JOMBANG - Warung di Desa Mancar, Kecamatan Peterongan sudah melegenda sejak puluhan tahun lalu. Menu yang paling wajib dicoba, rawon. Warung ini nampak sederhana, terbuat dari kayu dengan beberapa meja dan kursi yang mengelilingi. Berada di sebuah gang. Meski begitu, warung ini tak pernah sepi dari pengunjung.
“Ramai mungkin karena sudah puluhan tahun, sejak tahun 80-an, jadi sudah banyak pelanggan tetap,” terang Erni Setyoningsih, 27, pengelola warung. Nama resmi warung doa ibu ini justru lebih banyak dikenal sebagai warung Mak Legi atau Yu Legi. Nama ini lekat dengan pemilik Bu Legi.
“Jadi sepeninggal beliau, namanya sudah terlanjur lekat sampai sekarang, saya sendiri generasi kedua,” ucap istri dari anak ke tiga Bu Legi ini. Jika dilihat, warung ini tak banyak berbeda dengan kebanyakan warung pada umumnya. Menu yang dijual mulai nasi pecel, lodeh, bali hingga rawon.
“Menunya sejak dulu seperti ini, tapi yang paling khas memang nasi rawon,” lanjutnya. Erni menyebut, rawon di warung peninggalan ibu mertuanya ini tampil lebih berani dengan kuah yang lebih hitam dan pekat hingga rasanya lebih gurih. Hal ini didapatkan dari pemilihan bahan utama bumbu kluwek berkualitas bagus.
“Kluweknya dari pengirim khusus sejak dulu, dan hanya mau yang benar-benar bagus. Bumbu juga dimasak sendiri, jadi kualitas rasanya bisa dijamin,” imbuhnya. Tak heran, warung yang buka dari pagi buta hingga sore ini selalu kebanjiran pengunjung setiap hari.
Terlebih, harga yang ditawarkan untuk setiap porsi masakan, terbilang ramah di kantong. “Harganya mulai Rp 7 ribu hingga Rp 16 ribu, tergantung menu dan tambahan lauk,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh