Rabu, 18 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Proyek Jalan Nasional Kementerian PUPR Pakai Material Bekas

20 November 2018, 16: 42: 42 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Separator yang dipasang sebagai pembatas jalan yang kondisinya terlihat seperti barang bekas

Separator yang dipasang sebagai pembatas jalan yang kondisinya terlihat seperti barang bekas (ACHMAD RW/ JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Kelanjutan proyek pengerjaan jalan nasional di Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, kembali jadi sorotan. Pasalnya separator yang dipakai merupakan material bekas yang kondisinya sudah tak utuh dan membuat jalan baru terlihat kumuh.

Seperti terlihat kemarin, pemasangan separator jalan nasional, pemisah antara jalan cor dan aspal  hampir separo selesai. Hingga kemarin, setidaknya pemasangan pemisah jalan ini sudah sampai ke Pertigaaan Keplaksari.

Namun, dari ujung barat proyek ini terlihat yang dipasang bukanlah separator baru. Kondisi separator bekas ini, sudah tak utuh lagi. Banyak yang cuil. “Iya kelihatan sekali itu, bentuknya sudah berlumut begitu, itu separator lama memang. Juga cuil-cuil,” ucap Amelia, 24 warga di lokasi.

Bahkan terlihat, upaya untuk memasang separator lama ini bakal dilanjutkan hingga ujung proyek yakni jalan layang (fly over) Peterongan. “Ya memang kayaknya semua ini nanti dipasang separator lama, karena yang di jalan tembusan ke terminal itu sudah diangkuti semua, dan di sisi timur pasirnya sudah ditata juga kok,” lanjutnya.

Selain separator, penggunaan material lama dengan kondisi  tak layak pakai juga terlihat pada pembangunan totoar sisi selatan. Pembangunan ini hingga kini masih berlangsung di ruas jalan nasional sisi selatan di Desa Kepuhkembeng.

Tepatnya di samping SDN Kepuhkembeng, pembangunan trotoar dengan bahan daur ulang trotoar lama ini terlihat masih berlangsung hingga kemarin. Menggunakan sejumlah reruntuhan bangunan lama, sejumlah pekerja terlihat menata bagian pinggiran trotoar lama yang sempat diungsikan.

Kondisi bahan bangunan yang sudah tinggal separuh hingga beberapa kerusakan lain nampak hanya ditutupi semen setelah bangunan ini selesai ditata. Kondisi ini tentu saja dikeluhkan warga setempat, lantaran dianggap perbaikan trotoar yang rusak akibat pembongkaran jalan di awal proyek ini dilakukan setengah hati.

“Lha dulu kan memang dibongkar waktu menebang dan mengambil akar pohon. Harusnya sekarang dibuat baru lagi, bukan material lama yang sudah hancur begitu terus ditata dan ditambal,”  ucap Sutoyo, 52 warga di lokasi.

Dikatakan, penggunaan bahan daur ulang ini ditakutkan warga bakal membuat umur bangunan tak tahan lama. “Ya mana bisa kuat kalau begitu aturannya, ya kalau warga inginnya dibuat yang baru lagi. Biar kelihatan bagus juga nanti,” pungkasnya.

Dikonfirmasi, Pelaksana Teknis dari BBPJN (Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional) wilayah VIII Adi Suwito membantah jika pembangunan akan menggunakan material lama alias didaur ulang. “Wah tidak, semuanya harusnya pakai bahan baru, kan yang lama dulu sudah dihancurkan,” ucapnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Jombang (19/11).

Pihaknya juga berjanji akan kembali memastikan nantinya jika semua pembangunan yang saat ini berjalan memang harus menggunakan bahan baru. “Karena di rencana kontraknya memang disebut bahan baru harusnya, jadi tidak boleh menggunakan bahan yang lama. Kita akan cek lagi nanti,” singkatnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia