Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Hilangnya Jejak Suiker Fabriek Selorejo

Rojiful Mamduh • Minggu, 3 Januari 2021 | 15:00 WIB
JOMBANG - Di Kecamatan Mojowarno, pernah berdiri sebuah pabrik gula be
JOMBANG - Di Kecamatan Mojowarno, pernah berdiri sebuah pabrik gula be


JOMBANG - Di Kecamatan Mojowarno, pernah berdiri sebuah pabrik gula besar. Jalur kereta api antar kota di Jawa Timur sempat mendukung aktivitas transportasi pabrik gula ini. Sayang, tak banyak yang tersisa selain kumpulan cerita.


Pabrik gula ini berada di Desa Selorejo. Itulah kenapa namanya Suiker Fabriek (SF) Selorejo. Dari buku Suikerlord berangka tahun 1886, disebutkan pabrik ini berdiri setelah tahun 1872. Dari data yang ada, tahun 1884, pabrik ini dimiliki Cultuut Maatschappij Selorejo/E. Tack & DJ Jut, dengan administraturnya bernama SD Janes.


Dari beberapa foto yang didapat Jawa Pos Radar Jombang, pabrik gula ini bertipe bangunan eropa dengan tembok tebal. Memiliki satu cerobong dengan cincin di bagian atas. Dalam foto yang lain, terlihat pula rel lori dan kereta di depan pabrik gula.


Jalur di depan pabrik gula, memang terintegrasi dengan jalur kereta milik Oost Java Stroomtram Maatschappij (OJSM) yang berjalan dari Ngoro menuju Mojoagung hingga ke Mojokerto. Jalur kereta milik OJSM, juga berfungsi untuk mengangkut hasil produksi gula ke kota lain.


Di foto yang lain, terlihat pula sebuah klinik kesehatan tak jauh dari pabrik. Seperti yang terekam pada koleksi foto milik tropen museum di Belanda. Seperti banyak pabrik gula lainnya, aktivitas SF ini mulai berhenti sejak Jepang berkuasa di Indonesia.


Bahkan setelah kemerdekaan, pabrik dibongkar dan satu persatu bangunannya raib. Hal ini tertulis pada salah satu bingkai foto yang menjelaskan keberadaan pabrik gula di Museum Gula Semarang.


Lahan pabrik yang lokasinya berada tepat di samping Jl Raya Mojowarno-Mojoagung ini telah berubah menjadi permukiman warga. Termasuk puskesmas, kantor ormas hingga lembaga pendidikan. “Nyaris sudah hilang semua,” terang Ludfa Febriana 28, warga Desa Selorejo yang sempat berburu sejarah pabrik gula.


Ia menyebut, sempat mengabadikan sebuah lukisan yang menjelaskan pabrik dan aktivitas warga di sekitar beberapa tahun lalu. “Foto itu berada di rumah warga yang informasinya sudah terjual,” lanjutnya.


Dari beberapa cerita yang ia terima, pabrik ini lokasinya membentang sejak utara pertigaan Desa Selorejo hingga berbatasan dengan sungai Catak Banteng, di sisi selatan Desa Catakgayam. Kini, jejaknya hilang sama sekali. “Salah satu yang masih tersisa mungkin sumur di rumah orang tua saya, jadi rumah yang saya tempati sejak 1998 itu diyakini bekas rumah dinas pejabat pabrik gula,” tambah dia.


Dalam rumah itu terdapat sumur tua dengan diameter yang cukup besar. Lebih besar dari sumur umumnya. Kualitas air juga masih sangat baik. “Bahkan air dalam sumur ini bisa dijangkau dengan tangan. Sumur kini sudah ditutup lantai sehingga tak bisa disaksikan lagi,” imbuh salah satu dosen di Poltek Jember ini.

Editor : Rojiful Mamduh