Kamis, 15 Nov 2018
radarjombang
icon featured
Peristiwa
Urus Sawah hingga Kandang Ternak

Mahasiswa ITS Berperan Sebagai Penduduk Asli Desa Terpencil di Jombang

Rabu, 09 Aug 2017 08:10 | editor : Binti Rohmatin

BERTANI: Mahasiswa ITS ini memerankan pemilik rumah yang bekerja di ladang, merumput hingga mengurus ternak.

BERTANI: Mahasiswa ITS ini memerankan pemilik rumah yang bekerja di ladang, merumput hingga mengurus ternak. (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Wilayah pedalaman dan terpencil di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, menjadi daya tarik ITS, melaksanakan program pengabdian masyarakat.

Melalui program ITS Mengajar, salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah Jika Aku Menjadi. Yakni, menugaskan mahasiswa berperan sebagai penduduk asli desa selama beberapa hari. Seperti apa?

MARDIANSYAH TRIRAHARJO, Plandaan

SEMINGGU berperan sebagai penduduk asli Desa Klitih, bagi Nur Arning Tengara Kasih, mahasiswi jurusan planologi ITS asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, merupakan pengalaman langka.

Ia mengaku sadar, menjadi penduduk di desa pedalaman seperti Klitih butuh perjuangan berat agar bisa bertahan hidup.

Salah satu yang tidak ia temukan selama hidup di kota, menuju ke suatu tempat dengan jarak cukup jauh, dilakukan harus dengan berjalan kaki. Karena memang tidak bisa ditempuh dengan kendaraan.

“Ke sawah contohnya, harus jalan kaki meski jaraknya kurang lebih 1 kilometer. Berbeda dengan di kota, ke toko sebelah saja pakai motor,” kenang Nur, kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Ia mengaku banyak menemukan hal baru lainnya dengan berperan sebagai penduduk asli Desa Klitih. Selama satu minggu, Nur tinggal di rumah milik pasangan Surahman dan Sripah, warga Dusun Pojok, Desa Klitih.

Rumah yang ditempati tidak layak huni karena Surahman dan Sripah merupakan rumah tangga miskin.

Pergi ke sawah setiap pagi dan sore hari, lanjutnya, menjadi rutinitas yang setiap hari dijalani pemilik rumah. “Bapak dan ibu punya sawah yang ditanam cabai, usia tanaman sekarang kira-kira 2 minggu.

Butuh penyiraman setiap hari,” imbuhnya. Tak hanya harus berjalan kaki cukup jauh, untuk bisa mendapatkan air ia juga harus berjuang keras.

“Sumber airnya di sungai, dan harus turun membawa tong. Saya hanya mampu mengangkat satu tong saja, padahal ibu biasanya langsung bawa dua tong,” ucapnya.

Meski begitu, rutinitas yang dijalaninya dengan menggantikan peran dalam banyak urusan, ternyata membuat pemilik rumah jadi sungkan.

Nur berkata, seringkali ia diminta pemilik rumah tak ikut ke sawah. Termasuk juga menyelesaikan pekerjaan di dapur dan sumur. “Memang tugasnya begini, ya harus dijalani.

Kalau ibu masak, saya langsung ke dapur untuk membantu. Termasuk juga membersihkan rumah,” tambahnya.

Ia lantas membandingkan dengan kehidupan di Surabaya, menurutnya kehidupan di pedalaman sungguh sangat berbeda. “Ada banyak hal yang kadang aneh bagi saya.

Contohnya meski lantai rumah masih berupa tanah, tapi setiap hari selalu dibersihkan sama ibu,” ujarnya.

Pengakuan sama juga diutarakan Veronika Patyastri Swastitanaya, mahasiswi semester 3 Teknik Perkapalan asal Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Anak seorang pengacara ini tinggal di rumah warga yang berprofesi sebagai petani bawang merah. “Kemarin saya bantu ibu panen bawang merah di sawah.

Pulangnya cari rumput untuk pakan sapi dan kambing. Padahal selama ini saya tidak pernah mencari rumput,” pungkasnya sembari tersenyum.

(jo/mar/bin/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia