Minggu, 20 Jan 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

GKJW Mojowarno; Gereja Jawa Tertua di Indonesia

15 November 2018, 19: 14: 17 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Tampak dari depan bangunan GKJW Mojowarno

Tampak dari depan bangunan GKJW Mojowarno (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

JOMBANG – Bangunan geraja yang satu ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat Jombang, bahkan Indonesia. Gereja tertua yang sekaligus menjadi salah satu landmark Jombang ini terletak di pusat Kecamatan Mojowarno.

Berdiri megah di sebelah barat Jalan Mojowarno-Bareng, bangunan berwarna putih total ini memang nampak sangat berbeda dan sangat mudah dikenali siapapun yang melintas di depannya. Bangunannya berkostruksi batu bata seutuhnya, namun terlihat sangat kokoh.

Dari luar, gereja ini berbentuk persegi dengan luasan 700 meter persegi, bangunan ini bergaya Eropa atau Gothic dengan atap berbentuk segitiga setinggi 20 meter dengan empat pilar yang menjaga di bagian bawah.

Lonceng tua yang berada di atas menara GKJW

Lonceng tua yang berada di atas menara GKJW (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Di depan menara, berjajar pula empat tiang besi hitam yang dulunya sempat jadi tiang lampu namun kini dijadikan hiasan. Di bagian atas gewel, terdapat sebuah menara berbentuk tabung dengan atap yang runcing juga berisi bel besar yang biasa dibunyikan sesaat sebelum kegiatan ibadah dimulai.

Sementara di depan gewel, tertulis kutipan kitab injil yang berbunyi Dhuh Gusti, Ingkang Kawula Purugi Sinten Malih? Paduka Ingkang Kagungan Pangandikaning Gesang Langgeng (Ya Tuhan, kepada siapa kami pergi? Hanya Engkaulah yang memiliki sabda hidup kekal).

Bangunan ini juga memiliki empat pintu utama yang jadi jalan keluar masuk jemaat, lokasinya dua pintu di bagian depan dan dua pintu lainnya di samping kanan dan kiri bangunan. Serta sebuah pintu kecil di ruang Konsitori yang jadi jalan keluar masuk pendeta dan sejumlah majelis gereja.

Jendelanya, berjumlah total 14 buah, 12 buah jendela berukuran besar yang mengelilingi bangunan, serta dua buah jendela kecil di bagian ruang Konsitori. Saat memasuki ruangan Gereja, suasana klasik langsung menyambut. Dua tangga di sisi kanan dan kiri pintu menyambut tamu yang datang.

Tangga-tangga ini adalah jalan menuju ruangan di balkon dan di atas balkon satu tangga lagi di bagian tengah berbentuk melingkar mengarah ke ruang bel. Atapnya, berbentuk lengkungan dari lapisan kayu berwarna hijau, lengkap dengan tiga lampu gantung kuno.

Di ruangan utama, berjajar bangku kayu memanjang yang terlihat sangat klasik di atas lantai marmer. Meski berusia ratusan tahun, puluhan bangku terbuat dari kayu kualitas terbaik di dalam ruangan ini masih sangat kuat.

Sementara di bagian depan ruangan utama, terdapat mimbar pendeta yang sekilas berbentuk kereta kencana yang juga terbuat dari kayu jati pilihan dan berusia sama dengan bangku. Di sampingnya, terdapat satu set alat musik berupa gamelan, drum, dan juga keyboard.

Menurut Pendeta Wibo Santjoko, gereja ini dibangun pada 1879, pembangunan gereja ini diprakarsai seorang pengajar injil asli pribumi pertama di Mojowarno bernama Paulus Tosari. Meski demikian, bangunan ini baru rampung sepenuhnya di tahun 1881 dan diresmikan langsung pendeta yang saat itu memimpin gereja itu yakni Pendeta Kruyt.

Bangunan ini disebutnya juga masih sangat terawat, bahkan sejumlah kelengkapan dalam gereja  masih asli sejak dibangun. “Termasuk mimbar dan semua bangku memang masih asli, begitu pula lampunya itu. Bangunannya tembok sampai lantai juga masih asli, kecuali kap sama plafonnya saja yang sempat direnovasi,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Karena usianya yang ratusan tahun itu, Gereja ini memang disebutnya sebagai gereja Jawa tertua yang ada di Indonesia. “Bahkan dulu sempat jadi pusatnya Sinode Gereja di Jawa Timur sebelum akhirnya dipindah ke Malang tahun 1930-an,” pungkasnya. (Pewarta: ACHMAD RW)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia