alexametrics
21.9 C
Jombang
Monday, August 8, 2022

Pengadaan Masker Rp 400 Juta Lebih; Dilakukan Dinkes, Digunakan DLH

JOMBANG – Pemkab Jombang diam-diam melakukan pengadaan barang dengan jumlah besar dalam pandemi covid ini. Tak tanggung-tanggung, anggaran yang dikeluarkan Rp 400 juta untuk membeli ribuan masker, sarung tangan dan hand sanitizer bagi pasukan kuning.

Tri Endah Sektiwati, Kabag Perekonomian Setdakab Jombang menyebut, pengadaan ini memang dilakukan setelah ada refocussing yang dilakukan pada sektor dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2020 yang diarahkan pada Dinas Kesehatan, berkaitan dengan penanganan pandemi Covid-19.

“Nilai totalnya untuk Dinkes ada Rp 722.193.450, namun dalam perjalanannya dana ini dibagi,” lanjutnya. Ia menyebut, pembagian tetap dilakukan Dinkes, kendati penerima manfaatnya adalah dinas lingkungan hidup (DLH). Penerima manfaat itu setelah DLH mengusulkan pemberian masker dan alat kesehatan lain untuk pasukan kuning.

“DLH berpendapat pasukan kuning ini tidak bisa work from home, dan mereka pekerjaannya sangat berisiko dengan penularan virus. Sehingga dialokasikanlah sebagain besar dana dari DBHCT itu kesana,” tambahnya.

Endah merinci, pembagian dana ini dilakukan sebesar Dinkes Rp 457.601.000 untuk kebutuhan DLH, dan Rp 264.592.450 tetap digunakan Dinkes sendiri. “Waktu itu, kebutuhan DLH yang saya tahu masker, sarung tangan, sabun dan beberapa alat lain, seluruhnya untuk pasukan kuning, selama tiga bulan,” rinci dia.

Proses pengadaan ini tetap dilakukan Dinkes lantaran dana DBHCHT memang dialokasikan untuk Dinkes. Selain itu alasan lain yang ia kemukakan, lantaran pertimbangan barang alat kesehatan, hingga tak bisa dilakukan sembarangan dinas. “Ini adalah alat kesehatan, pengadaannya harus dilakukan sama Dinkes. Kan tidak mungkin titip rumah sakit,” lontarnya.

Baca Juga :  Dana Desa Dipakai BLT, Pemkab Jombang Mulai Data Calon Penerima

Kendati demikian, pihaknya mengaku tak tahu pasti sejauh mana pengadaan alkes yang telah berjalan. Endah juga meminta agar masalah ini bisa ditanyakan langsung ke OPD terkait. “Kalau pelaksanaannya saya tidak tahu, yang jelas kita operator, tahu angka global saja, untuk teknisnya bisa dikonfirmasi ke OPD,” pungkasnya.

Mulai Bermasalah, Dua OPD Saling Tuding

BELUM sempurna pengadaan alkes untuk pasukan kuning, ternyata mulai timbul masalah. Ini setelah masker yang dikirim untuk pasukan kuning DLH justru berbahan kain dengan ukuran yang tidak pas. Sedangkan Dinkes sendiri menyebut pengadaan belum dilakukan.  

Abdul Qudus, Plt Kepala DLH Jombang mengakui adanya permintaan pengadaan alat kesehatan, setelah pertimbangan keamanan pasukan kuning yang setiap hari berada di luar rumah. “Karena kebutuhan teman-teman ini penting, dan ada peluang, kita mengajukan dan ternyata diterima, prosesnya juga tetap dilakukan Dinkes,” terangnya.

Kebutuhan yang diajukannya adalah alat-alat kesehatan seperti masker, sarung tangan dan sabun cuci tangan. Termasuk vitamin C yang diberikan setiap hari untuk semua pasukan kuning. Jumlahnya mencapai 36.270 buah untuk masing -masing item, kecuali sabun cuci tangan.

