26.9 C
Jombang
Wednesday, February 8, 2023

60 KPM di Jombang Terima Beras Mangkak, Dinsos Janji Kawal Proses Retur

JOMBANG – Jumlah keluarga penerima manfaat (KPM)  program Bansos pangan pengganti BPNT, yang mendapat beras mangkak dan berbau apek, ternyata cukup banyak. Penyaluran di Desa Keras, Kecamatan Diwek misalnya, dari hasil evaluasi Dinsos, diketahui terdapat 60 KPM.

Kepala Dinsos Jombang Hari Purnomo mengatakan, temuan  beras tidak layak konsumsi yang dikeluhkan KPM dalam penyaluran Bansos pangan sudah ditindaklanjuti. Pihaknya sudah menurunkan tim untuk melihat kondisi beras, sekaligus mengawal penggantian atau retur komoditi beras tersebut kepada KPM.

Dijelaskan, total ada 60 lebih KPM yang menerima beras mangkak dan berbau apek tersebut. Semua beras yang tidak layak konsumsi itu sudah diganti dengan beras yang kualitasnya lebih baik. “Termasuk beras yang sudah dibawa pulang juga sudah kami ganti. Kita turun bersama tim dari kecamatan,’’ tambahnya.

Bukan hanya itu, ia juga menindaklanjuti temuan penentuan harga tak wajar pada sejumlah komoditi Bansos pangan di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak. Termasuk melakukan evaluasi internal dan mengirim surat laporan ke BNI sebagai bank penyalur. ”Kita sudah bersurat ke BNI. Nanti kita sama-sama evaluasi untuk pembinaan lebih lanjut,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Rumah Produksi Cor Kuningan di Mojoagung Hangus Terbakar

Dinsos sendiri tidak memiliki wewenang untuk memberikan sanksi ke agen e-warong. Dalam hal ini menurutnya BNI yang berwenang memberikan sanski terhadap e-Warong nakal. ”Kita di Dinsos hanya memberi masukan dan saran. Sedangkan sanksi berada di BNI,’’ jelasnya lagi.

Sejak awal, Dinsos sudah memberi sosialisasi agar penentuan harga komoditi pangan berpedoman pada instansi yang berwenang. Termasuk memperhatikan perkembangan harga jual di pasar tradisional. ”Memang harga tidak sama antara satu daerah dengan daerah lain. Namun pada intinya, dari kejadian itu terutama keberadaan e-Warong kita evaluasi,’’ pungkas Hari.

Seperti diberitakan sebelumnya, KPM program bantuan sosial (Bansos) pangan pengganti bantuan pangan non tunai (BPNT) di Dusun Mejono, Desa Keras, Kecamatan Diwek, mengeluhkan komiditi beras yang diterima, Rabu (24/8). Selain tak layak konsumsi karena berbau apek, warna beras juga mangkak kekuning-kuningan.

Selain beras yang kualitasnya rendah, penyaluran Bansos pangan kali ini hanya menerima tiga komoditi. Meliputi bawang putih setengah kilogram, beras 15 Kg dan telur 20 butir dengan kisaran berat 1,25 Kg.

Baca Juga :  Masih Minim, Serapan APBD Jombang Kurang dari 70 Persen

Sementara di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, sehari sebelumnya, penyaluran Bansos pangan justru nilainya lebih mahal dibandingkan harga di pasar tradisional. Di desa ini, setiap KPM menerima lima komoditi. Lima komoditi itu meliputi beras 10 kilogram dengan harga Rp 95 ribu, daging ayam 1 kilogram dengan harga Rp 37 ribu, telur 16 butir Rp 36.500, bawang merah setengah kilogram Rp 16.500 dan kacang hijau setengah kilogram Rp 15.500. Sehingga total bantuan seharga Rp 200 ribu.

Padahal, hasil pantauan harga daging ayam di Pasar Pon Jombang per kilogramnya hanya Rp 32 ribu. Telur ayam Rp 28 ribu perkilogram. Beras merk IR 64 Rp 9.500, bawang merah Rp 25 ribu per kilogram atau Rp 12.500 per setengah kilogram dan kacang hijau Rp 21 ribu perkilogram atau Rp 10.500 per setengah kilogram. (ang/bin/riz)






Reporter: Anggi Fridianto

JOMBANG – Jumlah keluarga penerima manfaat (KPM)  program Bansos pangan pengganti BPNT, yang mendapat beras mangkak dan berbau apek, ternyata cukup banyak. Penyaluran di Desa Keras, Kecamatan Diwek misalnya, dari hasil evaluasi Dinsos, diketahui terdapat 60 KPM.

Kepala Dinsos Jombang Hari Purnomo mengatakan, temuan  beras tidak layak konsumsi yang dikeluhkan KPM dalam penyaluran Bansos pangan sudah ditindaklanjuti. Pihaknya sudah menurunkan tim untuk melihat kondisi beras, sekaligus mengawal penggantian atau retur komoditi beras tersebut kepada KPM.

Dijelaskan, total ada 60 lebih KPM yang menerima beras mangkak dan berbau apek tersebut. Semua beras yang tidak layak konsumsi itu sudah diganti dengan beras yang kualitasnya lebih baik. “Termasuk beras yang sudah dibawa pulang juga sudah kami ganti. Kita turun bersama tim dari kecamatan,’’ tambahnya.

Bukan hanya itu, ia juga menindaklanjuti temuan penentuan harga tak wajar pada sejumlah komoditi Bansos pangan di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak. Termasuk melakukan evaluasi internal dan mengirim surat laporan ke BNI sebagai bank penyalur. ”Kita sudah bersurat ke BNI. Nanti kita sama-sama evaluasi untuk pembinaan lebih lanjut,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Bantuan Biogas dari Kemendes PDTT Juga Mangkrak

Dinsos sendiri tidak memiliki wewenang untuk memberikan sanksi ke agen e-warong. Dalam hal ini menurutnya BNI yang berwenang memberikan sanski terhadap e-Warong nakal. ”Kita di Dinsos hanya memberi masukan dan saran. Sedangkan sanksi berada di BNI,’’ jelasnya lagi.

Sejak awal, Dinsos sudah memberi sosialisasi agar penentuan harga komoditi pangan berpedoman pada instansi yang berwenang. Termasuk memperhatikan perkembangan harga jual di pasar tradisional. ”Memang harga tidak sama antara satu daerah dengan daerah lain. Namun pada intinya, dari kejadian itu terutama keberadaan e-Warong kita evaluasi,’’ pungkas Hari.

Seperti diberitakan sebelumnya, KPM program bantuan sosial (Bansos) pangan pengganti bantuan pangan non tunai (BPNT) di Dusun Mejono, Desa Keras, Kecamatan Diwek, mengeluhkan komiditi beras yang diterima, Rabu (24/8). Selain tak layak konsumsi karena berbau apek, warna beras juga mangkak kekuning-kuningan.

Selain beras yang kualitasnya rendah, penyaluran Bansos pangan kali ini hanya menerima tiga komoditi. Meliputi bawang putih setengah kilogram, beras 15 Kg dan telur 20 butir dengan kisaran berat 1,25 Kg.

Baca Juga :  Wujudkan Hubungan Industrial Harmonis Pekerja, Pengusaha dan Pemda

Sementara di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, sehari sebelumnya, penyaluran Bansos pangan justru nilainya lebih mahal dibandingkan harga di pasar tradisional. Di desa ini, setiap KPM menerima lima komoditi. Lima komoditi itu meliputi beras 10 kilogram dengan harga Rp 95 ribu, daging ayam 1 kilogram dengan harga Rp 37 ribu, telur 16 butir Rp 36.500, bawang merah setengah kilogram Rp 16.500 dan kacang hijau setengah kilogram Rp 15.500. Sehingga total bantuan seharga Rp 200 ribu.

Padahal, hasil pantauan harga daging ayam di Pasar Pon Jombang per kilogramnya hanya Rp 32 ribu. Telur ayam Rp 28 ribu perkilogram. Beras merk IR 64 Rp 9.500, bawang merah Rp 25 ribu per kilogram atau Rp 12.500 per setengah kilogram dan kacang hijau Rp 21 ribu perkilogram atau Rp 10.500 per setengah kilogram. (ang/bin/riz)






Reporter: Anggi Fridianto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/