Oleh: Donny Erfantoro, kepala SDN Jombatan 3 Kecamatan Jombang
RAMADAN sering kali datang dan pergi sebagai rutinitas kalender yang bising. Di jalanan, ia hadir dalam kemacetan berburu takjil; di televisi, ia hadir dalam gemerlap iklan; dan di media sosial, ia hadir dalam pameran perjamuan. Namun, di tengah keriuhan materialistik itu, sebuah pertanyaan fundamental sering kali luput: Di manakah letak spiritualitas yang sunyi, yang seharusnya menjadi ruh dari ibadah puasa?
Secara hakiki, puasa adalah sebuah perjalanan "pulang" ke dalam diri. Ia adalah momentum bagi ruhani untuk melepaskan ketergantungan pada yang fana demi mendekat kepada Yang Maha Kuasa. Lapar dan dahaga yang kita rasakan sejak fajar hingga magrib bukanlah tujuan, melainkan instrumen untuk meruntuhkan tembok-tembok ego dan nafsu yang selama sebelas bulan ini kita bangun dengan megah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa ke dalam beberapa tingkatan. Puasa orang awam hanya sebatas menahan perut dan syahwat. Namun, puasa yang lebih tinggi (khusus al-khusus) adalah puasa hati; sebuah kondisi di mana pikiran dan batin sepenuhnya terjaga dari segala sesuatu selain Allah SWT.
Dalam konteks modern, tantangan terbesar kita adalah "puasa hati" ini. Kita mungkin berhasil mengosongkan perut, namun batin kita sering kali tetap "kenyang" dengan penyakit hati seperti pamer (riya), merasa lebih suci dari orang lain, hingga keterpautan yang berlebihan pada materi. Jika Ramadan hanya menjadi ajang pemindahan jam makan tanpa adanya transformasi batin, maka puasa kita berisiko menjadi apa yang diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW: hanya mendapatkan lapar dan haus semata.
Spiritualitas Ramadan tidak boleh berhenti pada kesalehan individu yang egois. Rasa lapar yang kita rasakan adalah cara Allah SWT memaksa kita untuk mencicipi penderitaan sesama. Di titik inilah spiritualitas bertemu dengan kemanusiaan. Ketika kita menahan diri dari konsumsi yang berlebihan, kita sebenarnya sedang memberi ruang bagi cinta untuk tumbuh.
Ramadan mengajak kita untuk menyadari bahwa segala materi yang kita miliki adalah titipan. Maka, berbagi kepada yang membutuhkan bukan lagi sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk syukur atas nikmat Allah SWT yang tak terhingga. Kesalehan spiritual yang sejati akan memancarkan kesalehan sosial; ia membuat seseorang menjadi lebih lembut tutur katanya, lebih dermawan tangannya, dan lebih luas kasih sayangnya.
Menjelang akhir Ramadan ini, ukuran keberhasilan kita bukanlah pada barunya pakaian atau mewahnya hidangan Idul Fitri. Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu menjaga "nyala api" spiritualitas itu tetap hidup di luar bulan suci Ramadan.
Ramadan adalah proses detoksifikasi jiwa dari racun-racun duniawi. Ia mengajak kita untuk kembali pada fitrah: bahwa manusia bukan sekadar jasad yang butuh makan, melainkan ruh yang rindu akan kedamaian dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Mari kita jadikan sisa waktu Ramadan ini sebagai perjalanan sunyi menuju cahaya, di mana setiap detik menahan lapar menjadi langkah kaki kita menuju kemuliaan batin yang hakiki.
Editor : Anggi Fridianto