“Hitungan kami waktu karena masker sekali pakai, vitamin c satu hari satu butir, dan sarung tangan satu. Pasukan kuning yang ada 403 orang dan perhitungan kita setiap hari selama 90 hari,” lanjut dia.

Baca Juga :  Aset Pemkab Jombang Senilai Ratusan Miliar Terancam Hilang

Masalah mulai muncul, ketika masker yang awalnya direncanakan adalah masker surgical sekali pakai, kemudian berganti menjadi masker kain. Menurut Qudus perubahan itu terjadi lantaran adanya imbauan pemerintah dengan tetap dilakukan Dinkes. “Perubahan kita tidak tahu, perencanaan awal memang bukan kain, tapi waktu dikirim ternyata kain yang datang,” tambahnya.

Qudus menyebut masker kain sudah dikirim rekanan beberapa minggu lalu. Pengiriman juga sudah dilakukan sebanyak dua kali meski belum seluruhnya mencukupi. “Jadi barangnya sudah datang, rekanan yang mengantar ngomong kalau barang ini dari Dinkes. Cuma sampai sekarang belum dibagikan karena setelah dicek ukurannya kekecilan,” ucap pria yang juga menjabat Staf Ahli Bupati ini.

Dikonfirmasi terpisah, drg Subandriyah, Kepala Dinkes Jombang.menyebut, pengadaan masker dan alat kesehatan  memang telah direncanakan. Namun prosesnya hingga kini belum berlangsung. “Dana DBHCHT untuk DLH belum diadakan sampai sekarang. Anggaran memang dilimpahkan ke kita, cuma proses pengadaan belum dilakukan,” ucapnya kemarin (27/4).

Disinggung keberadaan masker di DLH ia mengaku tidak tahu dan enggan berkomentar banyak. “Urusan ada atau tidak, saya tidak berkomentar banyak, yang jelas dari kita belum mengadakan. Dana juga masih tersimpan di rekening Dinkes,” singkatnya.

- Advertisement -

JOMBANG – Pemkab Jombang diam-diam melakukan pengadaan barang dengan jumlah besar dalam pandemi covid ini. Tak tanggung-tanggung, anggaran yang dikeluarkan Rp 400 juta untuk membeli ribuan masker, sarung tangan dan hand sanitizer bagi pasukan kuning.

Tri Endah Sektiwati, Kabag Perekonomian Setdakab Jombang menyebut, pengadaan ini memang dilakukan setelah ada refocussing yang dilakukan pada sektor dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2020 yang diarahkan pada Dinas Kesehatan, berkaitan dengan penanganan pandemi Covid-19.

“Nilai totalnya untuk Dinkes ada Rp 722.193.450, namun dalam perjalanannya dana ini dibagi,” lanjutnya. Ia menyebut, pembagian tetap dilakukan Dinkes, kendati penerima manfaatnya adalah dinas lingkungan hidup (DLH). Penerima manfaat itu setelah DLH mengusulkan pemberian masker dan alat kesehatan lain untuk pasukan kuning.

“DLH berpendapat pasukan kuning ini tidak bisa work from home, dan mereka pekerjaannya sangat berisiko dengan penularan virus. Sehingga dialokasikanlah sebagain besar dana dari DBHCT itu kesana,” tambahnya.

Endah merinci, pembagian dana ini dilakukan sebesar Dinkes Rp 457.601.000 untuk kebutuhan DLH, dan Rp 264.592.450 tetap digunakan Dinkes sendiri. “Waktu itu, kebutuhan DLH yang saya tahu masker, sarung tangan, sabun dan beberapa alat lain, seluruhnya untuk pasukan kuning, selama tiga bulan,” rinci dia.

Proses pengadaan ini tetap dilakukan Dinkes lantaran dana DBHCHT memang dialokasikan untuk Dinkes. Selain itu alasan lain yang ia kemukakan, lantaran pertimbangan barang alat kesehatan, hingga tak bisa dilakukan sembarangan dinas. “Ini adalah alat kesehatan, pengadaannya harus dilakukan sama Dinkes. Kan tidak mungkin titip rumah sakit,” lontarnya.

Baca Juga :  Aset Pemkab Jombang Senilai Ratusan Miliar Terancam Hilang
- Advertisement -

Kendati demikian, pihaknya mengaku tak tahu pasti sejauh mana pengadaan alkes yang telah berjalan. Endah juga meminta agar masalah ini bisa ditanyakan langsung ke OPD terkait. “Kalau pelaksanaannya saya tidak tahu, yang jelas kita operator, tahu angka global saja, untuk teknisnya bisa dikonfirmasi ke OPD,” pungkasnya.

Mulai Bermasalah, Dua OPD Saling Tuding

BELUM sempurna pengadaan alkes untuk pasukan kuning, ternyata mulai timbul masalah. Ini setelah masker yang dikirim untuk pasukan kuning DLH justru berbahan kain dengan ukuran yang tidak pas. Sedangkan Dinkes sendiri menyebut pengadaan belum dilakukan.  

Abdul Qudus, Plt Kepala DLH Jombang mengakui adanya permintaan pengadaan alat kesehatan, setelah pertimbangan keamanan pasukan kuning yang setiap hari berada di luar rumah. “Karena kebutuhan teman-teman ini penting, dan ada peluang, kita mengajukan dan ternyata diterima, prosesnya juga tetap dilakukan Dinkes,” terangnya.

Kebutuhan yang diajukannya adalah alat-alat kesehatan seperti masker, sarung tangan dan sabun cuci tangan. Termasuk vitamin C yang diberikan setiap hari untuk semua pasukan kuning. Jumlahnya mencapai 36.270 buah untuk masing -masing item, kecuali sabun cuci tangan.

“Hitungan kami waktu karena masker sekali pakai, vitamin c satu hari satu butir, dan sarung tangan satu. Pasukan kuning yang ada 403 orang dan perhitungan kita setiap hari selama 90 hari,” lanjut dia.

Baca Juga :  Biaya Pengurusan PTSL di Mancar Jombang Diduga Tabrak SKB Tiga Menteri

Masalah mulai muncul, ketika masker yang awalnya direncanakan adalah masker surgical sekali pakai, kemudian berganti menjadi masker kain. Menurut Qudus perubahan itu terjadi lantaran adanya imbauan pemerintah dengan tetap dilakukan Dinkes. “Perubahan kita tidak tahu, perencanaan awal memang bukan kain, tapi waktu dikirim ternyata kain yang datang,” tambahnya.

Qudus menyebut masker kain sudah dikirim rekanan beberapa minggu lalu. Pengiriman juga sudah dilakukan sebanyak dua kali meski belum seluruhnya mencukupi. “Jadi barangnya sudah datang, rekanan yang mengantar ngomong kalau barang ini dari Dinkes. Cuma sampai sekarang belum dibagikan karena setelah dicek ukurannya kekecilan,” ucap pria yang juga menjabat Staf Ahli Bupati ini.

Dikonfirmasi terpisah, drg Subandriyah, Kepala Dinkes Jombang.menyebut, pengadaan masker dan alat kesehatan  memang telah direncanakan. Namun prosesnya hingga kini belum berlangsung. “Dana DBHCHT untuk DLH belum diadakan sampai sekarang. Anggaran memang dilimpahkan ke kita, cuma proses pengadaan belum dilakukan,” ucapnya kemarin (27/4).

Disinggung keberadaan masker di DLH ia mengaku tidak tahu dan enggan berkomentar banyak. “Urusan ada atau tidak, saya tidak berkomentar banyak, yang jelas dari kita belum mengadakan. Dana juga masih tersimpan di rekening Dinkes,” singkatnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/