Oleh Fakhri Azhar (Santri PP Al-Madienah, Denanyar)
Suasana khidmat menyelimuti majelis pengajian yang dilaksanakan pada sepertiga malam di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, Minggu (22/2/2026). KH Muhammad Najib Muhammad (Abah Najib) melanjutkan kajian mendalam kitab Asrarus Shoum yang membongkar rahasia-rahasia ibadah puasa. Ada satu pesan penting yang menarik perhatian saya, mengenai fleksibilitas hukum Islam.
Abah Najib menyampaikan kaedah yang sangat popular dalam ilmu fiqih: ’’Perkara iku nek sempit dadi jembar, nek jembar dadi sempit.’’
Apabila suatu perkara itu sempit maka ia menjadi luas. Serta apabila perkara itu luas maka ia menjadi sempit. Ini bukan sekadar teori, tetapi merupakan panduan hidup yang sangat penting untuk menambah pemahaman kita tentang agama.
Memahami kemudahan di tengah kesulitan.
Maksud dari ’’sempit dadi jembar’’ adalah adanya keringanan di tengah kesulitan. Abah Najib menjelaskan, apabila seseorang berada dalam keadaan yang sangat sulit atau darurat, maka syariat akan memberikan kelonggaran. Ini menunjukkan betapa besar kasih Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Agama hadir bukan untuk menyusahkan, tetapi untuk memberikan jalan keluar ketika kita sudah tidak berdaya.
Kaidah ini juga memiliki keseimbangan. Yaitu ’’nek jembar dadi sempit.’’ Maksudnya, kita harus kembali kepada aturan asal apabila keadaan sudah normal atau membaik. Kelonggaran yang diberikan tadi dicabut dan aturan kembali diperketat.
Pelajaran besarnya, kita tidak boleh meremehkan aturan agama dengan alasan ’’darurat’’ jika keadaan sebenarnya masih mungkin untuk taat secara sempurna.
Yang disampaikan Abah Najib ini menjadi teguran bagi kita semua agar tidak menjadi kaku dalam beragama. Namun juga tidak terlalu menggampangkan aturan. Dengan menjaga adab terhadap guru dan ilmu—sebagaimana murid-murid Imam Ghazali yang sentiasa menjaga dalil gurunya—kita berharap agar pembelajaran malam itu membawa keberkahan dan menjadikan kita hamba yang lebih baik dalam menjalankan amanah ibadah.
Abah Najib juga menjelaskan, keberkahan sebuah institusi pendidikan Islam atau pondok pesantren sering kali tidak ditentukan oleh kemegahan arsitekturnya. Melainkan oleh kekuatan sanad dan ketulusan para alumninya dalam menjaga ilmu sang guru.
Ini disampaikan Abah Najib kala membedah kitab Asrarus Shoum (Rahasia-Rahasia Puasa) karya Imam Abu Hamid al-Ghazali al-Tusi, Jumat (21/2).
Ada sebuah rahasia besar mengapa nama Imam Ghazali tetap abadi hingga ribuan tahun. Hal itu terletak pada etika intelektual para murid beliau yang selalu menulis dengan menyertakan dalil-dalil gurunya. Loyalitas keilmuan inilah yang membawa keberkahan sehingga lembaga pendidikan dan para alumninya dikenal luas karena integritas ilmu yang terjaga.
Editor : Anggi Fridianto