Kepala DLH Jombang Miftahul Ulum mengatakan, persoalan sampah menjadi isu strategis Pemkab Jombang. Sebab dengan jumlah penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa, potensi timbunan sampah rumah tangga saat ini mencapai lebih dari 520 ton per hari. ”Sementara kemampuan layanan pengelolaan sampah, baru mencapai 37 persen. Masing-masing penanganan sampah 24 persen dan pengurangan 13 persen,” kata Ulum kepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis (22/12) kemarin.
Dikatakan, untuk mengatasi persoalan itu, pemkab tak bisa berjalan sendiri. Butuh dukungan berbagai pihak, paling utama masyarakat. Pola pengelolaan sampah dengan model kumpul-angkut-buang ke depan sudah ditinggalkan. ”Karena itu sekarang kita galakkan pengurangan sampah berbasis pembatasan sampah, pemanfaatan kembali dan daur ulang sampah,” imbuh dia.
Ulum menegaskan, DLH terus berupaya mengembangkan program pengurangan sampah dari hulu hingga hilir. Beberapa inovasi bidang pengelolaan sampah sudah dikembangkan. ”Di antaranya Bank Santri (Bank sampah mandiri terintegrasi) Bang Deli (Sambang Kader Lingkungan), Siaps (Sistem pengaduan penanganan sampah) serta aplikasi Smart Card Beresin Sampah,” tutur Ulum.
Dijelaskan, pengelolaan sampah dengan melibatkan masyarakat juga sudah dimaksimalkan. Yakni pengembangan bank sampah dan pembangunan TPS3R. ”Tahun ini kami membangun 5 TPS3R berbasis masyarakat di lima desa. Masing-masing di Desa Temuwulan (Kecamatan Perak), Desa Losari (Kecamatan Ploso) dan Desa Mojongapit (Kecamatan Jombang), Desa Mojowarno (Kecamatan Mojowarno) serta Desa Randuwatang (Kecamatan Kudu),” ujar dia.
Lima TPS3R yang sudah dibangun tahun ini, diharapkan bisa berdampak signifikan. Upaya mengurangi sampah dari hulu hingga hilir yang sudah dicanangkan bisa terealisasi. Sehingga, kelima tempat pengelolaan itu bisa seperti lokasi TPS3R lainnya yang sudah lebih dulu dibangun. ”Salah satu di antaranya yang berhasil melakukan banyak inovasi pengelolaan sampah, yakni TPS3R di Desa Rejoagung (Kecamatan Ploso), kita harapkan semua bisa berhasil dan lebih baik lagi,” kata Ulum.
TPS3R Rejoagung Berseri Layani 1.164 Pelanggan
SEMENTARA itu, TPS3R di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso menjadi salah satu tempat pengelolaan sampah percontohan. Dalam sehari, TPS3R ini mampu mengolah hampir 1 ton sampah. Sebagian dijadikan pupuk kompos, didaur ulang hingga dimanfaatkan untuk budi daya maggot.
Ketua KSM (Kelompok Swadaya Mayarakat) TPS3R Rejoagung Berseri Umar Subhan Basri mengatakan, kegiatan pengelolaan sampah di desanya sudah berjalan sejak 2010 lalu. Hanya saja saat itu belum maksimal. ”Saat itu masih kembang kempis, kadang berjalan lalu tidak jalan,” imbuhnya.
Seiring perkembangannya, TPS3R mulai berkembang. Pihaknya juga gencar menyosialisasikan ke warga. Tidak hanya warga Desa Rejoagung, pihaknya pun mencover sejumlah desa lain, yakni Desa Tanggungkramat, Losari dan Desa Jatigedong. ”Pada 2018 itu mulai jalan lagi memiliki 80 pelanggan dan sekarang 1.164 pelanggan sampah yang kita layani,” kata Umar kepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis (22/12) kemarin.
Dalam sehari pengangkutan sampah dari empat desa itu mencapai 2 ton. Untuk operasional, pihkanya memiliki empat armada, masing-masing 3 unit kendaraan roda tiga dan satu unit mobil mobil pikap. ”Dari 2 ton itu pemilahan sampah organik dan anorganik, yang terserap hampir 50 persen atau 1 ton,” imbuh dia.
Sampah yang diangkut menggunakan armada langsung dipilah. Untuk sampah organik merupakan sampah dapur dan dedaunan, sedangkan sampah anorganik terdiri sampah kertas, plastik, karet, kaca dan logam. ”Sementara sampah residu diangkut ke TPA (tempat pembuangan akhir) Jombang,” ujar Umar.
Hasil pengolahan sampah, lanjut Umar, di antaranya sampah rosok yang diserap pasar untuk didaur ulang. ”Kedua kita juga punya budi daya ikan, pakannya dari produksi budi daya maggot,” tutur Umar.
Sampah dapur juga dimanfaatkan. Sebab sumber pakan maggot memanfaatkan sampah dapur. ”Sehingga maggot juga bisa kita jual,” lanjut dia.
Berikut sampah dedaunan, lanjut Umar, juga diolah menjadi kompos. Sampai saat ini tetap berjalan, sebab ada permintaan warga untuk dijual. ”Sistem lainnya juga ada seperti bank sampah seminggu satu kali ada penimbangan. Sekarang ada dua tempat penimbangan,” ujar Umar.
Sistem bank sampah pihaknya membeli sampah rosok dari warga dan dibuatkan tabungan sampah. ”Biasanya tabungan ini diambil satu tahun sekali, terkadang diambil sewaktu-waktu juga bisa,” kata dia.
Sementara sampah yang tidak laku, lanjut Umar, juga ada produk ecobrick. ”Kita beri contoh ke masyarakat sampah kemasan juga bisa dijual ke bank sampah, dengan catatan dimasukkan ke dalam botol dan dipadatkan kita hargai Rp 1.000 per ecobrick,” lanjut Umar.
Dari proses itu bisa menyerap hingga 16 pekerja yang notabene berasal dari warga sekitar TPS. Sehingga bisa berdampak ke perputaran ekonomi. ”Omzet per bulan rata-rata Rp 25 juta, mulai dari iuran sampah dari warga Rp 15.000 per bulan, lalu ada warung dan toko Rp 20.000 per bulan, sekolah dan instansi tergantung jumlah sampah yang ada antara Rp 100 ribu-Rp 500 ribu, ada juga skala industri atau pabrik kita lihat volume sampah antara Rp 500 ribu-Rp 900 ribu per bulan,” kata Umar.
Segera Launching Smart Card Beresin Sampah
SELAIN menjaga kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah juga memiliki potensi penggerak perekonomian yang bisa terus dikembangkan. Sebagai terobosan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang bersiap me-launching program Smart Card Beresin Sampah.
”Program Smart Card Beresin Sampah saat ini masih dilakukan uji coba. Jadi kita bekerja sama dengan perumda, BUMDes intinya mendukung ekonomi sirkular dari sampah,” terang Kepala DLH Jombang Miftahul Ulum kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Ada beberapa keuntungan dari program itu. ”Ada bank sampah induk dan unit mendapat kartu itu. Jadi semacam model digitalisasi pencatatan sampah, misalnya ada saldo Rp 10.000 tersimpan di kartu, nanti ada keuntungan lain misalnya ada poin diskon belanja, lalu pelayanan kesehatan. Ini terus kita kembangkan,” lanjut Ulum.
Dari program itu nantinya bakal berdampak ke perekonomian warga sekitar. Sebab bakal melibatkan, mulai dari toko kelontong, hingga kios di sekitar TPS3R. ”Sekarang kita mencoba mengembangkan lebih massif lagi, termasuk bekerja sama dengan bumdes. Sehingga tidak hanya pengelolaan sampah, tapi ekonomi sirkular masyarakat sekitar,” tutur dia.
Nantinya program itu bisa bekerja sama dengan kios sembako. Sehingga ada potongan harga seandainya menjadi nasabah bank sampah. ”Karena persoalan sampah ini tidak mungkin diselesaikan pemkab sendiri. Makanya kita dorong pemdes mengambil peran dan masyarakat juga punya kesadaran, tidak membuang sampah sembarangan, memilah dan hal yang berbasis komunitas misalnya bank sampah dan sebagainya,” tandasnya.
Ulum mengapresiasi TPS3R di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso yang banyak menelurkan inovasi program. Namun demikian, sebelum berkembang seperti sekarang, butuh waktu sekitar 10 tahun. Artinya prosesnya tidak instan, butuh kerja keras dan dukungan semua pihak. ”Jadi tidak hanya bicara manajemen, tapi masyarakat juga mau mendukung. Ketika kita mau memaksimalkan TPS3R maka masyarakat harus mau memilah, sehingga dimulai dari sumber sampah atau hulunya,” imbuh dia.
Dengan begitu, potensi ekonomi dari pengelolaan sampah bisa maksimal dan hasilnya bisa dirasakan bersama oleh masyarakat, khususnya sekitar TPS3R. ”Sehingga tidak hanya pengelolaan sampah, tapi ekonomi sirkular masyarakat sekitar,” tandasnya. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW