Bukan Cuma Hafalan Kitab, Pendidikan Santri Harus Utamakan Adab dan Akhlak

Rabu (14/10), kala pelajaran fikih, KH Mukhtar Syafii menjelaskan sekolahnya manusia. ’’Manusia makhluk yang paling mulia di muka bumi karena dibekali akal dan hawa nafsu,’’ tuturnya.
Bermodal akal inilah manusia selalu dituntun ke jalan yang benar berupa mencari ilmu.
Pengajar harus berjiwa manusiawi. Tidak boleh bersikap keras dan ucapan-ucapan kasar.
Baik ustaz maupun ustazah, selalu berperan membimbing muridnya selayaknya para orang tua mendidik putra dan putrinya.
Guru hendaknya membimbing murid dengan baik. Sedangkan murid perlu menghormati guru dan menjaga adab dalam menuntut ilmu.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Murid yang tidak menghormati gurunya akan diuji tiga hal. Hilang hafalannya. Lisannya tidak bisa menyampaikan ilmu.
Serta fakir jelang wafatnya.
Keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari banyaknya kitab yang dibaca atau dihafal. Ilmu juga harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Sistem evaluasi di sekolahku memandang setiap anak sebagai manusia yang utuh
. Penilaian tidak diukur dari seberapa tebal kitab yang dihafal, melainkan dari perilaku (adab) santri. Ujian akhir sering kali berbentuk proyek sosial. Di mana santri mempraktikkan ilmu mereka untuk membawa manfaat langsung bagi lingkungan sekitar.
Sekolahku sebagai sekolahnya manusia tidak hanya melahirkan generasi yang fasih membaca kitab, tetapi juga insan kamil yang siap menjadi uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagi generasi masa depan.



