Selasa, 19 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Dinilai Terlalu Murah, Warga Rejoagung Tolak Appraisal Tanah

10 November 2018, 18: 12: 46 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Warga Desa Rejoagung terdampak proyek jembatan baru Ploso saat berkumpul di balai desa

Warga Desa Rejoagung terdampak proyek jembatan baru Ploso saat berkumpul di balai desa (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Penyerahan dana pembebasan lahan dan ganti rugi bangunan untuk proyek jembatan baru Ploso mulai dilakukan. Namun prosesnya berjalan kurang mulus, menyusul adanya penolakan dari warga Desa Rejoagung yang menjadi pemilik lahan dan bangunan.

Nilai Rp 2,3 juta per meter persegi yang menjadi hasil appraisal, dinilai masih rendah. Kepala Desa Rejoagung Imam Supii mengatakan, alasan warga menolak nilai pembebasan karena menganggap harga lahan saat ini sudah berbeda.

"Warga menilai itu adalah appraisal lama, yang tidak jauh beda dengan pembebasan tanah dari APBD kabupaten," katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (9/11).

Warga juga memprotes tidak terbukanya proses penilaian atas lahan yang akan dibebaskan. "Warga tidak dilibatkan sejak proses awal, tiba-tiba langsung disodori angka. Per meter lahan dihargai Rp 2,3 juta, dan langsung diminta menyetujui," lanjutnya.

Pada proses penilaian hingga penyampaian hasil ke warga, kata dia, pemerintah desa juga tidak dilibatkan. "Tim datang sendiri ke rumah-rumah warga, sehingga kami tidak tahu bagaimana prosesnya sampai keluar angka Rp 2,3 juta itu," tambahnya.

Karena harga terlalu murah itulah hampir seluruh warga mengaku tidak akan menandatangani perjanjian jual beli dengan tim pembebasan.

Mustofa, salah satu warga mengatakan, murahnya harga pembebasan lahan jelas tidak akan cukup untuk memperbaiki rumah atau membangun rumah baru. "Saya hanya lahan yang terkena, tapi rumah mepet jalan harus direnovasi mundur. Karena terlalu dekat dengan jalan," ungkapnya.

Sehingga apabila harga pembebasan lahan hanya Rp 2,3 juta, menurutnya tidak akan cukup. "Kami sangat mendukung ada pembangunan jembatan ini, tapi kalau harga tanahnya murah ya menolak," lanjutnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia