Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Imam Ghozali AR, Pegiat Teater Kawakan di Jombang

Binti Rohmatin • Selasa, 1 September 2020 | 00:32 WIB
Imam Ghozali AR, Pegiat Teater Kawakan di Jombang
Imam Ghozali AR, Pegiat Teater Kawakan di Jombang

JOMBANG – Bagi kalangan teater, orang ini sangat tak asing. Bahkan dianggap berkaitan erat dengan sejarah panjang perjalanan teater di Jombang.


Selama puluhan tahun tokoh ini memang bergelut di bidang teater. Tak hanya menjadi aktor, namun juga sutradara. Banyak penghargaan di bidang ini yang berhasil diraihnya.


Ia adalah Imam Ghozali AR, kelahiran 28 April 1965 silam. “Saya asli Jombang,” ucapnya. Malang melintang di dunia teater profesional, Imam menyebut belajar kesenian dengan cara otodidak.


Perkenalannya dengan dunia seni peran, diawali dari kesukaannya menghadiri sejumlah pertunjukan teater tradisional semasa kecil.


“Meski kakek nenek saya fanatik, tapi kalau saya lihat ludruk, mereka tidak pernah masalah. Itu saja masih usia SD, jadi seru sama teman-teman itu,” lanjutnya.


Selain ludruk, beberapa kesenian mulai film bioskop di jaman itu hingga pertunjukan Gambus Misri, juga menjadi awal perkenalannya dengan dunia peran.


“Kalau Gambus Misri malah paman saya memang punya grup, jadi ya sering lihat. Kalau yang bioskop ini saya dulu selalu nonton setiap ada film baru, walaupun mencuri waktu,” kenangnya.


Imam mengaku mulai pertunjukan sebagai pemain drama, saat dirinya masuk ke tingkat sekolah menengah atas. Imam yang ketika itu memilih bersekolah di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) bertemu dengan beberapa orang, yang kemudian menjadi sahabat akrabnya dalam berkesenian.


“Ada sepuluh orang, semuanya belajar sendiri dan sharing antar teman saja karena memang tidak ada pelatih. Kami main biasanya mengisi acara sekolah. Hal itu kita lakukan terus sampai lulus,” imbuh Imam.


Lambat laun, kiprahnya di teater makin terasah. Ia kemudian mengikuti sejumlah pelatihan teater usai merampungkan pendidikan SPG. Imam juga harus membeli berbagai buku untuk menambah perbendaharaan dunia teater.


“Karena selain belajar, saya juga harus mulai melatih teater pelajar di beberapa sekolah,” ucap dia. Selain itu, kesukaan kepada kelompok Teater Gandrik asal Yogyakarta juga membuatnya makin berkembang.


Bahkan karena kecintaan pada kelompok yang digawangi aktor handal Butet Kartarejasa dan Djaduk Ferianto ini, Imam rela  mengikuti pentas di berbagai kota.


“Menurut saya cara mereka itu unik. Memakai cara tradisional dengan guyonan matraman namun diolah dengan sisi teater modern. Teater semacam ini yang kemudian saya rancang berbagai metode untuk diterapkan di beberapa sekolah,” lontar bapak dua anak ini.


Terus berkembang, Imam bersama sejumlah pegiat lain juga membuka Komunitas Tombo Ati. “Saya fokus di sutradara, jadi untuk main memang cuma dua kali. Tapi kalau sutradara teater sudah banyak sekali, ratusan mungkin ya,” ucapnya.


Hingga kini, ratusan pementasan teater di Jombang telah dilakoninya. Beberapa buku yang bermuatan kisah perjalanannya berteater, hingga berisi sejumlah reportoar teater telah ditulisnya. Sejumlah penelitian berkaitan budaya dan kesenian lokal juga telah dirampungkan untuk diwujudkan dalam naskah teater.


“Kami memang berusaha mengembangkan teater yang nilainya tidak jauh dari kesenian lokal. Bisa disaksikan tentu teater yang menggabungkan unsur wayang topeng Jatiduwur beberapa waktu lalu,” tambahnya.


 


 


Kenangan Manis Teater Pelajar


SEBAGAI orang yang melakoni dunia teater sejak puluhan tahun, Imam Ghozali mengaku punya kenangan tersendiri dengan teater pelajar. Menurutnya, perkembangan teater pelajar sangat menentukan bagaimana kesenian bisa tumbuh dan terus terjaga.


Alumnus Pascasarjana Filologi Universitas Padjajaran Bandung ini sejak 1980-an dikenal aktif juga dalam bidang pendampingan teater pelajar di Jombang. Baginya, pendidikan teater kepada pelajar penting. Selain berfungsi menjaring bibit-bibit baru dalam dunia teater, menurut Imam pembelajaran kepada pelajar akan lebih menjamin keberlangsungan kesenian.


“Pelajar itu infrastruktur. Kalau Jombang teaternya ingin marak, harus lewat pelajar dulu. Saya mulai dari SMA, baru ke SMP, dan ke SD. Setelah semuanya ada yang megang, baru saya geser. Dan hasilnya cukup memuaskan ketika itu, ” jelasnya.


Meski untuk teater sekolah, dirinya juga harus tetap menjaga ritme. Selain menyesuaikan waktu pelajar, Imam mengaku mengajar teater harus memerhatikan nilai yang diajarkan. “Artinya memang kita harus pintar-pintar berdamai, sekolah kan institusi formal, jadi kita harus tahu batasan. Misal untuk lakon kita pilih lakon yang aman, sampai waktu latihan juga diatur,” lontar Imam.


Ini ditunjukkan dengan  memulai karier sebagai pelatih teater di SMKN 1 Jombang. Kala itu dirinya mencoba melatih sejumlah siswa dengan metode sendiri yang ia pelajari dari banyak bidang. “Jadi metode juga mencoba membuat sendiri, berdasar buku dan hasil menonton beberapa pementasan,” terangnya.


Hasilnya juga cukup menggembirakan. Setelah dinilai berhasil melatih di satu sekolah, Imam meneruskan kerja dengan menggandeng sekolah-sekolah lain. Dalam kurun waktu beberapa tahun, dia mendirikan beberapa komunitas teater pelajar di banyak sekolah.


“Mulai dari SMEA Negeri, kemudian SMA 2, PGA (sekarang MAN 1), SMA PGRI, dan SMEA PGRI,” lanjutnya.


Ketika sekolah telah memiliki kelompok teater, Imam kemudian meneruskan dengan membentuk kelompok latihan gabungan bernama Kelompok Pembinaan Teater se-Jombang (Kelbin Terbang).


Meski sempat berjaya dengan anggota 32 kelompok dan memenangkan berbagai kejuaraan, baik tingkat Jombang hingga provinsi, kini kelompok ini tergerus dengan makin minimnya minat pelajar berteater.


“Kalau sekarang anak sekolah sudah tidak lagi punya banyak waktu belajar hal lain, selain pelajaran sekolah,” pungkasnya.

Editor : Binti Rohmatin