JOMBANG – Ikan jendil dan rengkik khas sungai Brantas makin langka di Kecamatan Kesamben. Kini, yang sering ditemukan tinggal wader, keting, kutuk dan udang. ’’Sekarang sulit cari jendil dan rengkik, kalau ingin dapat harus pakai perahu,” kata Suciwati, salah satu pemilik warung di Desa Gumulan, Kecamatan Kesamben, kemarin (28/10/2020).
Dua tahun lalu ikan rengkik sangat mudah didapat dengan memancing. Meski sebenarnya dua jenis ikan itu dikenal luas. Namun karena ikan jenis itu jarang dibudidayakan, maka hanya bisa diharapkan dari sungai Brantas. ’’Sudah mulai jarang, kalau pun ada jumlahnya sangat sedikit,” ungkapnya. Karena tidak setiap hari ada ikan yang didapat, banyak pelanggan warungnya yang kerap balik kucing.
“Mulai sekarang harus pesan dulu, kalau pilihannya jendil dan rengkik. Itupun baru bisa dilayani kalau ikannya ada. Kalau wader dan bader, setiap hari pasti ada,” imbuhnya.
Ikan jendil misalnya, memiliki bentuk mirip ikan patin melalui ekornya yang tipis runcing. Ikan ini tergolong predator terhadap ikan-ikan lain. Sementara ikan rengkik, bentuknya hampir menyerupai ikan lele karena memilki patil di sisi kepala.
Keluhan terhadap menurunnya populasi ikan jendil dan rengkik juga diutarakan para pemancing di sungai Brantas. Imron, 53, salah satu pemancing mengaku penangkapan ikan dengan cara setrum listrik tak hanya menyasar ikan berukuran besar. Tapi juga ikan kecil yang baru saja menetas.
“Kalau pakai setrum memang lebih cepat dapat ikan, tapi juga berbahaya. Sudah beberapa bulan ini dapat ikan rengkik dan jendil sedikit sekali,” pungkasnya. (mar/bin/jif)
Editor : Rojiful Mamduh