Radarjombang.id - Kekeliruan dalam menuliskan kata “di” masih kerap ditemui dalam berbagai bentuk tulisan berbahasa Indonesia.
Mulai dari percakapan digital, unggahan di media sosial, hingga konten artikel di internet, kesalahan ini seolah menjadi hal yang lumrah.
Padahal, penulisan “di” yang tepat apakah dipisah atau dirangkai sangat menentukan makna sebuah kalimat.
Dalam kaidah bahasa Indonesia, kata “di” memiliki dua peran utama. Pertama, “di” berfungsi sebagai penanda tempat atau arah.
Pada posisi ini, penulisannya harus dipisah dari kata berikutnya. Contoh penggunaannya dapat dilihat pada frasa di rumah, di sekolah, di dalam, di luar, dan di mana.
Kedua, “di” berperan sebagai imbuhan yang membentuk verba pasif. Jika fungsinya demikian, penulisannya wajib digabung karena menjadi satu kesatuan dengan kata kerja. Contohnya dapat ditemukan pada kata diambil, dibaca, ditulis, dibungkus, serta dihapus.
Kesalahan yang paling sering muncul biasanya berupa penulisan yang terbalik, seperti di ambil atau dirumah. Padahal, bentuk yang benar adalah diambil dan di rumah. Meski tampak sederhana, kekeliruan semacam ini dapat memengaruhi ketepatan dan kualitas bahasa dalam sebuah tulisan.
Untuk meminimalkan kesalahan, ada tiga cara mudah yang bisa dijadikan pegangan dalam menulis kata “di”:
- Jika menyatakan tempat, tulislah terpisah.
Contoh: di rumah, di kantor, di mana.
- Jika dapat disandingkan dengan kata “sedang” atau “telah”, tulislah serangkai.
Contoh: ditulis (sedang ditulis), diambil (telah diambil).
- Perhatikan jenis kata setelah “di”.
Apabila diikuti kata benda, penulisannya cenderung dipisah. Sebaliknya, jika diikuti kata kerja, penulisannya digabung.
Dengan membiasakan diri menerapkan pedoman sederhana tersebut, ketepatan berbahasa Indonesia dapat lebih terjaga, khususnya dalam ruang publik. Tulisan yang tertata dengan baik tidak hanya memudahkan pembaca, tetapi juga menunjukkan kecermatan dan sikap profesional dalam berbahasa.
Penulis: Andini Maulita Susanti
Editor : Anggi Fridianto