Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Waktu Makhluk Paling Sombong

Rojiful Mamduh • Jumat, 27 Februari 2026 | 04:25 WIB

Photo
Photo

Oleh Bilqis Jihan Zahrotul (Santriwati PP Al-Madienah, Denanyar)

 

Kala ngaji qobla sahur di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, Senin (23/2/2026), KH Muhammad Najib Muhammad selaku pengasuh menyampaikan pentingnya memahami dan menjaga waktu. Setiap detik adalah amanah dari Allah Ta’ala yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah menunggu siapa pun.

’’Waktu adalah makhluk yang paling sombong,’’ tuturnya. Waktu tidak pernah mau tunduk kepada manusia. Ia tidak berhenti karena kita lelah. Tidak melambat karena kita sedih. Serta tidak kembali walaupun kita menyesal. Setiap detik yang berlalu akan terus berjalan tanpa kompromi. Karena itu, siapa yang tidak memanfaatkannya dengan baik, akan merasakan kerugian. Waktu yang hari ini kita anggap biasa saja, kelak akan menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika sudah tidak bisa diulang kembali.

Di QS Ad-Dhuha 1-2 Allah Ta’ala berfirman; Demi waktu Duha dan demi malam apabila telah sunyi.

’’Sumpah Allah menunjukkan betapa agung dan berharganya waktu,’’ kata Abah Najib. Waktu Duha melambangkan kesempatan dan semangat untuk beramal. Sedangkan malam yang sunyi melambangkan ketenangan dan waktu untuk bermuhasabah. Sumpah tersebut menjadi peringatan agar manusia tidak lalai dan tidak menyia-nyiakan umur yang telah diberikan.

Pergantian siang dan malam menjadi pengingat bahwa hidup manusia terus berjalan menuju akhir. Waktu Isya dan Zuhur terasa panjang. Seakan memberi gambaran tentang panjangnya perjalanan akhirat yang tidak berbatas. Waktu Asar berada di pertengahan, seperti isyarat tentang alam barzah sebagai masa penantian. Sedangkan waktu Magrib dan Subuh terasa singkat, sebagaimana kehidupan dunia yang cepat berlalu tanpa terasa. Dari perumpamaan ini, beliau mengajak para santri untuk merenungi bahwa dunia hanyalah sementara. Sedangkan kehidupan setelahnya jauh lebih panjang dan kekal.

Pada kesempatan itu, Abah Najib juga menjelaskan, bahkan dalam urusan tidur pun terdapat adab dan pembagian waktu. (Ailulah), tidur setelah Subuh. Dianggap kurang baik karena dapat mengurangi semangat dan kecerdasan. Waktu Subuh adalah waktu penuh keberkahan. (Hailulah), tidur saat Duha, dikhawatirkan mengurangi peluang rezeki. Karena itu waktu orang berusaha dan mencari nafkah. (Failulah), tidur saat Maghrib, sering dihindari karena waktu tersebut dianjurkan untuk berzikir dan beribadah. Tidur di waktu ini mudah terkena fitnah.

Sebaliknya, (qoilullah), tidur menjelang atau sekitar Duhur. Ini memberi manfaat bagi tubuh dan pikiran serta membantu seseorang lebih fokus dalam beraktivitas.

Sedangkan (gailulah), tidur setelah Asar, dapat membuat badan terasa berat dan mudah lelah yang menyebabkan linglung.

 

Semua ini menunjukkan pentingnya hidup yang teratur dan disiplin. Seorang mukmin hendaknya mampu mengatur waktunya untuk ibadah, belajar, bekerja, dan beristirahat secara seimbang. Waktu adalah ladang amal. Siapa yang mengisinya dengan kebaikan akan memperoleh keberkahan. Sedangkan yang menyia-nyiakannya akan merasakan kerugian. Ramadan adalah madrasah waktu. Melatih manusia untuk tepat waktu dalam sahur, berbuka, dan salat. Sehingga terbiasa hidup lebih tertib dan terarah.

Pengajian tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Tetapi juga melatih diri agar lebih menghargai waktu sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Dengan menjaga waktu, seseorang sedang menjaga hidupnya. Dengan memuliakan waktu, seseorang sedang memuliakan amalnya. Karena pada akhirnya, yang akan ditanyakan bukan berapa lama kita hidup, tetapi untuk apa waktu digunakan.

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #student #Journalism