Rabu, 19 Sep 2018
radarjombang
icon featured
Events
Dawuh Kiai Hingga Isyarat Istikharah

Mengapa Memilih Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno? (Bagian-1)

Jumat, 30 Mar 2018 17:53 | editor : Binti Rohmatin

KOMPAK: Foto Gus Ipul dan Mbak Puti

KOMPAK: Foto Gus Ipul dan Mbak Puti (istimewa)

Banyak orang memilih Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno karena alasan penting. Ada yang bersandar dawuh ulama atau kiai. Ada pula yang sholat istikharah untuk mendapat petunjuk kebenaran.

 

“SAYA ini santrinya para ulama. Kalau para ulama memutuskan Gus Ipul, saya ikut. Saya dukung,” kata Mayjen TNI (Pur) H. Imam Utomo, Gubernur Jawa Timur 1998-2008, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Selasa 6 Februari 2018. Ia menyampaikan itu di depan ribuan kiai, bu nyai, ustadz, di forum Silaturahim Masyayikh dan Pengasuh Pondok Pesantren Se-Jawa Timur.

Pak Imam Utomo adalah tokoh penting Jawa Timur. Ia pernah menjabat Panglima Kodam Brawijaya. Sejak berhenti dari gubernur, Pak Imam jarang muncul ke publik. Tapi, siang itu, ia hadir di depan para ulama. “Gus Ipul sudah matang belajar Jawa Timur. Dua kali wakil gubernur. Sudah waktunya menjadi gubernur,” kata Pak Imam Utomo.

“Gus Ipul itu sabar luar biasa. Kalau tidak tahan, Gus Ipul datang ke pondok. Menangis di depan kiai,” kata dia. Pak Imam memberikan semangat pada Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang duduk di dekatnya. Sementara, di tempat duduk perempuan, hadir Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno.

Pak Imam Utomo juga memandang Puti Guntur Soekarno, cucu Bung Karno, sebagai figur yang tepat mendampingi Gus Ipul. Ia mengikuti berita-berita di media massa, tentang aktifnya Puti Guntur menjelajahi Jawa Timur. “Itu pendekatan yang bagus,” kata dia.

Di Pilkada Jawa Timur, Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno mendapat nomor pilihan 2. Perjodohan itu juga karena pertimbangan para ulama. Di Lirboyo Kediri, juru bicara para ulama, KH Anwar Iskandar menyampaikan keputusan para kiai yang mencalonkan Gus Ipul sudah bulat. “Gus Ipul asli NU. Keluarga NU. Pandai mengaji. Juga cicit pendiri NU (Alm. KH Bisri Syansuri). Kita ingin Jawa Timur dipimpin Gubernur dari NU,” kata Kiai Anwar.

Karena diputuskan untuk kerjasama dengan PDI Perjuangan (PDIP), kata Kiai Anwar, maka posisi Calon Wakil Gubernur diserahkan pada Hj. Megawati Soekarnoputri. “Bu Mega kemudian menugaskan Mbak Puti Guntur Soekarno, cucu Bung Karno, pendiri negara ini,” kata Kiai Anwar.

Seperti keinginan Ketua Umum PDI Perjuangan Hj. Megawati Soekarnoputri, para ulama juga menyepakati Pilkada Jawa Timur menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan antara kaum nahdliyin dengan kaum nasionalis. “Karena itu Ibu Megawati sejak awal menyetujui Gus Ipul sebagai Calon Gubernur. PDI Perjuangan memasangkan dengan dengan Mbak Puti, kader kami,” kata Ahmad Basarah, Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDIP.


Pesan Kiai As’ad

Bagi warga masyarakat Jawa Timur yang punya hubungan dekat dengan kultur dan organisasi keagamaan NU, sikap pernyataan atau dawuh para kiai menjadi obor penerang dalam mengambil pilihan. “Ikut kiai sampai mati. Ikut kiai dunia-akhirat,” suara itu dicetuskan para santri di berbagai pondok pesantren.

Popularitas Gus Ipul juga luar bisa di kalangan pesantren dan masyarakat umum. Fakta ini diuji didapati sendiri oleh Cawagub Puti Guntur Soekarno setiap kali bersilaturahmi ke pondok-pondok pesantren. “Apakah para santri tahu Gus Ipul?” tanya Puti di Pondok Pesantren Al Barokah Bondowoso. “Tahuuuuu,” jawab santri dan santriwati serentak.

Saat Puti Guntur berkunjung ke Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, KH Huda Djazuli menyampaikan pada ribuan santri dan santriwati, yang diasuhnya. “Tolong sampaikan ya pada orangtua kalian, bahwa pilihan para kiai adalah Gus Ipul-Mbak Puti,” kata Kiai Huda.

Tetapi ada juga yang mencari jawaban sendiri. Seperti KH Qusyairi Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Huda, Sumenep. Ia sebelumnya mendukung Khofifah-Emil Dardak. Tapi hatinya gamang, karena Gus Ipul dan Khofifah sama-sama kader NU. Jalan spiritual pun dia tempuh untuk mendapat petunjuk suci. Ia beberapa kali melakukan shalat istikharah.

Upaya itu berhasil. Kiai Qusyairi mendapat isyarat melalui mimpi. Di sebuah gunung, ia bertemu sosok yang menaiki kuda. Setelah dekat, barulah dia tahu, sosok itu Gus Ipul, bersama banyak orang di belakangnya. “Saya pikir saat itu hanya kebetulan. Saya lalu melakukan istikharah lagi,” kata Kiai Qusyairi.

Di mimpi berikutnya, ternyata yang datang ayahnya sendiri yang telah wafat, KH Muhammad Zaini Muntaha. Mendiang ayahnya memberikan kertas. “Nak, pulanglah dan baca kertas itu,” kata ayahnya. Sesampai di rumah, ia membuka kertas itu. Betapa kaget. “Ternyata gambarnya Gus Ipul,” kata Kiai Qusyairi. Sejak itu ia mantap memilih Gus Ipul.

Ibu Nyai Hj. Makkiyah As’ad, puteri sulung (alm) KH As’ad Syamsul Arifin, ulama besar dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, memilih karena pesan ayahnya sebelum meninggal 4 Agustus 1990. Saat dikunjungi Puti Guntur tempo hari, dia bercerita, mendiang Kiai As’ad menginginkan suatu saat kelak Jawa Timur dipimpin Gubernur dari NU.

“Kata Kiai As’ad, Gubernur Jawa Timur harus dari keluarga pendiri NU, yang ikut memerdekakan Indonesia. Saya bangga, Gus Ipul malah didampingi Mbak Puti, cucu Bung Karno, pejuang dan pendiri bangsa,” kata Bu Nyai Makkiyah. Ia menyebut, Gus Ipul adalah cicit KH Bisri Syansuri, salah seorang pendiri NU. Kiai Bisri adalah ulama besar, serta perjuangannya panjang untuk umat dan bangsa Indonesia. Kiai Bisri pernah menjadi Rais Aam PBNU.

Atas sikap keluarga itu, adik iparnya, Ibu Nyai Djuwairiyah Fawaid (istri almarhum KH Fawaid As’ad) berjuang untuk menyatukan suara umat di tapal kuda untuk mendukung Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno. “Insya Allah menang,” kata Bu Nyai Djuwairiyah.

(jo/nk/bin/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia