alexametrics
26.4 C
Jombang
Wednesday, May 25, 2022

Hari Ini Gelar Pertemuan dengan Petani

JOMBANG –  Keluhan petani di wilayah Kecamatan Kesamben yang lahannya terendam banjir mendapat perhatian dari dinas. Sebagai tindak lanjut, rencana hari ini menggelar pertemuan dengan perwakilan petani untuk mencari solusi.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kesamben Sugeng menerangkan, pantauan sementara kondisi lahan pertanian terdampak luapan saluran pembuang belum surut total. ”Jadi sudah mulai berangsur surut. Seperti di Pojokrejo tadi (kemarin, Red) saya pantau,” kata Sugeng dikonfirmasi.

Meski demikian, diakui di beberapa lokasi lain, mulai Desa Podoroto, Jombatan, Kedungmelati hingga Desa Kedungbetik, rendaman masih terjadi. ”Sampai tiga hari ini (kemarin, Red) di Ngemplak (Desa Podoroto, Red), lalu Kedungpapar. Masalanya ya tetap dari afvoer (saluran buang, Red) itu saja, tidak ada yang lain,” imbuh dia.

Pihaknya belum berani memastikan rendaman susulan ini berdampak hingga berapa hektare sawah. Alasannya, wilayah yang terdampak tak mengalami perubahan. Sehingga, tak dilakukan pendataan ulang. ”Ya tetap lokasinya, karena satu aliran. Nggak ada tambahan lagi, awalnya kemarin 251 hektare sudah kami kirim sesuai kriteria. ringan, sedang sampai berat,” ujar Sugeng.

Dia tak menampik, usai surut kondisi tanaman bakal tak sama. Tak sedikit petani yang akan kembali tanam.”Iya, biasanya di sana itu tandur dua sampai tiga kali. Kadang ada yang sudah siap benih, jadi sudah ada jagane istilahnya kalau musim hujan, karena kalau nunggu bantuan bisa-bisa tak jadi tanam,” terangnya.

Karerna itu lanjut Sugeng, direncanakan hari ini bakal ada pertemuan dengan berbagai pihak. Mulai kelompok tani hinga organisasi perangkat daerah (OPD) teknis. ”Rencananya Senin (24/1) pak camat kepingin rapat koordinasi dengan gapoktan, poktan sama dinas. Bahas semua masalah pertanian,” kata Sugeng.

Seperti diberitakan sebelumnya, banjir yang merendam ratusan hektare sawah di sejumlah desa di Kecamatan Kesamben bukan kali pertama. Hampir setiap tahun terjadi. Petani berharap pemkab punya solusi konkret.

Baca Juga :  Hampir Seminggu Terendam Air, Tanaman Padi di Jombang Terancam Mati

Abdul Wahab ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben menuturkan, bukan kali ini lahan pertanian warga di Kecamatan Kesamben jadi jujukan genangan air. Hampir setiap musim hujan, puluhan hingga ratusan hektare sawah rusak akibat terendam banjir. ”Apalagi genangannya tidak hanya sehari dua hari, bahkan sampai seminggu, sehingga tanaman petani banyak yang rusak karena terlalu lama tergenang,” terang Wahab kepada Jawa Pos Radar Jombang, Minggu (16/1) kemarin.

Dari pengamatannya di lapangan, problem mendasarya ada pada saluran pembuang yang tidak maksimal, selain juga faktor tingginya curah hujan. ”Harapannya ketika ada air besar datang (sawah kebanjiran, Red), pembuangnya juga harus cepat,” kata Wahab

Dijelaskan, sepanjang belum ada solusi penanganan saluran buang, diperkirakan problem itu bakal terus menghantui petani setiap musim penghujan. ”Jadi, harus ada perbaikan di saluran pembuang. Karena kalau pengambilan (saluran pembawa, Red), Insya Allah aman,” imbuh dia.

Sebab menurut dia, kondisi saluran pembuang sebagian besar tak maksimal. Ketika air meluap, bakal nandon di lahan pertanian. ”Intinya ketika air datang, buangnya juga harus besar. Apakah itu saluran tersier, sekunder dan sebagainya kalau bisa diperbaiki lagi. Waktu banjir ini agak lama, itu karena pembuangnya ada masalah,” sambung Wahab.

Tak maksimalnya fungsi saluran pembuang, lanjut dia, semakin terlihat. Sebab, air yang membuat ratusan hektare sawah terendam juga berasal dari luapan pembuang atau afvoer. Terlebih wilayah setempat memiliki banyak afvoer yang muaranya berada di Afvoer Watudakon. ”Kondisi pembuang nggak muat, akhirnya lari ke sawah. Jangankan yang tersier atau sekunder, batas sawah saja kalau banjir sudah tidak kelihatan,” tutur dia.

Baca Juga :  Rehab Pasar Tunggorono, Ratusan Pedagang Bakal Dipindah

Karena itu, dampak yang dirasakan tanaman petani rusak hingga harus tanam ulang. ”Alhamdulillah hari ini (kemarin, Red) mulai surut. Cuma, jelas ada yang sulam dan tanam ulang. Cuma kita juga waswas jika ada hujan susulan,” lanjut Wahab.

Kini para petani tak bisa berbuat banyak. Biaya operasional bakal membengkak, terlebih sekarang pasokan pupuk subsidi juga telat. ”Kalau pun ada bantuan benih yang siap tanam, kalau masih berupa gabah itu butuh proses. Paling tidak setengah bulan, jelas tanamnya telat,” kata Wahab.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan hektare areal pertanian di wilayah Kecamatan Kesamben sudah hampir sepekan terendam banjir. Dari 251 hektare lahan yang terendam, sekitar 30 hektare tanaman padi yang tak bisa diselamatkan. Petani pun terpaksa merogoh uang lebih besar lantaran biaya operasional membengkak untuk tanam ulang. Terlebih genangan air tak kunjung surut.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M. Rony mengatakan, sudah melakukan pendataan area sawah di Kecamatan Kesamben yang terendam banjir. ”Pantauan Jumat kemarin, tanaman usia satu dua minggu sudah tergenang empat sampai lima hari,” katanya dikonfirmasi, Sabtu kemarin (15/1). Hasil survey yang dilakukan, dari ratusan hektare sawah yang terendam itu tak semua bisa diselamatkan. ”Potensi puso kurang lebih 30 hektare,” imbuh dia.

Selain di Kecamatan Kesamben, sawah terendam juga terlihat di Kecamatan Megaluh. Namun tak separah di Kecamatan Kesamben. ”Di Desa Balongsari Kecamatan Megaluh kurang lebih 10 hektare, kondisi belum ada tanaman. Juga di Desa Sidomulyo kurang lebih 8 hektare, mulai persemaian,” tutur Rony

- Advertisement -

JOMBANG –  Keluhan petani di wilayah Kecamatan Kesamben yang lahannya terendam banjir mendapat perhatian dari dinas. Sebagai tindak lanjut, rencana hari ini menggelar pertemuan dengan perwakilan petani untuk mencari solusi.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kesamben Sugeng menerangkan, pantauan sementara kondisi lahan pertanian terdampak luapan saluran pembuang belum surut total. ”Jadi sudah mulai berangsur surut. Seperti di Pojokrejo tadi (kemarin, Red) saya pantau,” kata Sugeng dikonfirmasi.

Meski demikian, diakui di beberapa lokasi lain, mulai Desa Podoroto, Jombatan, Kedungmelati hingga Desa Kedungbetik, rendaman masih terjadi. ”Sampai tiga hari ini (kemarin, Red) di Ngemplak (Desa Podoroto, Red), lalu Kedungpapar. Masalanya ya tetap dari afvoer (saluran buang, Red) itu saja, tidak ada yang lain,” imbuh dia.

Pihaknya belum berani memastikan rendaman susulan ini berdampak hingga berapa hektare sawah. Alasannya, wilayah yang terdampak tak mengalami perubahan. Sehingga, tak dilakukan pendataan ulang. ”Ya tetap lokasinya, karena satu aliran. Nggak ada tambahan lagi, awalnya kemarin 251 hektare sudah kami kirim sesuai kriteria. ringan, sedang sampai berat,” ujar Sugeng.

Dia tak menampik, usai surut kondisi tanaman bakal tak sama. Tak sedikit petani yang akan kembali tanam.”Iya, biasanya di sana itu tandur dua sampai tiga kali. Kadang ada yang sudah siap benih, jadi sudah ada jagane istilahnya kalau musim hujan, karena kalau nunggu bantuan bisa-bisa tak jadi tanam,” terangnya.

Karerna itu lanjut Sugeng, direncanakan hari ini bakal ada pertemuan dengan berbagai pihak. Mulai kelompok tani hinga organisasi perangkat daerah (OPD) teknis. ”Rencananya Senin (24/1) pak camat kepingin rapat koordinasi dengan gapoktan, poktan sama dinas. Bahas semua masalah pertanian,” kata Sugeng.

- Advertisement -

Seperti diberitakan sebelumnya, banjir yang merendam ratusan hektare sawah di sejumlah desa di Kecamatan Kesamben bukan kali pertama. Hampir setiap tahun terjadi. Petani berharap pemkab punya solusi konkret.

Baca Juga :  Disnaker Klaim PPKM Tak Picu Gelombang PHK Buruh di Jombang

Abdul Wahab ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben menuturkan, bukan kali ini lahan pertanian warga di Kecamatan Kesamben jadi jujukan genangan air. Hampir setiap musim hujan, puluhan hingga ratusan hektare sawah rusak akibat terendam banjir. ”Apalagi genangannya tidak hanya sehari dua hari, bahkan sampai seminggu, sehingga tanaman petani banyak yang rusak karena terlalu lama tergenang,” terang Wahab kepada Jawa Pos Radar Jombang, Minggu (16/1) kemarin.

Dari pengamatannya di lapangan, problem mendasarya ada pada saluran pembuang yang tidak maksimal, selain juga faktor tingginya curah hujan. ”Harapannya ketika ada air besar datang (sawah kebanjiran, Red), pembuangnya juga harus cepat,” kata Wahab

Dijelaskan, sepanjang belum ada solusi penanganan saluran buang, diperkirakan problem itu bakal terus menghantui petani setiap musim penghujan. ”Jadi, harus ada perbaikan di saluran pembuang. Karena kalau pengambilan (saluran pembawa, Red), Insya Allah aman,” imbuh dia.

Sebab menurut dia, kondisi saluran pembuang sebagian besar tak maksimal. Ketika air meluap, bakal nandon di lahan pertanian. ”Intinya ketika air datang, buangnya juga harus besar. Apakah itu saluran tersier, sekunder dan sebagainya kalau bisa diperbaiki lagi. Waktu banjir ini agak lama, itu karena pembuangnya ada masalah,” sambung Wahab.

Tak maksimalnya fungsi saluran pembuang, lanjut dia, semakin terlihat. Sebab, air yang membuat ratusan hektare sawah terendam juga berasal dari luapan pembuang atau afvoer. Terlebih wilayah setempat memiliki banyak afvoer yang muaranya berada di Afvoer Watudakon. ”Kondisi pembuang nggak muat, akhirnya lari ke sawah. Jangankan yang tersier atau sekunder, batas sawah saja kalau banjir sudah tidak kelihatan,” tutur dia.

Baca Juga :  Jumlah Surat Suara Belum Lengkap, Masih Kurang 11.167 Lembar

Karena itu, dampak yang dirasakan tanaman petani rusak hingga harus tanam ulang. ”Alhamdulillah hari ini (kemarin, Red) mulai surut. Cuma, jelas ada yang sulam dan tanam ulang. Cuma kita juga waswas jika ada hujan susulan,” lanjut Wahab.

Kini para petani tak bisa berbuat banyak. Biaya operasional bakal membengkak, terlebih sekarang pasokan pupuk subsidi juga telat. ”Kalau pun ada bantuan benih yang siap tanam, kalau masih berupa gabah itu butuh proses. Paling tidak setengah bulan, jelas tanamnya telat,” kata Wahab.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan hektare areal pertanian di wilayah Kecamatan Kesamben sudah hampir sepekan terendam banjir. Dari 251 hektare lahan yang terendam, sekitar 30 hektare tanaman padi yang tak bisa diselamatkan. Petani pun terpaksa merogoh uang lebih besar lantaran biaya operasional membengkak untuk tanam ulang. Terlebih genangan air tak kunjung surut.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M. Rony mengatakan, sudah melakukan pendataan area sawah di Kecamatan Kesamben yang terendam banjir. ”Pantauan Jumat kemarin, tanaman usia satu dua minggu sudah tergenang empat sampai lima hari,” katanya dikonfirmasi, Sabtu kemarin (15/1). Hasil survey yang dilakukan, dari ratusan hektare sawah yang terendam itu tak semua bisa diselamatkan. ”Potensi puso kurang lebih 30 hektare,” imbuh dia.

Selain di Kecamatan Kesamben, sawah terendam juga terlihat di Kecamatan Megaluh. Namun tak separah di Kecamatan Kesamben. ”Di Desa Balongsari Kecamatan Megaluh kurang lebih 10 hektare, kondisi belum ada tanaman. Juga di Desa Sidomulyo kurang lebih 8 hektare, mulai persemaian,” tutur Rony

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/