alexametrics
21.7 C
Jombang
Monday, August 8, 2022

Masker Sudah Tiba, Pasukan Kuning Jombang Justru Masih Pakai Buff

JOMBANG – Pasukan kuning yang bertugas di lapangan, ternyata tak semua mengenakan masker. Sebagian ada yang memakai buff atau masker untuk berkendara. Padahal, saat ini ada pengadaan masker yang dilakukan Dinkes untuk pasukan kuning DLH Jombang.

Seperti terpantau di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dusun Pulotawangsari, Desa Pulolor, Kecamatan/Kabupaten Jombang, kemarin (28/4). Usai membersihkan area taman, pasukan kuning ini kemudian membawa sampah ke tempat tersebut. Sebelum sampah itu dimasukkan ke bak yang sudah disediakan untuk diangkut mobil sampah.

Ada lebih dari enam orang pasukan kuning yang terlihat. Masing-masing, dua orang menggunakan kendaraan roda tiga, dan dua orang lainnya membawa mobil pengangkut sampah. Seluruhnya mengenakan masker. Namun masker yang dipakai, bukan masker pengadaan Dinkes, melainkan masker buff yang notabene untuk berkendara.

Menurut Tirto, salah satu pasukan kuning, sengaja memakai masker buff  karena lebih praktis. “Kesuwen soalnya masker yang ditali, lebih baik yang slobokan begini. Tinggal masukkan saja,” katanya sambil menekan kendaraan pengangkut sampah.

Masker buff itu sama persis dengan yang dikenakan rekan-rekan Tirto. Hampir seluruhnya memakai buff. Warnanya juga sama-sama hitam. Penggunaannya kadang tak tentu melihat situasi. “Kadang langsung dicuci, soalnya dibuat setiap hari. Jadi nggak bisa dipakai terus,” imbuh dia.

Dimasa pandemi Covid-19 Tirto sendiri sebenarnya juga merasa khawatir. Sama seperti warga umumnya, yang dia lakukan sementara hanya pencegahan. Terlebih aktivitasnya setiap hari berada di luar rumah. Kondisi ini ditambah pekerjaannya yang setiap hari bergelut dengan sampah.  

’Kalau khawatir ya jelas, namanya juga virus. Tapi pekerjaannya setiap hari dengan sampah. Mau tidak mau ya harus dicandak,” terangnya. Sebelumnya, kata dia, kantornya  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang sudah memberi masker. Namun dia tak mengetahui persis.

“Kalau nggak salah yang pertama itu dapat satu kali. Masker yang sekali pakai. Bukan yang seperti ini,” terang dia sembari menunjukkan buff miliknya.

Baca Juga :  Antisipasi Hujan, Kotak Suara Berbahan Kardus Dibungkus Plastik

Pernyataan senada disampaikan Sucipto, pasukan kuning lainnya yang juga mengenakan masker buff, bukan masker yang didapat dari kantor. “Pokoknya gonta-ganti masker, soalnya kita ini setiap hari kena sampah, debu dan sebagainya. Kalau harus pakai satu masker jelas tidak bagus,” sahut pak Cip, sapaannya.

Sepengetahuan dia, sudah menerima masker untuk setiap regu. “Dapat banyak kemarin, kurang lebih satu regu itu dapat16-an,” terang dia. Tidak disebutkan persis masker yang diterima, apakah masker kain atau masker surgical sekali pakai. Selain masker, mereka juga menerima sarung tangan. “Dapat sarung tangan seperti karet, tapi tidak saya pakai soalnya ribet,” pungkasnya.

Pengiriman Masker Tak Disertai Berita Acara

TERPISAH, pengadaan masker yang diterima DLH Jombang semakin janggal setelah masker yang dikirim pihak rekanan tak disertai berita acara serah terima. Sehingga hingga kemarin masker kain itu masih disimpan di ruangan yang terkunci.

Ketika kunci dibuka, semua masker masih dalam kemasan karung dan tas plastik merah. Hitungannya ada lebih dari 10 yang terdiri dari dua karung dan sisanya tas kantong besar warna merah.

Abdul Qudus Plt (Pelaksana tugas) DLH Jombang, melalui Ahmad Rofiq Ashari Kabid Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau mengaku sampai sekarang tidak berani membongkar masker-masker tersebut. Alasannya, pihak pengirim sampai sekarang belum jelas.

“Misal ini bicara pengadaan barang, mestinya harus ada persetujuan. Dan biasanya ada berita acara serah terima, dari siapa ke siapa. Itu ada persetujuan PPK juga, baru kemudian barang diberikan,” katanya kemarin. Kebiasaan ini tidak dilakukan pada pengadaan masker kain yang sudah tiba di DLH Jombang.

