Rabu, 20 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Geliat Produksi Telur Puyuh Asin di Desa Gongseng Kecamatan Megaluh

27 November 2018, 14: 24: 44 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Suntirohida, warga Desa Gongseng, Kecamatan Megaluh, yang memproduksi telur puyuh asin

Suntirohida, warga Desa Gongseng, Kecamatan Megaluh, yang memproduksi telur puyuh asin (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Telur asin biasanya identik dengan bahan dasar telur bebek. Namun ditangan Suntirohida, warga Desa Gongseng, Kecamatan Megaluh, telur asin bisa dibuat dari bahan telur puyuh. Tak sedikit food court dan kafe di Jombang yang memesan telur puyuh asin buatan Suntirohida.

Dari rasanya, telur asin puyuh tak jauh berbeda dengan telur asin biasanya. Hanya saja ukurannya lebih kecil dan lebih sulit cara pengasinannya. Karena kulit puyuh tidak setebal telur bebek, sehingga butuh ekstra hati-hati dalam proses pengasinan.

“Kalau di Jombang baru di kafe-kafe, karena harganya memang tidak murah. Berbeda jauh dengan telur puyuh biasa, kalau di luar kota sudah banyak telur asin puyuh,” kata Suntirohida, pemilik usaha telur puyuh asin. Usaha memproduksi telur asin puyuh ini baru dijalani Suntirohida beberapa tahun terakhir.

Awalnya Ida, sapaan akrabnya, hanya membuat satu kilo saja untuk percobaan. Karena sebelumnya ia tak pernah membuat telur asin dari puyuh, hanya dari telur bebek saja. Satu kilogram telur saat itu dibagi menjadi tiga, sebagian diasinkan menggunakan batu-bata bercampur garam.

Sebagian lagi menggunakan garam saja, dan yang terakhir menggunakan air bercampur garam. Dari uji coba pertama, semua berhasil. Rasa asin semua keluar. Hanya ada beberapa kendala, diantaranya kulit yang tipis dan bentuk yang kecil. Asinan menggunakan batu bata juga lebih sulit untuk dicuci.

“Lebih kecil, tidak sama seperti bebek. Kalau bebek di cuci aman-aman saja, kalau ini takut pecah karena kecil sekali,” katanya. Meski hasilnya sama-sama asin, menggunakan air dan garam ternyata memberikan tekstur masir pada telur. Sedangkan pakai batu bata hanya asin biasa saja. Selain itu pakai batu bata proses pengasinannya lebih lama.

Jika menggunakan air campur garam atau garam saja membutuhkan waktu sekitar dua minggu hari menggunakan garam dan batu bata lebih dari dua minggu. “Percobaan awal hanya tujuh hari, karena kurang mantab percobaan kedua kita sembilan hari. Kurang puas lagi sekarang sekali ngasin sekitar dua minggu,” tambahnya.

Satu kali proses pengasinan, Ida merendam 600 butir telur puyuh sekaligus dalam sebuah toples besar. Lama atau tidaknya proses pengasinan ternyata bergantung pada kondisi telur. Telur baru membutuhkan waktu yang lebih lama dalam waktu pengasinan. Tidak hanya itu, saat perebusan, telur baru juga lebih lama.

“Setelah mengasinkan untuk memasak telur juga harus didahulukan telur yang paling bawah. Karena dari sekian kali percobaan, telur yang berada di bagian paling bawah lebih asin daripada yang atas. Jadi sekarang di kukus yang bawah nanti beberapa hari kemudian baru yang atas begitu seterusnya,” tambahnya.

Telur puyuh asin memiliki ketahanan yang lebih lama. Dengan menggunakan suhu ruang normal, telur puyuh asin bisa bertahan hingga dua minggu. Jika dimasukkan dalam kulkas tentu akan bertahan lebih lama. Proses perebusan telur puyuh asin dan telur puyuh tawar ternyata lebih lama. Jika telur puyuh tawar membutuhkan waktu 15 menit, telur puyuh asin membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

“Proses pembuatan telur asin memang sulit dan lama, makanya harga juga lebih mahal,” tambahnya. Eksperimen pertama ia berikan kepada keluarga saja, setelah mendapatkan formula yang bagus, baru ia pasarkan. Pemasaran pertama justru bukan di Jombang tapi di Tuban. Di Tuban telur puyuh asin sudah banyak di cari.

Di Jombang sampai saat ini hanya kafe-kafe saja yang memesan. Ida belum cukup nyali untuk memasarkannya secara luas ke pasaran, karena harga yang cukup mahal. “Kalau ke pasaran biasa justru takutnya tidak laku karena harganya mahal, berbeda dengan telur puyuh biasa,” tambahnya.

Satu butir telur puyuh asin bisa mencapai Rp 600. Harga telur puyuh tawar lebih murah antara Rp 250 hingga Rp 270 per butir. “Karena harganya yang mahal kita juga hanya bisa menerima pesanan dulu, untuk penjualan masal belum berani,” pungkasnya. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia