang.

Panggung terbuat dari rangkaian kayu yang ditata sedemikian rupa. “Setiap rumah mesti ada rak,” kata Saban, salah seorang warga Dusun Kepunden. Ia tak menampik banjir memang menjadi langganan di permukiman Dusun Kepunden setiap musim hujan tiba.

“Kalau sekarang masih belum, dibiarkan apa adanya seperti ini. Paling hanya dibersihkan saja,” imbuh kakek usia 65 tahun ini. Panggung yang biasa warga menyebut ­rak-rakan itu menjadi salah satu antisipasi jika terjadi luapan air dari dua sungai, yakni Catakbanteng dan Pancir.

Panggung berada di ruang tamu, tingginya diatas kepala orang dewasa atau sekira dua meter dari lantai rumah. “Padahal rumah ini sudah tinggi,” sambung dia. Menurut Saban, panggung bisa memuat beberapa barang berharga seperti elektronik hingga pakaian.

“Kalau dulu waktu belum buat itu biasanya ada yang hanyut kebawa air. Kalau sekarang bisa diantisipasi, seandainya air naik sampai rumah. Listrik dipadamkan dan barang-barang dinaikkan, biarpun tidak semua tapi masih ada yang aman,” tutur Saban.

Beberapa warga Dusun Kepunden lainnya juga membangun panggung di dalam rumah. Mukhsin, salah satu diantaranya, mengaku sudah membuat panggung itu sejak enam tahun lalu. “Tapi setiap tahun mesti ada yang rusak, kadang jebol, terkadang ganti kayu pokoknya nggak tentu,” sahut Mukhsin.

Tak hanya panggung, menurut lelaki usia 51 tahun ini beberapa warga lainnya juga biasa memanfaatkan atap. “Yang parah biasanya di Kebondalem, terkadang barang-barang itu sampai ditaruh di atas genting. Itu kalau pas banjir dan tidak hujan,” ungkap Mukhsin.

Karena tak ada alat pendeteksi banjir, menurut dia warga berpatokan pada dua sungai. “Jadi kalau Kali Pancir sama Catakbanteng itu sudah penuh, biasanya banjir. Itu baru kita baru naikkan barang-barang, lalu rumah kita tinggal. Kalau Hanya satu sungai yang penuh, Insyallah masih aman,” pungkas dia. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia