alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

DPRD Jombang Dorong Pemkab Perhatikan Nasib Petani Kesamben

SEMENTARA itu, keluhan petani terkait banjir yang merendam ratusan hektare sawah di Kecamatan Kesamben memantik respons dewan. Selain mendesak penanganan konkret, juga dukungan bantuan kepada petani.

”Dinas melalui PPL (penyuluh petani lapangan) bisa segera melakukan pendataan tanaman petani yang mati. Apakah itu sudah diasuransikan atau belum. Apabila sudah diasuransikan, tanaman padi yang mati harus segera digantikan. Terhadap sawah belum terdaftar asuransi segera diasuransikan,” terang Sunardi Ketua Komisi B DPRD Jombang, kemarin.

Menurutnya, di masa pandemi seperti sekarang ini, perhatian ke petani harus ditingkatkan. Jangan sampai petani kembali mengalami kesulitan. “Petani harus mendapat perhatian lebih,” katanya.

Dirinya juga akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR, untuk mempertanyakan kondisi sungai di wilayah sekitar. Karena sepengetahuannya, dinas sudah melakukan normalisasi sungai di wilayah Kecamatan Kesamben. “Ini kami akan koordinasi dulu dengan dinas terkait, apa yang menyebabkan terjadinya luapan. Yang jelas harus diupayakan segera ada penanganan konkret,” katanya.

Baca Juga :  Mendag Agendakan Pertemuan Khusus Dengan Menteri Ekonomi ASEAN di Bali

Terpisah, Bayu Pancoroadi Kepala Dinas PUPR Jombang menuturkan, saluran pembuang atau Afvoer Watudakon menjadi penentu banjir merendam sawah di Kecamatan Kesamben. Sebab, avfoer itu memiliki sejumlah anak saluran pembuang. ”Jadi di Kecamatan Kesamben itu muaranya Afvoer Watudakon, dari sana hilirnya ada di Surabaya. Ketika posisi hilir air masih tinggi, otomatis surutnya Avfoer Watudakon juga lambat,” kata Bayu dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jombang.

Anak saluran pembuang yang bermuara di Afvoer Watudakon juga tak sedikit. Menurut Bayu, ada sekira lima afvoer. ”Sehingga mau tidak mau di wilayah Kesamben, baik di Podoroto, Jombatan, Kedungbetik dan lainnya juga lambat. Karena harus antre,” imbuh dia.

Kondisi itu lanjut dia, juga ditambah, lantaran air yang masuk ke Afvoer Watudakon tak hanya dari Jombang. ”Juga dari Mojokerto. Jadi ketika muka air hilir (Surabaya, Red) masih tinggi. Mau tidak mau sekitar lima afvoer di Kesamben juga antre,” sambung Bayu.

Baca Juga :  Progres Minus, Proyek Kantor Kecamatan Sumobito Jombang Terancam Molor

Menurutnya, pemkab sudah berupaya melakukan normalisasi di beberapa saluran pembuang. Harapannya memperbesar daya tampung air. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil optimal. ”Karena semua bergantung Afvoer Watudakon, tinggal melihat kondisi hilir bagaimana, apakah tinggi atau tidak, kalau (hilir, Red) masih tinggi, mau tidak mau yang di hulu tidak bisa masuk,” terang dia.

Selain itu lanjut Bayu, beberapa lokasi disebabkan areal pertanian lebih rendah dari saluran buang. Salah satu di antaranya Desa Podoroto. ”Posisi di Podoroto itu topografi areal pertanian lebih rendah, jadi ketika afvoer (saluran pembuang, Red) masih tinggi, air yang ada di persawahan tidak bisa masuk. Sehingga harus nunggu (saluran pembuang, Red) surut dahulu,” kata Bayu.

- Advertisement -

SEMENTARA itu, keluhan petani terkait banjir yang merendam ratusan hektare sawah di Kecamatan Kesamben memantik respons dewan. Selain mendesak penanganan konkret, juga dukungan bantuan kepada petani.

”Dinas melalui PPL (penyuluh petani lapangan) bisa segera melakukan pendataan tanaman petani yang mati. Apakah itu sudah diasuransikan atau belum. Apabila sudah diasuransikan, tanaman padi yang mati harus segera digantikan. Terhadap sawah belum terdaftar asuransi segera diasuransikan,” terang Sunardi Ketua Komisi B DPRD Jombang, kemarin.

Menurutnya, di masa pandemi seperti sekarang ini, perhatian ke petani harus ditingkatkan. Jangan sampai petani kembali mengalami kesulitan. “Petani harus mendapat perhatian lebih,” katanya.

Dirinya juga akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR, untuk mempertanyakan kondisi sungai di wilayah sekitar. Karena sepengetahuannya, dinas sudah melakukan normalisasi sungai di wilayah Kecamatan Kesamben. “Ini kami akan koordinasi dulu dengan dinas terkait, apa yang menyebabkan terjadinya luapan. Yang jelas harus diupayakan segera ada penanganan konkret,” katanya.

Baca Juga :  Berusaha Redam Konflik, Alumni Undar Jombang Gelar Pertemuan

Terpisah, Bayu Pancoroadi Kepala Dinas PUPR Jombang menuturkan, saluran pembuang atau Afvoer Watudakon menjadi penentu banjir merendam sawah di Kecamatan Kesamben. Sebab, avfoer itu memiliki sejumlah anak saluran pembuang. ”Jadi di Kecamatan Kesamben itu muaranya Afvoer Watudakon, dari sana hilirnya ada di Surabaya. Ketika posisi hilir air masih tinggi, otomatis surutnya Avfoer Watudakon juga lambat,” kata Bayu dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jombang.

Anak saluran pembuang yang bermuara di Afvoer Watudakon juga tak sedikit. Menurut Bayu, ada sekira lima afvoer. ”Sehingga mau tidak mau di wilayah Kesamben, baik di Podoroto, Jombatan, Kedungbetik dan lainnya juga lambat. Karena harus antre,” imbuh dia.

- Advertisement -

Kondisi itu lanjut dia, juga ditambah, lantaran air yang masuk ke Afvoer Watudakon tak hanya dari Jombang. ”Juga dari Mojokerto. Jadi ketika muka air hilir (Surabaya, Red) masih tinggi. Mau tidak mau sekitar lima afvoer di Kesamben juga antre,” sambung Bayu.

Baca Juga :  Pemkab Jombang Raih 10 Penghargaan Bergengsi Sepanjang 2021

Menurutnya, pemkab sudah berupaya melakukan normalisasi di beberapa saluran pembuang. Harapannya memperbesar daya tampung air. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil optimal. ”Karena semua bergantung Afvoer Watudakon, tinggal melihat kondisi hilir bagaimana, apakah tinggi atau tidak, kalau (hilir, Red) masih tinggi, mau tidak mau yang di hulu tidak bisa masuk,” terang dia.

Selain itu lanjut Bayu, beberapa lokasi disebabkan areal pertanian lebih rendah dari saluran buang. Salah satu di antaranya Desa Podoroto. ”Posisi di Podoroto itu topografi areal pertanian lebih rendah, jadi ketika afvoer (saluran pembuang, Red) masih tinggi, air yang ada di persawahan tidak bisa masuk. Sehingga harus nunggu (saluran pembuang, Red) surut dahulu,” kata Bayu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/