Kamis, 15 Nov 2018
radarjombang
icon-featured
Peristiwa

Warga Protes Limbah Abu

Sesak Nafas, Mual-Mual dan Pusing

Minggu, 01 Oct 2017 22:27 | editor : Jatmiko

protes limbah untuk jalan

Warga memprotes jalan yang dibangun dengan limbah (FOTO: NASIKHUDDIN/JAWA POS RADAR JOMBANG)

JOMBANG – Ketenangan warga Dusun Grudo, Desa Madiopuro, Kecamatan Sumobito mendadak terganggu. Pasalnya, pembangunan   jalan yang menggunakan  tumpukan karung berisi limbah sisa pembakaran produksi aluminium, menimbulkan gangguan pernafasan. ”Baunya menyengat sekali, bikin sesak nafas, mual-mual dan kepala juga pusing. Yang paling kasihan kedua anak saya sampai nangis, tidak bisa tidur tidak tahan dengan baunya,” terang salah satu warga di lokasi,  Jumat (29/9).

Wargapun memprotes. Protes warga bermula dari rencana pemerintah desa membangun jalan akses pertanian di Dusun Grudo, Desa Madiopuro. Untuk mewujudkan rencana tersebut, sejumlah warga dikumpulkan untuk musyawarah. ”Memang ada musyawarah tepatnya 2016 lalu, waktu itu di gelar di rumah pak kasun,” beber Hadi Sucipto.

Setelah melalui dialog panjang, akhirnya mencapai kesepakatan terkait pembangunan jalan lingkar. ”Pelebaran jalan, dulunya sempit rencana akan diperlebar permukaannya,” bebernya. Sayang dalam pembahasan itu, sempat terjadi tarik ulur, salah satunya disebut akibat keterbatasan anggaran dana desa (DD). ”Katanya anggaran desa terbatas harus disiasati, muncullah ide memanfaatkan limbah abu sisa produksi aluminium. Kebetulan usulannya dari perangkat waktu itu,” bebernya.


Setelah mendengar pemaparan dari pihak pemdes, wargapun akhirnya bisa menerima. Hanya saja, tumpukan limbah abu tersebut hanya akan digunakan sebagai penahan di masing-masing sisi jalan. ”Disepakati memakai limbah abu, tapi hanya untuk penahan sisinya saja, sementara pemukaan jalannya akan diteras,” terangnya.

Memasuki 2017 ini, sekitar Agustus dimulailah pekerjaan. Sayangnnya, pelaksanaan pekerjaan tidak sesuai dengan hasil musyawarah warga. ”Ternyata seluruh permukaan jalan dipasang tumpukan karung limbah abu. Sempat diawal saya protes, tapi tidak digubris,” imbuhnya.

Hingga kekhawatirannya terjadi, bersamaan hujan deras yang melanda wilayahnya, ternyata berdampak massif. ”Muncul bau sangat menyengat, warga mengaku sesak nafas, mual-mual dan juga pusing. Khususnya yang paling mengeluh anak-anak kecil, termasuk warga yang sedang sakit, mengeluh semua dampaknya, terlebih jarak pemukiman dengan tumpukan karung limbah sangat berdekatan. Pokoknya warga sangat-sangat terganggu dengan keberadaan limbah tersebut,” bebernya.

Tak betah kenyamanan lingkungannya terusik, Jumat (29/9) sejumlah warga mendatangi lokasi permbangunan jalan, merekapun melancarkan protes. Terlebih, dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan kesepakatan. Aksi tersebut segera mendapat respon pemerintah desa yang selanjutnya menuju lokasi. Pantauan di lokasi, sempat terjadi ketegangan antara pemerintah desa dengan warga, beruntung tidak sampau mengerah ke adu fisik. Namun demikian, aksi perang mulut tak bisa terhindarkan.

Beruntung, aksi tersebut segera mereda setelah sejumlah anggota Polsek Sumobito dan sejumlah tim dari unit tipiter Polres Jombang tiba di lokasi. Selain mengorek keterangan warga dan pemerintah desa, petugas pun mengambil dokumentasi tumpukan karung limbah yang diduga kuat mengandung unsur bahan beracun dan berbahaya (B3) tersebut.

Selain itu, polisi juga meminta berkas hasil keputusan rapat terkait pembangunan jalan yang memunculkan polemik di kalangan warga tersebut. ”Berkasnya ada semua, hasil-hasil rapat lengkap, kebetulan dibawa pak kasun. Kebetulan orangnya pergi ke Nganjuk,” tandasnya menjawab permintaan petugas.

(jo/naz/mik/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia