alexametrics
31.5 C
Jombang
Wednesday, August 10, 2022

Ke Lombok Menjalin Cinta (Part 2)

Destinasi wisata silaturrahim selanjutnya adalah sowan ke TGH. Faizin. Beliau sarjana Akuntansi UI Jakarta yang kembangkan pesantren Tahfidz Alquran mulai dari nol pada tahun 1997.

Semula muridnya hanya 6 orang, itupun teman2 putranya, sekarang sekitar 170-an.

Tidak banyak memang, dibandingkan pesantren yang punya lembaga formal, karena hanya menerima santri sebanyak yang telah diwisudanya saja, yaitu sejumlah yang betul-betul sudah tuntas hafal 30 juz.

Padahal proses untuk menjadi hafidzah/hafidz itu durasinya tidak sama, karena sangat bergantung pada daya ingat, konsentrasi dan semangat belajar santri, sehingga ada yang bisa hafal 8 bulan bahkan 6 bulan, tapi ada juga yang 3 tahun lebih, akibatnya jumlah penerimaan santri sangat fluktuatif.

Maka bisa dimaklumi bila saat ini, para peminat harus rela antre/indent mendaftar sesuai urutan masuk.

Baca Juga :  Sikapi Konflik Rusia-Ukraina, Indonesia Ambil Langkah Netral di KTT G20 Bali

Nah, mengantisipasi meningkatnya minat generasi Z untuk menghafal quran dan kesiapan putra-putri tuan guru etrsebut untuk berkiprah di al Furqan, maka sejak 2010 dibangunlah kompleks baru dengan arsitektur yang eksotik di dekat pura Narmada yang berlimpah air sejuk.

Arah utara ke Taman Narmada yang dibangun Raja Anak Agung Ngurah Karangasem.

Arah selatan ke tempat kremasi/ngaben jenazah ummat Hindu.

Kompleks ini di tepi jalan persis. Punya lapangan dan lahan parkir yang luas.

Maka, ketika di pura sedang ada upacara perayaan keagamaan, kendaraan para ‘jamaah’ yang ramai, diparkir di lahan pesantren dan dijaga para santri.

Sementara, bila hari Jumat, ketika semua penghuni shalat jumat, giliran para pecalang yang menjaga pesantren itu.

Baca Juga :  Jadi Makelar Sabu, Warga Sumbermulyo Diciduk Polisi

Oh iya, dulu kalau ke tempat ngaben, jalannya memutar agak jauh.

Sekarang, sejak ada pesantren tersebut, para pengiring jenazah bisa potong kompas lewat jalan setapak milik pesantren (di tempat saya swafoto itu). Sehingga TGH Faizin memberi nama jalan tersebut: Jalan Toleransi.

Betapa indah cinta dan kasih sayang itu. Pecinta Alquran di antara Pura dan tempat Ngaben.

Nah, untuk membuktikan kecintaan mereka pada Alquran, salah seorang anggota rombongan kami tercinta mencoba hafalan para santri. (ada videonya).

Subhanallah, maha suci Allah yang hadirkan cinta di hati para hamba-Nya. (*).

- Advertisement -

Destinasi wisata silaturrahim selanjutnya adalah sowan ke TGH. Faizin. Beliau sarjana Akuntansi UI Jakarta yang kembangkan pesantren Tahfidz Alquran mulai dari nol pada tahun 1997.

Semula muridnya hanya 6 orang, itupun teman2 putranya, sekarang sekitar 170-an.

Tidak banyak memang, dibandingkan pesantren yang punya lembaga formal, karena hanya menerima santri sebanyak yang telah diwisudanya saja, yaitu sejumlah yang betul-betul sudah tuntas hafal 30 juz.

Padahal proses untuk menjadi hafidzah/hafidz itu durasinya tidak sama, karena sangat bergantung pada daya ingat, konsentrasi dan semangat belajar santri, sehingga ada yang bisa hafal 8 bulan bahkan 6 bulan, tapi ada juga yang 3 tahun lebih, akibatnya jumlah penerimaan santri sangat fluktuatif.

Maka bisa dimaklumi bila saat ini, para peminat harus rela antre/indent mendaftar sesuai urutan masuk.

Baca Juga :  Jadi Makelar Sabu, Warga Sumbermulyo Diciduk Polisi

Nah, mengantisipasi meningkatnya minat generasi Z untuk menghafal quran dan kesiapan putra-putri tuan guru etrsebut untuk berkiprah di al Furqan, maka sejak 2010 dibangunlah kompleks baru dengan arsitektur yang eksotik di dekat pura Narmada yang berlimpah air sejuk.

- Advertisement -

Arah utara ke Taman Narmada yang dibangun Raja Anak Agung Ngurah Karangasem.

Arah selatan ke tempat kremasi/ngaben jenazah ummat Hindu.

Kompleks ini di tepi jalan persis. Punya lapangan dan lahan parkir yang luas.

Maka, ketika di pura sedang ada upacara perayaan keagamaan, kendaraan para ‘jamaah’ yang ramai, diparkir di lahan pesantren dan dijaga para santri.

Sementara, bila hari Jumat, ketika semua penghuni shalat jumat, giliran para pecalang yang menjaga pesantren itu.

Baca Juga :  Sikapi Konflik Rusia-Ukraina, Indonesia Ambil Langkah Netral di KTT G20 Bali

Oh iya, dulu kalau ke tempat ngaben, jalannya memutar agak jauh.

Sekarang, sejak ada pesantren tersebut, para pengiring jenazah bisa potong kompas lewat jalan setapak milik pesantren (di tempat saya swafoto itu). Sehingga TGH Faizin memberi nama jalan tersebut: Jalan Toleransi.

Betapa indah cinta dan kasih sayang itu. Pecinta Alquran di antara Pura dan tempat Ngaben.

Nah, untuk membuktikan kecintaan mereka pada Alquran, salah seorang anggota rombongan kami tercinta mencoba hafalan para santri. (ada videonya).

Subhanallah, maha suci Allah yang hadirkan cinta di hati para hamba-Nya. (*).

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/