Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zuem: Berpolitik Bisa Ikhlas..?  

Achmad RW • Senin, 13 November 2023 | 13:03 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Seorang alumni Unipdu mohon didoakan agar pamannya dapat berpolitik dengan Ikhlas karena tahun depan akan berlaga pada PILKADA di daerahnya.

Permohonan itu membuat saya harus berfikir keras, karena berpolitik tak ubahnya bermain/bertanding sepakbola.

Proses beradu strategi dan taktik untuk mendapat kemenangan (goal).

Yang saya pikirkan, dimana kita meletakkan nilai ikhlas itu, saat bertanding atau ketika menerima hasil..?

Saya yakin, permohonan alumni tadi muncul setelah merasakan dan melihat konstelasi politik nasional yang sangat dinamis dan hiruk-pikuk sehingga sulit ditebak.

Betapa tidak, bandul sistem politik kita yang berpantul dari monolitik ordebaru yang serba berbatas ke pluralitik reformasi yang tanpa batas, melahirkan perilaku politik yang anomalis.

Yakni sebuah format political behavior  (perilaku politik) “aneh” yang justru tidak ditemukan di negara-negara demokratis manapun di dunia.

Institusi-institusi politik terbangun begitu saja tanpa fondasi etika politik yang mapan.

Individu-individu yang terjangkiti penyakit narcistis dengan mudahnya membentuk partai-partai politik tanpa pembeda identitas yang jelas dengan partai lain, kecuali –mungkin- hanya warna kaosnya.

Akibatnya, fatsoen atau sopan santun politik yang harusnya menjadi peredam friksi-friksi yang jamak terjadi dalam pergaulan politik, tidak terlembaga secara layak.

Maka tidak mengherankan bila sabda Machiavelli  yang sangat pragmatis dan atheis bahwa: “tujuan menghalalkan segala cara” itu, tanpa sadar merasuki syahwat politik sebagian besar politisi kita.

Meski demikian, kita tidak boleh menyerah. Dalam pola pikir para politisi harus terus ditumbuhkan komitmen satu pemahaman bahwa politik adalah sarana bukan tujuan.

Dengan pemahaman seperti itu akan meminimalisasi tumbuhnya motivasi ‘perjuangan sampai titik darah penghabisan’ dalam mempertahankan posisi politik seseorang yang lazim berujung pada penghalalan segala cara.

Karena ia sebuah sarana maka bila ada orang lain yang  lebih siap memanfaatkan sarana itu dan dapat makin mendekatkan pada tujuan kita, kenapa kita tidak legowo (berbesar hati) turut mendukungnya.

Jika ini yang terjadi, maka cahaya ikhlas akan mulai terbersit dan berpeluang memantul pada aura perpolitikan kita di tengah kegalauan masyarakat dalam mencari tokoh panutan seperti saat ini.

Sikap legowo di atas  bisa menjadi embrio keikhlasan,  bila di benak para politisi kita terpola sebuah pemikiran bahwa berpolitik adalah untuk aktualisasi diri dalam rangka mempersembahkan daya dan dana yang mereka miliki untuk kemaslahatan ummat.

Politisi seperti ini berkecenderungan menerapkan high-politics yang menjunjung tinggi nilai moral sehingga lebih dekat pada keikhlasan.

Sebaliknya bila dalam benak politisi itu yang terfikir hanya bagaimana ia bisa memperoleh keuntungan finansial duniawi dari posisinya itu, maka politisi seperti ini akan habis-habisan mengejar dan mempertahankan posisi politiknya.

Bahkan jika mungkin ‘mencurinya’. Bagi mereka money politic adalah alat komunikasi politik yang utama. Maka, jangankan ikhlas, sikap legowo pun mungkin mereka tak kenal.

Inilah kendala yang paling menonjol di negeri kita tercinta ini yang mungkin ditangkap alumni tadi.

 Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Ummat & Guru Akhlak

Mendekati Ikhlas

Ikhlas sepenuhnya dalam berpolitik memang sulit, tapi mendekati mungkin bisa.

Karena ranahnya memang beda, ikhlas di ranah vertikal (hablum minallah), sedang politik di ranah horisontal (hablum minannaas).

Untuk yang pertama adalah bentuk pertanggungjawaban manusia sebagai hamba kepada Tuhannya, sedang yang kedua adalah bentuk pertanggungjawaban manusia kepada sesamanya sebagai khalifah Tuhan.

Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Mari 'Menghadirkan' Tuhan

Tak seorangpun bisa memberi penilaian tentang kadar keihlasan orang lain dalam beraktivitas, termasuk berpolitik.

Kita setidaknya hanya bisa menilai apakah sepak terjang orang itu dalam berpolitik mengacu pada pilihan-pilihan tindakan yang terpuji sesuai perintah Tuhan atau tidak.

Bila sesuai, dia berpeluang besar mendapat Ridho Tuhan, sebagaimana yang diraih orang-orang yang ikhlas.

Indikasinya : cara-cara yang ditempuh untuk mendapatkan otoritas politik itu dilakukannya dengan penuh hikmah ( fair, bijak dan cerdas) dalam bingkai keibadatan.

Dan setelah otoritas itu diperolehnya dia makin tunduk pada perintah Tuhan untuk menyejahterakan sesamanya. Sebaliknya bila kalah, maka dia ridha menerima hasilnya.

“Baik..” kata saya pada si alumni  “mari pamanmu kita bacakan fatihah, semoga Allah sang pembolak-balik hati, menumbuhkan keikhlasan dalam hatinya, sehinga pola pikir dan segala perilakunya selalu memancarkan keikhlasan.. al Faatihah..” 

Sebelum pulang, dia minta saran, sebaiknya pilih capres siapa..? “Silakan pilih sesuai seleramu saja, semuanya itu orang baik yang berniat baik juga.

Tapi kalau kamu mau tahu  pilihanku, lain kali saja... hehehe..”

Salam sehat penuh rahmat. (*)

 

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #KH Zaimudin As'ad #pilkada #Politik