Bagi para pecinta parfum atau wewangian, kayu gaharu merupakan bahan pembuat parfum yang tidak asing lagi. Bahkan kerap diburu banyak orang dari dalam negeri hingga mancanegara. Tak heran, wewangian yang dipercayai sebagian orang sebagai aroma surga itu, bisa menembus pasar ekspor.
AZMY ENDIYANA Z., Ploso
Di tangan orang terampil, bahan sederhana bisa disulap menjadi produk berkualitas tinggi.
Adalah Fachrur Rochman, 26, warga Desa Bawangan, Kecamatan Ploso ini sudah 10 tahun terakhir menggeluti bisnis minyak gaharu.
Minyak gaharu buatan Rochman ini, menggunakan dua jenis bahan kayu gaharu. Yakni kayu gaharu ramin dan zebra untuk minyak gaharu kelas medium.
Kemudian, dia juga membuat minyak gaharu dengan kualitas super, dari bahan kayu gaharu membramo untuk pasar ekspor.
Untuk membuatnya, kayu gaharu dibikin serbuk terlebih dahulu. Serbuk kayu gaharu itu kemudian diolah di mesin destilasi atau mesin penyulingan.
Proses penyulingan ini membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk menghasilkan cairan minyak gaharu berkualitas.
”Di tempat saya itu minimal prosesnya 50 kilogram untuk sekali suling. Hasilnya bisa sampai 300 sampai 500 mili liter/3 hari.
Jadi prosesnya itu maksimal tiga hari, kalau selebihnya itu aromanya akan sangit,” ujarnya sambil menunjukkan proses produksi di rumahnya.
Minyak gaharu milik Rochman ini dijual dengan berbagai ukuran. Mulai dari ukuran mili liter dengan botol kecil untuk kelas minyak gaharu medium.
Namun, untuk kelas ekspor, bapak anak satu itu hanya menjualnya dalam ukuran mili liter. Satu botol berisi 12 mili liter.
Untuk pasar ekspor, Rocham kerap mendapat permintaan dari Arab Saudi, Malaysia, Taiwan, Jepang dan negara-negara Arab lainnya.
Sedangkan untuk pasar lokal, permintaan kerap datang dari pesantren hingga pijat spa.
”Harga minyak gaharu untuk kelas medium per satu liternya Rp 1,5 - 2 juta, tergantung kualitasnya. Untuk yang istimewa khusus saya jual perbotol. Kelas ekspor kita jual perbotol ukuran 12 mili liter dengan harga Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung pasar dan kualitas,” kata Rocham.
Minyak gaharu ini kerap diidentikkan dengan aroma khas kawasan Timur Tengah. Bahkan, kata Rochman, banyak orang yang mempercayai minyak gaharu berupa wewangian surga.
Selain itu, minyak gaharu juga kerap dimanfaatkan orang untuk kebutuhan spa. Dan aromaterapinya bisa membuat ketenangan jiwa. ”Minyak gaharu ini banyak yang mencintainya.
Bahkan ada yang bilang gaharu itu adalah wewangian dari surga. Ada yang juga sebatas untuk aromaterapi, karena harum minyak gaharu ini bisa membuat tenang,” ucapnya.
Bisnis minyak gaharu ini, Rocham bisa menghasilkan keuntungan hingga belasan juta rupiah setiap bulannya. Bahkan, pada masa pandemi covid-19 ini tidak mempengaruhi omzetnya.
”Omzet untuk minyak saja bisa sampai Rp 15 juta, itu seluruh kelas. Untuk kelas biasa atau medium, sebulan bisa jual 10 hingga 15 liter. Untuk kelas super ini tergantung pasar, tidak bisa diprediksi,” pungkasnya
Editor : Rojiful Mamduh