Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

IDI Minta Dinkes Berikan Perhatian Serius

Rojiful Mamduh • Sabtu, 9 Januari 2021 | 00:43 WIB
JOMBANG – Tingginya kasus kematian ibu hamil pada 2020 mendapat respon
JOMBANG – Tingginya kasus kematian ibu hamil pada 2020 mendapat respon


JOMBANG – Tingginya kasus kematian ibu hamil pada 2020 mendapat respons dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang. Terlebih, sekarang beberapa kasus ibu hamil meninggal diketahui terjangkit Covid-19.



Ketua IDI Jombang dr Iskandar Dzulqornain menyebut, tren naiknya kasus kematian ibu hamil patut menjadi perhatian serius, khususnya kasus ibu hamil meninggal positif Covid-19.



"Ini yang tak kalah penting harus diperhatikan. Dinkes harus punya itung-itungan berapa fasilitas bersalin yang dibutuhkan, termasuk untuk ibu hamil yang terpapar Covid-19," ungkap dr Iskandar Dzulqornain, ketua IDI Cabang Jombang kemarin (7/1).



Dia menambahkan, dari data yang dia kantongi, saat ini rumah sakit yang melayani proses melahirkan dengan prosedur Covid-19 masih sangat minim. Karenanya dia mendorong Dinas Kesehatan Jombang untuk mendorong fasilitas kesehatan di Jombang untuk antisipasi hal tersebut.



Pasalnya, ibu hamil yang terpapar Covid-19 membutuhkan perawatan khusus dan berbeda dengan pasien Covid-19 pada umumnya.


”Termasuk persalinan bumil yang dinyatakan positif, membutuhkan tindakan khusus, ruangan khusus, bahkan ruang tunggu khusus. Pasalnya tidak semua bumil datang ke rumah sakit siap melahirkan. Ada yang harus menunggu beberapa hari,” bebernya.



Tak hanya itu, ketersediaan ruangan masih harus dibedakan lagi. "Masih harus dibedakan lagi, ada ruangan persalinan operasi sesar  dan persalinan normal khusus bumil Covid-19,  seharusnya fasilitas kesehatan memiliki itu sekarang," jelas Iskandar.



Sejauh ini lanjut Iskandar, yang memiliki palayanan persalinan khusus ibu yang terpapar Covid-19 hanya di RSUD Jombang dan RSUD Ploso.


Itupun dengan jumlah terbatas. RSUD Ploso misalnya, hanya punya satu ruang bersalin dengan tiga bed, dan satu ruang bersalin dengan tindakan sesar.


"Di RSUD Ploso ada tapi jumlahnya sangat terbatas. RSIA muslimat saja bulan lalu di cek masih belum punya itu, padahal sudah semestinya rumah sakit yang khusus menangani ibu dan anak antisipasi hal tersebut," jelas Islandar yang juga Direktur RSUD Ploso.



Padahal, sambung Iskandar di Jombang rata-rata kelahiran 1.500 kasus. Dengan risiko terpapar Covid-19 hingga 11 persen. Atau lebih dari 150 bumil berisiko melahirkan dengan kondisi Covid-19.


"Itu yang harus dihitung dengan jelas. Karena Covid-19 tak memandang siapapun, mulai bupati, pejabat, nakes, masyarakat biasa banyak yang terkena Covid-19," ungkapnya.



Selain antisipasi dengan fasilitas yang memadai dan aman, skrining juga wajib dilakukan bumil menjelang persalinan. Untuk bumil yang berencana persalinan dengan sesar, minimal dua atau tiga hari harus sebelumnya sudah memiliki status kejelasan terjangkit atau tidak terjangkit Covid-19.



Sedangkan bumil dengan persalinan normal, minimal saat kandungan memasuki usia 36 minggu segera melakukan uji swab. "Kalau saya sarankan langsung PCR agar jelas positif atau negatif," jelasnya.



Ia mengatakan, jangan sampai empat  kasus bumil meninggal karena Covid-19 ada lagi tahun ini. Dengan cara menyediakan fasilitas, dan skrining yang tepat.


"Jangan sampai sudah ibu melahirkan, baru diketahui positif Covid-19 setelah di IGD, belum lagi jika rumah sakit itu belum ada pelayanan persalinan khusus Covid-19, masih harus wara-wiri cari rumah sakit yang pas, kalau melahirkan di IGD atau di ambulans atau di tempat yang tidak semestinya, bisa membahayakan ibu dan bayi, juga berisiko nakes yang memberi pelayanan akan terpapar," pungkasnya.



Seperti diberitakan sebelumnya, selain tren peningkatan kasus kematian ibu hamil (bumil) meningkat, sepanjang 2020 ditemukan empat kasus bumil meninggal positif Covid-19.


”Tahun ini meningkat, terakhir kasusnya baru tanggal 31 Desember kemarin, dari 19 menjadi 20 orang, dan empat di antaranya Covid-19,” ungkap Vidya Buana, Kabid Kesehatan Masyarakat melalui Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Jombang Titik Ulfa.



Dia menambahkan, empat ibu hamil yang meninggal positif Covid-19 diketahui sudah masa kehamilan tua atau sudah memasuki trimester tiga. ”Salah satunya ibu hamil dan juga bidan Desa Peterongan yang meninggal saat kandungannya sudah memasuki trimester ketiga,” bebernya.


Angka kematian ibu hamil sangat fluktuatif. Dibandingkan dari 2019, pada 2020 kasusnya meningkat cukup tajam yaitu enam kasus. Berturut-turut sejak 2014 ada 26 kematian ibu hamil, 2015 turun menjadi 16 kasus, 2016 naik menjadi 17 kasus, 2017 tertinggi selama enam tahun terakhir yaitu 28 kasus, 2018 menurun 18 kasus, 2019 menurun 14 kasus. ”Dan tahun 2020 meningkat menjadi 20 kasus, jadi ada peningkatan 6 kasus,” singkatnya.


Editor : Rojiful Mamduh