Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Waspada Pengangguran Terdidik di Jawa Timur

Achmad RW • Senin, 12 Desember 2022 | 18:27 WIB
Wahyu Eko Pujianto
Wahyu Eko Pujianto
Kesempatan kerja hingga saat ini tidak berbanding sejajar dengan angkatan kerja dan telah menjadi masalah serius yang belum dapat diselesaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Timur per Agustus 2021 sebesar 5,74% menurun sebesar 0,1% dari tahun sebelumnya per Agustus 2020. Dan per Agustus 2022 sebesar 5,49% menurun 0.25% dari tahun sebelumnya. Penurunan tingkat pengangguran terbuka tersebut nyatanya masih menjadi persoalan bagi pemerintah daerah karena tingkat partisipasi angkatan kerja yang didominasi oleh pengangguran terdidik mengalami kenaikan sebesar 1,23% per Agustus 2022.

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa dalam indikator ketenagakerjaan, pengangguran merupakan penduduk yang tidak memiliki pekerjaan tapi sedang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan suatu usaha yang baru, atau penduduk yang telah diterima bekerja, namun belum mulai bekerja. E.S Phelps (1980) dalam bukunya studies in macroeconomic theory. Volume 2: redistribution and growth mengemukakan bahwa pengangguran merupakan keadaan seseorang yang masuk dalam angkatan kerja ingin memiliki pekerjaan tapi belum mendapatkan pekerjaan tersebut. Lebih lanjut E.S Phelps menjelaskan bahwa yang dapat dikatakan sebagai pengangguran terdidik adalah seseorang yang memiliki pendidikan sekolah menengah atas (SMA) dan pendidikan tinggi yang sedang mencari pekerjaan atau belum bekerja.

Sejatinya masalah pengangguran terdidik harus dicermati secara simultan dan berkesinambungan, karena masalah pengangguran terdidik ini masuk dalam indikator makroekonomi dan juga menjadi salah satu penggerak roda perekonomian daerah.Oleh karena itu perlu adanya kerja sama antarstakeholders baik dari pemerintah, swasta dan pendidikan untuk menstrategikan upaya-upaya solutif yang dilakukan secara masif.

 

Mengapa Bisa Terjadi?

Pengangguran terdidik telah mendominasi tingkat pengangguran terbuka  di Jawa Timur sejak 5 tahun yang lalu. Dari data BPS Jawa Timur tingkat pengangguran terbuka didominasi oleh pengangguran di tingkat pendidikan SMA/SMK, DI/II/III dan pendidikan tinggi. Selanjutnya per Februari 2022, tingkat pengangguran terbuka pada tingkat pendidikan diploma I/II/III dan sarjana sebesar 8,33%, dan tingkat pendidikan sekolah menengah atas  sebesar 7,61%. Tingginya tingkat pengangguran terdidik di Jawa Timur tersebut menjelaskan bahwa kesempatan kerja untuk lulusan SMK/SMA/diploma/sarjana dan permintaan tenaga kerja di pasar kerja masih menjadi perhatian dan penanganan khusus.

Sejatinya pemerintah, swasta dan sektor pendidikan telah melakukan upaya dengan langkah strategis,seperti program MBKM yang mengisyaratkan mahasiswa dapat magang di perusahaan selama 1-3 semester, program job fair yang diselenggarakan tiap tahunnya dan program lainnya. Namun, masih banyak lulusan yang cenderung berpandangan bahwa mereka harus memilih pekerjaan yang dianggap sesuai atau layak untuk tingkat pendidikan yang mereka dapatkan.

 Solusi

Pada umumya pengangguran terdidik berusia 15-24 tahun dan merupakan generasi yang lahir di era digitalisasi, sehingga bukan hal yang tidak mungkin untuk mereka dapat melahirkan pekerjaan baru. Pengembangan inovasi dan kreativitas yang dimiliki oleh lulusan SMA/SMK, diploma dan sarjana akan dapat terealisasi melalui pengembangan ekonomi kreatif dengan menciptakan bentuk usaha berbasis digital yang saat ini telah menjadi bagian dari konsumsi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Era digital memiliki peluang besar dalam dunia pekerjaan.Siapa saja yang adaptif dan responsif dengan dinamika yang terjadi, mereka akan mendapatkan peluang dan berkembang dengan pesat. Sebagai contoh usaha digital yang ringan dapat dipelajari dan mendapatkan feedback yang cukup yaitu:content creator, desain grafis, desain produck, influencer, writers, cultivation, admin digital dan masih banyak lagi. Segelintir job tersebut merupakan bentuk alternatif solusi bagi pengangguran terdidik yang saat ini masih mendominasi tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur.

Menilik dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan terkait cara mengatasi tingkat pengangguran yang didominasi oleh pengangguran terdidik, Arthur-Holmes et al., (2022) menjelaskan bahwa tingkat pengangguran dapat diatasi dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan perkembangan era digital kepada orang yang baru saja lulus dari pendidikan. Selanjutnya Dana et al., (2022) menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan digitalisasi dalam dunia kewirausahaan merupakan lahan subur bagi inovasi bisnis, selain itu masyarakat juga dapat memanfaatkan teknologi digital dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Saat ini telah banyak bentuk-bentuk usaha digital yang dilakukan oleh lulusan-lulusan dari tingkat pendidikan SMA/SMK, diploma dan sarjana yang hingga saat ini masih terus berjalan dan berkembang. Inovasidan kreativitas, serta adaptif dan responsif generasi di era digital saat ini telah menjadi gaya hidup baru yang tentunya juga menjadi peluang besar bagi pelaku usaha.Masyarakat di era digital lebih banyak melakukan kegiatan melalui teknologi daripada terlibat langsung dalam suatu kegiatan perekonomian. Hal tersebut telah menjadi peluang yang dapat diisi oleh generasi era digital yang merupakan lulusan dari SMA/SMK, diploma dan sarjana. Kemudian untuk dapat menangkap need and want atau titik kosong yang masih belum terisi, para generasi era digital dapat mencoba untuk menggunakan halicopter view, sehingga tingkat pengangguran terdidik dapat terus menurun dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru melalui inovasi dan kreativitas berbasis digital.

 

Penulis:
Wahyu Eko Pujianto
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo
Senior Researcher Smart Goals Asia

  Editor : Achmad RW
#opini #Jawa Timur #Pengangguran #tulisan #dosen UNU