Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kenapa Bung Karno Lahir di Ploso Jombang?

Achmad RW • Sabtu, 24 Juni 2023 | 17:56 WIB
Binhad Nurrohmat, Penyair, penyuka sejarah
Binhad Nurrohmat, Penyair, penyuka sejarah

SELAT Bali dilayari sebuah kapal yang ditumpangi pasangan muda Raden Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Nyoman Rai. Saat itu bulan Juli/Agustus 1898. Belum genap dua tahun mereka menikah, masih 13/14 bulan resmi sebagai pasutri, ketika  kapal itu menyeberangkan keduanya dari Pulau Bali bagian barat ke Pulau Jawa bagian timur.

Soekeni, seorang priyayi Jawa dan guru pribumi lulusan Kweekschool (Sekolah Guru) di Probolinggo. Ia meninggalkan Bali menuju Surabaya karena mutasi kerja sebagai guru pembantu di Tweede Klasse School (Sekolah Ongko Loro). Sesuai besluit (surat ketetapan resmi) ia bekerja di Bali sebagai guru pembantu di Tweede Klasse School sejak 10 Oktober 1891 hingga 8 Agustus 1898.

Ida Nyoman Rai, seorang bangsawan Bali, dinikahi Soekeni sejak 15 Juni 1897 di Bali. Keluarga di Bali tak merestui pernikahan itu sebab melanggar aturan adat. Ayah Nyoman Rai adalah pemangku adat terhormat di Buleleng  Singaraja, Bali. Sejak pelayaran itu belum terbetik berita Nyoman Rai kembali lagi ke Bali hingga akhir hayat. Nyoman Rai wafat pada 1958 dan dikuburkan di Blitar di dekat kuburan suaminya  Soekeni, yang lebih dulu meninggal dunia pada 1945.

Soekeni resmi bekerja sebagai guru pembantu di Tweede Klasse School di Surabaya sejak 8 Agustus 1898 hingga November/Desember 1901. Saat ia sekeluarga tinggal di Surabaya ini lahir anak pertamanya, Soekarmini (masa kecilnya bernama Karsinah), pada 13 Maret 1899. Hingga kini masih beredar di publik bahwa Soekarmini lahir pada 29 Maret 1898 di Bali meski Soekarmini telah meralatnya sendiri dalam sebuah wawancara pada 1966 (lihat bukunya Solichin Salam, 1966).

Dari daerah pesisir Surabaya keluarga Soekeni kemudian pindah ke daerah pedalaman Jawa, tepatnya di Kawedanan Ploso (sekarang nama sebuah kecamatan di Jombang). Sejak 28 Desember 1901, Soekeni resmi bekerja sebagai kepala sekolah (mantri guru) Tweede Klasse School di Ploso hingga 1907.

Sesuai dokumen catatan pribadi Soekeni, anak keduanya lahir pada 6 Juni 1902 dan saat itu keluarga Soekeni telah tinggal di Ploso. Semasa bocah anak keduanya itu dinamai Koesno dan kemudian hari dikenal sebagai Bung Karno. Di dalam sebuah dokumen di zaman Jepang diketahui Bung Karno "moela2 sekolah desa di Ploso/Djombang".

Data masa lahir Bung Karno di ijazah sekolah terakhirnya di THS (Technische Hoogeschool te Bandoeng, kini ITB).  sesuai catatan pribadi Soekeni yaitu 6 Juni 1902. Masih umum dikenal Bung Karno lahir di Surabaya, namun ini tak salah karena Kawedanan Ploso ketika itu bagian wilayah Karesidenan Surabaya (sesuai tulisan Prof. Dr. Tadjoer Rizal, 2012).

Sekolah Desa atau Sekolah Rakyat berdiri di Hindia-Belanda sejak 1907 dengan nama resmi Volkschool. Sekolah dasar ini dibangun atas prakarsa masyarakat pribumi dan dalam pengawasan pemerintah. Sekolah Desa diperuntukkan bagi anak-anak pribumi di desa, para gurunya adalah kalangan pegawai desa, berbahasa pengantar bahasa daerah, masa belajar tiga tahun, dan target kurikulumnya calistung (baca, tulis, hitung).

Sekolah Desa (Volkschool) di Ploso diduga bertempat di pendopo besar Kawedanan Ploso (lokasi ini menjadi Pasar Daerah Ploso sejak 2000-an). Sekolah Desa itu di masa Hindia-Belanda telah pindah ke lokasi lain sejak tahun 1910 (saat ini menjadi SD Negeri 1 Ploso, Jombang).

Sedangkan Soekeni bekerja sebagai kepala sekolah di Tweede Klasse School (Sekolah Ongko Loro) di Ploso. Warga sekitar bercerita lokasi sekolah itu saat ini di selatan Terminal Ploso, Jombang. Bekas-bekas bangunan sekolah bergaya kolonial itu tersisa sebagian dinding utamanya saat ini di Desa Losari, Ploso, Jombang.

Karena menurut catatan Soekeni Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902, maka masuk akal Bung Karno lahir di Ploso, sebab ketika itu ayah-ibunya telah tinggal di Ploso. Versi tahun lahir ini sesuai  ijazah sekolah terakhir Bung Karno di THS Bandung. Data di ijazah sekolah berlaku tetap, baik nama maupun masa lahir, sejak di awal sekolah hingga jenjang sekolah berikutnya.

Di mana rumah kelahiran Bung Karno di Ploso? Hingga kini di Desa Rejoagung (dulu Desa Ngelo namanya) di Kecamatan Ploso ada sebuah rumah kecil dan sederhana yang dikenal sebagai rumah "Den Guru". Rumah itu hanya 100-an meter dari lokasi Tweede Klasse School tempat Soekeni bekerja sebagai mantri guru (kepala sekolah). Rumah itu runtuh setelah tahun 2010, hanya menyisakan fondasi rumah, kamar mandi dan sumur.

Pernyataan bahwa Bung Karno lahir di Ploso (Jombang) berasal dari anaknya Bung Karno yaitu Sukmawati (menurut keterangan yang diterima Dian Sukarno, salah seorang penulis riwayat Bung Karno, pada tahun 2012). Masa lahir Bung Karno 6 Juni 1902 sesuai dokumen catatan pribadi Soekeni dan dokumen ijazah sekolah terakhir Sukarno di THS Bandung.

Narasi dan argumentasi tempat dan masa lahir Bung Karno di Ploso, 6 Juni 1902 berbeda dengan pengetahuan umum yang selama ini menyatakan Bung Karno lahir di Surabaya, 6 Juni 1901. Perbedaan semacam tak mustahil atau satu kali ini terjadi dalam sejarah. Bukan hanya Bung Karno, kakak kandungnya, Soekarmini, juga pernah mengalaminya dan ia kemudian meralatnya sendiri.

Oleh:
Binhad Nurrohmat
Penyair, penyuka sejarah

Editor : Achmad RW
#opini #Binhad Nurrohmat #Ploso #Jombang #bung karno #soekarno