Sebab, yang diterima DLH Jombang hanya surat jalan. “Surat jalan, itu saja,” imbuh dia. Lantaran tidak mengetahui persis itulah maka masker sementara belum dibongkar dan dibagikan kepada pasukan kuning. Sehingga jumlahnya pasti  dia tak berani menyebut.

Baca Juga :  Nganggur Akibat Merger, Eks Kantor Disbudpar Dipakai Tim Saber Pungli

“Saya sendiri belum tahu ini ada berapa, yang jelas masker kain semua. Seluruhnya masih dibungkus, belum dibuka,” imbuhnya.

Lantas bagaimana bentuk pertanggungjawaban masker itu? Dia sendiri tak mengetahui persis. “Itu yang saya tidak tahu. Disini (DLH Jombang, Red) kan tidak ikut pengadaan barang. Sementara kabar dari dinkes sendiri kok belum melakukan pengadaan, terus ini barang milik siapa?,” tanya dia.

Kendati begitu, pihaknya sudah memberi sarung tangan kepada pasukan kuning. Namun, sarung tangan yang dibagikan sebelumnya beda pengirim. “Sebagian saja kita beri handscoon (sarung tangan) itu pun hanya sedikit. Paling hanya bisa dipakai untuk satu minggu,” pungkas Rofiq.

Sebelumnya, pengadaan barang dan alat kesehatan dengan jumlah besar dalam pandemi Covid-19 dilakukan diam-diam. Tak tanggung-tanggung, anggaran yang dikeluarkan Rp 400 juta lebih untuk membeli ribuan masker, sarung tangan dan hand sanitizer. Rencananya, sesuai usulan, ribuan masker itu untuk pasukan kuning.

Tri Endah Sektiwati, Kabag Perekonomian Setdakab Jombang menyebut, pengadaan masker memang dilakukan setelah ada refocussing pada sektor dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2020 yang diarahkan pada Dinas Kesehatan, berkaitan dengan penanganan pandemi Covid-19.

Nilai totalnya Rp 722.193.450. Namun dalam perjalanannya dana ini Dinkes, kendati penerima manfaatnya adalah DLH. Penerima manfaat itu setelah DLH mengusulkan pemberian masker dan alat kesehatan lain untuk pasukan kuning.

Belum sempurna pengadaan masker untuk pasukan kuning, ternyata mulai timbul masalah. Ini setelah masker yang dikirim untuk pasukan kuning DLH justru berbahan kain dengan ukuran yang tidak pas. Sedangkan Dinkes sendiri menyebut pengadaan belum dilakukan.

- Advertisement -

JOMBANG – Pasukan kuning yang bertugas di lapangan, ternyata tak semua mengenakan masker. Sebagian ada yang memakai buff atau masker untuk berkendara. Padahal, saat ini ada pengadaan masker yang dilakukan Dinkes untuk pasukan kuning DLH Jombang.

Seperti terpantau di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dusun Pulotawangsari, Desa Pulolor, Kecamatan/Kabupaten Jombang, kemarin (28/4). Usai membersihkan area taman, pasukan kuning ini kemudian membawa sampah ke tempat tersebut. Sebelum sampah itu dimasukkan ke bak yang sudah disediakan untuk diangkut mobil sampah.

Ada lebih dari enam orang pasukan kuning yang terlihat. Masing-masing, dua orang menggunakan kendaraan roda tiga, dan dua orang lainnya membawa mobil pengangkut sampah. Seluruhnya mengenakan masker. Namun masker yang dipakai, bukan masker pengadaan Dinkes, melainkan masker buff yang notabene untuk berkendara.

Menurut Tirto, salah satu pasukan kuning, sengaja memakai masker buff  karena lebih praktis. “Kesuwen soalnya masker yang ditali, lebih baik yang slobokan begini. Tinggal masukkan saja,” katanya sambil menekan kendaraan pengangkut sampah.

Masker buff itu sama persis dengan yang dikenakan rekan-rekan Tirto. Hampir seluruhnya memakai buff. Warnanya juga sama-sama hitam. Penggunaannya kadang tak tentu melihat situasi. “Kadang langsung dicuci, soalnya dibuat setiap hari. Jadi nggak bisa dipakai terus,” imbuh dia.

Dimasa pandemi Covid-19 Tirto sendiri sebenarnya juga merasa khawatir. Sama seperti warga umumnya, yang dia lakukan sementara hanya pencegahan. Terlebih aktivitasnya setiap hari berada di luar rumah. Kondisi ini ditambah pekerjaannya yang setiap hari bergelut dengan sampah.  

- Advertisement -

’Kalau khawatir ya jelas, namanya juga virus. Tapi pekerjaannya setiap hari dengan sampah. Mau tidak mau ya harus dicandak,” terangnya. Sebelumnya, kata dia, kantornya  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang sudah memberi masker. Namun dia tak mengetahui persis.

“Kalau nggak salah yang pertama itu dapat satu kali. Masker yang sekali pakai. Bukan yang seperti ini,” terang dia sembari menunjukkan buff miliknya.

Baca Juga :  Menko Airlangga Hartarto Berharap Vaksin Merah Putih Diedarkan 2022

Pernyataan senada disampaikan Sucipto, pasukan kuning lainnya yang juga mengenakan masker buff, bukan masker yang didapat dari kantor. “Pokoknya gonta-ganti masker, soalnya kita ini setiap hari kena sampah, debu dan sebagainya. Kalau harus pakai satu masker jelas tidak bagus,” sahut pak Cip, sapaannya.

Sepengetahuan dia, sudah menerima masker untuk setiap regu. “Dapat banyak kemarin, kurang lebih satu regu itu dapat16-an,” terang dia. Tidak disebutkan persis masker yang diterima, apakah masker kain atau masker surgical sekali pakai. Selain masker, mereka juga menerima sarung tangan. “Dapat sarung tangan seperti karet, tapi tidak saya pakai soalnya ribet,” pungkasnya.

Pengiriman Masker Tak Disertai Berita Acara

TERPISAH, pengadaan masker yang diterima DLH Jombang semakin janggal setelah masker yang dikirim pihak rekanan tak disertai berita acara serah terima. Sehingga hingga kemarin masker kain itu masih disimpan di ruangan yang terkunci.

Ketika kunci dibuka, semua masker masih dalam kemasan karung dan tas plastik merah. Hitungannya ada lebih dari 10 yang terdiri dari dua karung dan sisanya tas kantong besar warna merah.

Abdul Qudus Plt (Pelaksana tugas) DLH Jombang, melalui Ahmad Rofiq Ashari Kabid Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau mengaku sampai sekarang tidak berani membongkar masker-masker tersebut. Alasannya, pihak pengirim sampai sekarang belum jelas.

“Misal ini bicara pengadaan barang, mestinya harus ada persetujuan. Dan biasanya ada berita acara serah terima, dari siapa ke siapa. Itu ada persetujuan PPK juga, baru kemudian barang diberikan,” katanya kemarin. Kebiasaan ini tidak dilakukan pada pengadaan masker kain yang sudah tiba di DLH Jombang.

Sebab, yang diterima DLH Jombang hanya surat jalan. “Surat jalan, itu saja,” imbuh dia. Lantaran tidak mengetahui persis itulah maka masker sementara belum dibongkar dan dibagikan kepada pasukan kuning. Sehingga jumlahnya pasti  dia tak berani menyebut.

Baca Juga :  Proyek Sentra IKM Slag Aluminium Belum Ada Izin, Lebih Baik Ditunda

“Saya sendiri belum tahu ini ada berapa, yang jelas masker kain semua. Seluruhnya masih dibungkus, belum dibuka,” imbuhnya.

Lantas bagaimana bentuk pertanggungjawaban masker itu? Dia sendiri tak mengetahui persis. “Itu yang saya tidak tahu. Disini (DLH Jombang, Red) kan tidak ikut pengadaan barang. Sementara kabar dari dinkes sendiri kok belum melakukan pengadaan, terus ini barang milik siapa?,” tanya dia.

Kendati begitu, pihaknya sudah memberi sarung tangan kepada pasukan kuning. Namun, sarung tangan yang dibagikan sebelumnya beda pengirim. “Sebagian saja kita beri handscoon (sarung tangan) itu pun hanya sedikit. Paling hanya bisa dipakai untuk satu minggu,” pungkas Rofiq.

Sebelumnya, pengadaan barang dan alat kesehatan dengan jumlah besar dalam pandemi Covid-19 dilakukan diam-diam. Tak tanggung-tanggung, anggaran yang dikeluarkan Rp 400 juta lebih untuk membeli ribuan masker, sarung tangan dan hand sanitizer. Rencananya, sesuai usulan, ribuan masker itu untuk pasukan kuning.

Tri Endah Sektiwati, Kabag Perekonomian Setdakab Jombang menyebut, pengadaan masker memang dilakukan setelah ada refocussing pada sektor dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2020 yang diarahkan pada Dinas Kesehatan, berkaitan dengan penanganan pandemi Covid-19.

Nilai totalnya Rp 722.193.450. Namun dalam perjalanannya dana ini Dinkes, kendati penerima manfaatnya adalah DLH. Penerima manfaat itu setelah DLH mengusulkan pemberian masker dan alat kesehatan lain untuk pasukan kuning.

Belum sempurna pengadaan masker untuk pasukan kuning, ternyata mulai timbul masalah. Ini setelah masker yang dikirim untuk pasukan kuning DLH justru berbahan kain dengan ukuran yang tidak pas. Sedangkan Dinkes sendiri menyebut pengadaan belum dilakukan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/