Oleh Alifia Nabila Safitri (Santriwati PP Al-Madienah Denanyar)
Senin (2/3/2026) bakda salat tarawih di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, para santri kelas 12 mengikuti pengajian Ramadan bersama Abah KH Muhammad Najib Muhammad selaku pengasuh. Beliau menerangkan keutamaan bulan puasa serta keistimewaan umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
’’Umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam diberi banyak amalan yang ringan namun pahalanya sangat besar,’’ tuturnya.
Bulan-bulan dalam kalender hijriah memiliki keistimewaan masing-masing. Seperti bulan Muharram yang memiliki keutamaan besar.
’’Wong seng poso sedino nang ulan Muharram iku dianggep luwih apik ketimbang poso 30 dino sakliane ulan Muharram,’’ tuturnya.
Keutamaan ini menunjukkan betapa besarnya pahala yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya pada waktu-waktu tertentu.
Muharram termasuk ashurul hurum atau empat bulan mulia yang disebutkan di QS Attaubah 36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Bulan Ramadan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada bulan Muharram. ’’Poso sedino neng ulan Ramadan iku luweh utomo ketimbang poso 30 dino ulan Muharram,’’ terangnya.
Hal ini karena Ramadan bulan yang diwajibkan berpuasa dan didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lilatul Qadar). Ibadah pada malam Lailatul Qadar pahalanya seperti amal seribu bulan atau 83 tahun.
Suatu ketika Rasulullah menceritakan kepada para sahabat tentang seorang lelaki dari Bani Israil yang sangat luar biasa ibadahnya. Ia mengangkat senjatanya dan berjihad di jalan Allah selama seribu bulan tanpa henti.
Lelaki itu bernama Syam‘un (Samson), seorang hamba yang kuat dan sangat taat kepada Allah.
Ketika para sahabat mendengar kisah tersebut, mereka merasa takjub sekaligus khawatir. Mereka berkata dalam hati: ’’Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami bisa menandingi amal orang itu, sementara umur kami lebih pendek?”
Memang umur umat Nabi Muhammad umumnya sekitar 60–70 tahun. Sedangkan umat terdahulu ada yang hidup sangat lama sehingga bisa beribadah lebih panjang.
Karena kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad, maka Allah menurunkan firman-Nya QSAl-Qadr. Artinya, ibadah satu malam di Lailatul Qadar lebih baik daripada ibadah selama 1000 bulan (83 tahun).
Pada malam itu semua doa dikabulkan. Nabi mengajarkan agar banyak berdoa Allahumma innaka afuwwun tuhibbil afwa fa’fu anni. Ya Allah Engkau maha pengampun dan suka mengampuni maka ampunilah aku.
’’Poso telong dino neng ulan Muharram pas dino Kamis, Jumat, Sabtu iku podo karo ibadah 900 taun,’’ ungkapnya. Demikian pula puasa Kamis, Jumat, Sabtu di bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Rajab.
Itu semua merupakan gambaran betapa luasnya rahmat Allah Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Dengan amalan sederhana umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dapat memperoleh pahala yang sangat besar.
Keutaman-keutamaan tersebut tidak lepas dari kemuliaan umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Umat Nabi Muhammad dikenal dengan beberapa keterbatasan fisik dibandingkan umat terdahulu. ’’Umate kanjeng nabi iku wonge endek-endek ora koyo umate Nabi Adam alaihissalam. Umate kanjeng nabi iku yo lemah-lemah lan umure iku endek-endek,’’ ucapnya. Makanya diberi banyak puasa agar pahalanya bisa melebihi umat terdahulu.
’’Jajal nek umate kanjeng nabi umure sampek 1.000 taon lak gak kakean poso?” ungkapnya.
Karena usia yang pendek, Allah Ta’ala memberikan pahala yang berlipat ganda agar dosa tidak semakin banyak dan kesempatan beramal tetap luas. Hal ini menjadi bukti bahwa Allah Ta’ala Maha Adil dan Maha Pengasih.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memanfaatkan bulan-bulan mulia sperti bulan Muharram dan bulan Ramadan dengan memperbanyak ibadah.
Terutama puasa, sedekah, dan memperbaiki akhlak. Jangan sampai kesempatan besar ini terlewatkan begitu saja.
Editor : Anggi Fridianto