Rabu, 12 Dec 2018
radarjombang
icon featured
Tokoh

Kiai Asy’ari; Bapak Kiai-Kiai Besar Jombang

12 November 2018, 19: 47: 57 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Makam Kyai Asyari di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang

Makam Kyai Asyari di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

RUBRIK Tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah singkat hidup seorang kiai sederhana dan mungkin tak banyak dikenal masyarakat, khususnya luar Jombang. Tapi dari garis keturunannya kiai besar lahir, sebut saja KH. Hasyim Asy’ari yang berlanjut kepada KH. Wahid Hasyim hingga KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Ia adalah Kiai Asy’ari, ayahanda dari KH. Hasyim Asy’ari pendiri Pondok pesantren Tebuireng. Lahir di Salatiga Jawa Tengah, Kyai asy’ari adalah putra dari Abdul Wahid bin Abdul Halim, seorang seorang komandan pasukan Diponegoro yang menggunakan nama “Pangeran Gareng”, di bawah Panglima Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Nasab Kiai Asy’ari merujuk hingga ke Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir alias Sultan Pajang. 

“Banyak yang menyebut Kiai Asy’ari lahir di Demak, namun yang benar adalah di Salatiga,” jelas cicit Kiai Asy’ari KH Ahmad Labib Basuni. Sejak muda Kiai Asy’ari nyantri di Pesantren Gedang, dekat Tambakberas, Jombang dan berguru pada Kiai Usman, Menantu Kiai Abdussalam (Mbah Soichah).

Bergurunya kepada Kiai Usman yang merupakan salah satu kiai yang dikenal lekat dengan cara hidup sufi dan ahli tarekat berujung pada pernikahan dirinya dengan putri Kiai Usman yang bernama Halimah. “Dari pernikahan tersebut juga lahir Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pada awalnya memang Mbah Asy’ari ini masih tinggal di Gedang sebelum pindah ke Keras,” lanjut Kiai Labib, sapaan akrabnya.

Demi melanjutkan perjuangannya menyebarkan Islam, dirinya mulai berpindah tempat tinggal hingga menemukan tempat di Desa Keras, salah satu Desa di Kecamatan Diwek. Di sini, Kyai Asy’ari memulai kiprahnya sebagai pendiri sekaligus guru di Pondok Pesantren Keras. Sebuah pesantren kecil dengan tak banyak santri, namun pendidikan dilakukan secara terfokus dan mendalam. Sebelum akhirnya digantikan putra keduanya KH. Ahmad Sholeh dan terus menerus hingga cicitnya saat ini.

“Waktu itu semua pendidikan ya diajarkan langsung sama mbah As’yari, santri memang tidak banyak, hanya sekitar 8 orang saja namun benar-benar kramut,” lanjut cicit Kyai Asy’ari yang kini mengasuh pondok pesantren Keras ini.

Hingga wafat, dari perkawinannya dengan Nyai Halimah, Kiai Asy’ari dikaruniai 11 orang putra putri. Diantaranya Nafiah, Ahmad Sholeh, Muhammad Hasyim, Rodliah, Hasan, Anis, Fathonah, Maimunah, Ma’shum, Nahrowi dan Adnan. Kiai Asy’ari dimakamkan di makam umum Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia