alexametrics
22.5 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Komitmen Pemkab Jombang Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

JOMBANG – Pemkab Jombang menaruh perhatian besar terhadap isu lingkungan. Salah satunya mendorong upaya penggunaan dan pengembangan sumber energi alternatif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan pembangunan biogas ternak sapi.

Danang Praptoko Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jombang menjelaskan, pengembangan biogas dinilai layak dari sisi teknis, ekonomi dan lingkungan. ”Pengembangan biogas masih difokuskan di Kecamatan Wonosalam. Karena di sana memiliki populasi sapi dan ternak paling banyak,” kata Danang kepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis (9/12) kemarin.

Dijelaskan, di kecamatan itu kini memiliki 154 biogas. Lokasinya menyebar di tujuh desa. Pembangunannya bersumber dari APBD kabupaten, provinsi dan didukung CSR, serta swadaya mandiri. ”Pada 2021 melalui DLH dianggarkan dan dibangun tujuh reaktor biogas di Desa Galengdowo,” imbuh dia.

Tak berhenti sampai di situ saja, rencananya, lanjut Danang tahun depan juga akan dibangun di Desa Carangwulung sebanyak enam unit. ”Jadi ini sebagai salah satu upaya percepatan target nasional penurunan emisi gas rumah kaca,” sambung Danang.

Baca Juga :  Dinas PUPR Jombang Jadi Penunjang Wisata Wonosalam

Pemerintah melalui Kementerian ESDM kata Danang, juga memberi dukungan melalui pembangunan solar cell roof top dan pembangunan IPAl biogas limbah domestik dan retrofit Led untuk pondok pesantren di Jombang.

Dijelaskan, langkah itu dilakukan lantaran persoalan perubahan ikim sudah menjadi fenomena lingkungan yang nyata dan diakui menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia. ”Kenaikan suhu bumi meningkatkan ancaman terhadap risiko terjadinya bencana terkait iklim seperti banjir, longsor, kekeringan, gagal panen, keragaman hayati, kenaikan muka air laut serta kesehatan manusia,” tutur dia.

Dia lantas mencontohkan, bencana banjir yang dialami beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur. Perubahan iklim sebuah realitas yang sudah dirasakan secara luas di berbagai belahan dunia. ”Sehingga diperlukan aksi nyata untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim serta upaya pengurangan emisi GRK sebagai komponen yang diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan,” terang dia.

Baca Juga :  BLT UMKM di Jombang Tak Kunjung Cair

Karena itu lanjut dia, tantangan dampak perubahan iklim perlu disikapi. Tentunya dengan memperkuat aksi nyata di tingkat lokal.

Bisa berkontribusi upaya mitigasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta upaya adaptasi meningkatkan kapasitas seluruh pihak. ”Aksi nyata adaptasi dan mitigasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penerapan strategi pembangunan rendah karbon dan tahan perubahan iklim, ini perlu dikembangkan dan diperkuat pelaksanaannya,” ujar Danang.

Pengembangan sistem komunikasi, informasi, dan edukasi publik menurutnya, dapat mendukung implementasi pembangunan yang adaptif. Karena dapat meningkatkan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat. ”Yakni melalui berbagai inisiatif lokal yang berkembang di lingkungan sosial kemasyarakatan dikembangkan bersama dengan pembangunan sarana prasarana,” tandas Danang.

- Advertisement -

JOMBANG – Pemkab Jombang menaruh perhatian besar terhadap isu lingkungan. Salah satunya mendorong upaya penggunaan dan pengembangan sumber energi alternatif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan pembangunan biogas ternak sapi.

Danang Praptoko Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jombang menjelaskan, pengembangan biogas dinilai layak dari sisi teknis, ekonomi dan lingkungan. ”Pengembangan biogas masih difokuskan di Kecamatan Wonosalam. Karena di sana memiliki populasi sapi dan ternak paling banyak,” kata Danang kepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis (9/12) kemarin.

Dijelaskan, di kecamatan itu kini memiliki 154 biogas. Lokasinya menyebar di tujuh desa. Pembangunannya bersumber dari APBD kabupaten, provinsi dan didukung CSR, serta swadaya mandiri. ”Pada 2021 melalui DLH dianggarkan dan dibangun tujuh reaktor biogas di Desa Galengdowo,” imbuh dia.

Tak berhenti sampai di situ saja, rencananya, lanjut Danang tahun depan juga akan dibangun di Desa Carangwulung sebanyak enam unit. ”Jadi ini sebagai salah satu upaya percepatan target nasional penurunan emisi gas rumah kaca,” sambung Danang.

Baca Juga :  Dinas PUPR Jombang Jadi Penunjang Wisata Wonosalam

Pemerintah melalui Kementerian ESDM kata Danang, juga memberi dukungan melalui pembangunan solar cell roof top dan pembangunan IPAl biogas limbah domestik dan retrofit Led untuk pondok pesantren di Jombang.

Dijelaskan, langkah itu dilakukan lantaran persoalan perubahan ikim sudah menjadi fenomena lingkungan yang nyata dan diakui menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia. ”Kenaikan suhu bumi meningkatkan ancaman terhadap risiko terjadinya bencana terkait iklim seperti banjir, longsor, kekeringan, gagal panen, keragaman hayati, kenaikan muka air laut serta kesehatan manusia,” tutur dia.

- Advertisement -

Dia lantas mencontohkan, bencana banjir yang dialami beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur. Perubahan iklim sebuah realitas yang sudah dirasakan secara luas di berbagai belahan dunia. ”Sehingga diperlukan aksi nyata untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim serta upaya pengurangan emisi GRK sebagai komponen yang diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan,” terang dia.

Baca Juga :  Wabup Sumrambah Buka Musrenbang Tingkat Kabupaten

Karena itu lanjut dia, tantangan dampak perubahan iklim perlu disikapi. Tentunya dengan memperkuat aksi nyata di tingkat lokal.

Bisa berkontribusi upaya mitigasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta upaya adaptasi meningkatkan kapasitas seluruh pihak. ”Aksi nyata adaptasi dan mitigasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penerapan strategi pembangunan rendah karbon dan tahan perubahan iklim, ini perlu dikembangkan dan diperkuat pelaksanaannya,” ujar Danang.

Pengembangan sistem komunikasi, informasi, dan edukasi publik menurutnya, dapat mendukung implementasi pembangunan yang adaptif. Karena dapat meningkatkan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat. ”Yakni melalui berbagai inisiatif lokal yang berkembang di lingkungan sosial kemasyarakatan dikembangkan bersama dengan pembangunan sarana prasarana,” tandas Danang.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/